Yang Dicegat Flanker itu Rupanya Pesawat Angkut USSOCOM…

1-image

Kejadiannya sudah lama, dimana Su-27SKM TNI AU dalam patroli Thunder Flight yang berpangkalan di Batam dikabarkan berhasil mencegat pesawat Super King Air Tipe UC-12F milik US Navy di langit wilayah Natuna pada 23 September 2015. Su-27 dikabarkan berhasil tally ho pesawat pada peed 265, FL 260, SQ 0467/3 dan c/s CNV 7327, speed 245, FL 280, SQ 0413/3. Kedua pesawat dikawal keluar dari wilayah NKRI.

Pada kenyataannya, dari foto yang dilansir oleh TNI AU, nampak jelas bahwa pesawat tersebut bukanlah UC-12F milik AL AS. Dengan livery yang khas dan sepintas mirip N250 buatan PTDI dan bentuk yang lebih besar dari UC-12F, dapat dipastikan bahwa pesawat tersebut adalah C-146A Wolfhound yang merupakan pesawat transpor taktis milik USSOCOM (United States Special Operations Command) alias Komando Pasukan Khusus Amerika Serikat.

Pesawat ini diadopsi dari versi sipil Dornier 328 dan dibuat di AS oleh pabrikan Fairchild-Dornier dan dioperasikan oleh 524th dan 49th Special Operations Squadron yang bernaung di bawah Air Force Special Operations Command di Cannon Air Force Base. AFSOC mengoperasikan pesawat ini untuk melakukan operasi infiltrasi, eksfiltrasi, resuplai kargo, pengiriman logistik, dan misi militer lain ke lokasi-lokasi terpencil, berkat kemampuannya untuk mendarat di landasan rumput.

CH-146A sendiri dimodifikasi secara khusus oleh Sierra Nevada Corporation dengan nilai proyek sebesar US$200 Juta dan AFSOC sendiri memiliki 17 pesawat ini di dalam inventorinya. Avionik yang dipesan khusus untuk versi ini adalah Honeywell Primus 2000 Avionics System yang menampilkan display CRT untuk pilotnya. Ada pula sistem EFIS (Electronic Flight Instrument System), EICAS (Engine Indicating and Crew Alerting System) untuk memantau kondisi pesawat. Untuk beroperasi di tempat terpencil CH-146 juga dilengkapi Allied-Signal GTCP 36-150 APU (Auilliary Power Unit). CH-146A ditenagai oleh dua mesin turboprop Pratt & Whitney 119C yang masing-masing menghasilkan daya 2.180shp.

CH-146A mampu mencapai kecepatan jelajah 620km/ jam dan jarak jangkau 1.800nm dengan membawa kargo 1.000kg. Jadi pada saat dicegat, bisa jadi CH-146A sedang terbang dari wilayah Filipina atau Guam dalam tujuannya ke Singapura, dan memotong rute melewati wilayah Indonesia untuk menghemat bahan bakar. Yang jadi pertanyaan sebenarnya, kenapa TNI AU mengidentifikasi pesawat tersebut sebagai UC-12, sementara penanda (marking) pada pesawat tidak satupun yang menunjukkan statusnya sebagai pesawat AL atau Korp Marinir AS. Pesawat bahkan disamarkan dengan livery mirip pesawat sipil dan tidak menunjukkan satupun penanda militer kecuali nomor seri di ekor tegak pesawat, khas seperti pesawat untuk tujuan operasi khusus. Andai CH-146A tersebut dipaksa forced down, mungkin akan lebih banyak informasi dan rahasia yang bisa digali, walaupun ini mungkin bukanlah opsi demi menjaga hubungan baik kedua negara.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *