ST Kinetics Bionix 2 vs NG-AFV, Kenapa Harus Dua Jenis Wahai Singapura?

Pengumuman Menteri Pertahanan Singapura yang menyatakan bahwa M113 Ultra akan digantikan oleh NG-AFV (Next Generation-Armored Fighting Vehicle) mungkin terdengar biasa, layaknya angkatan bersenjata sebuah negara memodernisasi alutsistanya. Yang jadi tidak biasa, AD Singapura sudah memiliki ranpur Bionix yang kemudian ditingkatkan kemampuannya menjadi Bionix 2. Singapura adalah salah satu negara dengan perencanaan militer yang cermat, terarah, dan jelas dalam jangka menengah maupun panjang.

rival bionix yg bener

Kalau bicara jumlah, AD Singapura tidak pernah menyebut secara eksplisit jumlah alutsista seperti pesawat, tank, atau ranpur yang dimiliki. Maklum, sebagai negara paling kecil, Singapura memilih rendah hati, walau sebenarnya soal kesiapan dan kecanggihan alutsistanya adalah nomor satu di Asia Tenggara. AD Singapura dikabarkan memiliki sampai 1.000 unit M113, sekitar 300-450 diantaranya dikonversi ke standar M113 Ultra. Perkiraan ini datang dari Jane’s Defense, yang pada 1997 melaporkan bahwa Singapura membeli 300 unit sistem bidik MUGS dari Electro Optics Pty Ltd di Australia untuk dipasang ke sistem kubah 40/50. 150 lainnya menggunakan sistem kubah tanpa awak Rafael OWS 25mm Bushmaster II. Seluruh M113 Ultra dimodifikasi oleh CIS (sekarang ST Kinetics) mulai tahun 1995-1998.

Baca juga:

Bersamaan dengan saat AD Singapura menerima M113 Ultra, pada waktu yang bersamaan ranpur Bionix yang merupakan hasil kerja bareng DSTA, Kementerian Pertahanan, dan AD Singapura sudah menyelesaikan ujicoba dan masuk tahap produksi, unit pertama diterima pada tahun 1997. Bionix merupakan kendaraan tempur modern buatan Singapura pertama yang sejajar dengan produk-produk buatan negara NATO, namun disesuaikan dengan kondisi setempat. Dimensi dari Bionix dipastikan aman untuk melewati seluruh jalan dan jembatan yang ada di Singapura. Versi Bionix dengan kubah 40/50 masih muat masuk ke dalam C-130H untuk mendukung mobilitasnya.

Bