Su-32FN, Mendefinisikan Kata “Tempur” di Depan Kata Maritim

Su-32FN_45-600x265

Pada saat ini, ada berbagai macam pendekatan dan platform yang dapat digunakan untuk penegakan kedaulatan pertahanan maritim. Ada yang khusus pengawasan dan deteksi, ada yang kuat pada penindakan dan penghancuran, dan terakhir ada yang menggabungkan keduanya. Sebagian besar mengandalkan pada wahana pesawat angkut atau bizjet, bisa juga menggunakan helikopter sampai batas-batas tertentu. Bagaimana bila menggunakan pesawat tempur? Sebagian dari anda mungkin akan tertawa, membaca ide penggunaan pespur untuk patroli dan serang maritim. Yang terbayang, pesawat tempur yang melesat cepat, bagaimana harus berpatroli dan memburu kapal selam atau permukaan?

Ternyata, biro desain Sukhoi sudah lama menyiapkan varian Flanker untuk serang maritim. Jika Su-34 Fullback saat ini menjadi pesawat serang taktis – pembom terbaik dari Blok Timur, sesungguhnya di awal target Sukhoi sebenarnya justru membuat pesawat tempur dengan kapabilitas serang maritim, untuk menyasar frigat anti serangan udara milik NATO. Proyek tersebut diberi kode Su-32FN. Yang banyak diketahui orang, pesawat patroli maritim dan anti kapal selam AL Rusia biasanya adalah dari keluarga Tu-142 Bear F. Permasalahannya, dalam kondisi perang terbuka dimana armada NATO dan Amerika Serikat akan mengerahkan kekuatannya secara maksimal untuk melindungi battle groupnya, mengerahkan Tu-142 sama saja dengan menyuruh awaknya bunuh diri. Tu-142 yang besar itu tidak akan sanggup menghindar dari kejaran F/A-18E/F Super Hornet dan sudah tumpas sebelum mereka dapat mendekat.

Su-32FN menjadi platform satu-satunya yang dapat mengemban tugas tersebut, karena ukuran pesawatnya yang masif dan kemampuan gotong persenjataan dan avioniknya yang besar. Seperti yang kita ketahui, perangkat sensor dan mission suite untuk berburu kapal selam atau kapal permukaan biasanya banyak dan berukuran besar. Su-32FN dilengkapi dengan paket sistem avionik Morskaya Zmyeya (Naga laut). Paket ini terdiri dari perangkat pemburu kapal selam berupa sistem radio hidro akustik yang mampu mendengarkan sinyal dari sonobuoy yang dijatuhkan, sistem MAD (Magnetic Anomaly Detector), sistem elektro optik dengan fitur kamera siang/ malam, dan termal untuk mencari sasaran di permukaan, radar SAR (Synthetic Aperture Radar) dan ISAR (Inverse Synthetic Aperture Radar) untuk memetakan anomali di permukaan air ataupun di daratan. Radar SARnya memiliki cakupan sampai 320 kilometer untuk sasaran laut, dan 90km untuk sasaran udara. Sebanyak 32 sasaran sekaligus dapat dijejak oleh sistem dan dipilih oleh operator senjata. Sistem Morskaya Zmyeya ini juga menyediakan kapabilitas serang terintegrasi untuk menangani sasaran dengan pilihan persenjataan berupa torpedo, bom, atau rudal anti kapal.

NAPO-Su-34-2

Jika dilihat mission suite yang terpasang, Su-32FN sendiri memang memenuhi karakteristik untuk pesawat patroli maritim dengan sistem sensornya yang terpasang. Sistem elektro optik berbasis kamera sudah jamak digunakan oleh pesawat patroli maritim untuk mengidentifikasi sasaran di permukaan dan mengambil foto udara. Radar SAR/ISAR pun setali tiga uang, sistem ini biasa dipakai untuk memetakan kondisi permukaan untuk dianalisa oleh operatornya melalui tiga layar Multi Function Display yang tersedia. Yang jelas, karena hanya dikendalikan oleh seorang awak, navigator/ juru senjata/ spesialis misi akan sangat sibuk mengamati input dari setiap sensor yang tersedia. Untung saja Su-32FN punya fitur kursi pijat untuk mengurangi kelelahan awaknya.

Khusus untuk berburu kapal selam, Su-32FN dapat menggunakan pod canister sonobuoy yang dapat membawa sampai 72 unit sonobuoy yang bisa dijatuhkan ke lokasi dimana diduga ada kapal selam lawan yang beroperasi. Setelah sonobuoy dijatuhkan, tugas spesialis misi yang akan menganalisa hasil sinyal akustik yang tertangkap oleh sistem Morskaya Zmyeya melalui datalink. Apabila memang ada kapal selam, Su-32FN dapat mengeksekusinya dengan sistem torpedo udara APR-3E/3 ME yang memiliki kualifikasi maksimal sea state 6 untuk penjatuhannya ke dalam air. Pada saat Su-32FN akan menjatuhkan torpedo, pilot sudah pasti harus piawai mengendalikan pesawat pada kecepatan dan ketinggian rendah untuk memastikan torpedo yang dijatuhkan langsung menyelam dan tidak memantul di permukaan air. Begitu masuk air, APR-3E akan menyelam dan berenang dalam pola spiral sedalam 100 meter sembari sistem hidro akustiknya memastikan sinyal yang cocok dengan suara yang didengar oleh operator di atas Su-32FN. Begitu terdeteksi, barulah APR-3E akan menyalakan sistem propulsi turbo hidrojetnya, melesat menuju sasaran dengan kecepatan 100km/ jam di dalam air. Menurut situs ausairpower, Su-32FN dapat membawa sampai empat torpedo kelas APR-3E.

Airborne lightweight torpedo APR-3E
Airborne lightweight torpedo APR-3E

Su_32FN_torpedo

Sementara untuk sistem persenjataan anti kapal, komplemen dari Su-32FN terdiri dari rudal udara permukaan yang dapat dibawa oleh generasi Flanker lainnya. Daftarnya mencakup Kh-31A/R, Kh-59M/D atau Kh-59MK yang memiliki sistem pemandu optik atau radar, rudal supersonik Kh-41 Moskit yang satu kali hantamannya dapat langsung menenggelamkan kapal kelas frigat dan bahkan destroyer. Su-32FN juga mengandalkan radar Leninets B004 yang didesain khusus untuk sasaran permukaan sebagai primer dan udara sekunder. Untuk deteksi sasaran besar, B004 bisa mendeteksi dari jarak 250km, serta pemetaan permukaan sampai 150km atau bila lebih diakuratkan dengan doppler sharpening mencapai 75km. Untuk pertahanan diri, Su-32FN dapat membawa rudal seperti R-73 dan R-77M. Karena menggunakan tail stinger berukuran besar (yang kemudian diturunkan untuk generasi Su-34 Fullback yang diproduksi massal), Su-32FN sebenarnya menjadi pesawat serang maritim yang dilengkapi dengan sistem kendali penembakan/ radar N012 yang menyediakan aspek look back atau penguncian sasaran yang mengejar dari belakang.

Saat ini, status program Su-32FN sedang berada dalam masa pembekuan karena kurangnya minat dari AU atau AL Rusia. Nomenklatur Su-32FN pun hanya digunakan di publik pada saat Paris Air Show 1994. Dengan platform yang sangat spesifik, AU Rusia tentu memilih Su-34 Fullback yang memiliki kemampuan serupa tetapi lebih luas cakupan misinya. Sementara itu, AL Rusia mempertahankan Su-24M dan membeli Su-30SM. Selama pendanaan cukup, rasa-rasanya program dan spesifikasi Su-32FN dapat dihidupkan kembali. Mungkin ada negara yang membutuhkan pesawat tempur maritim barangkali?

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *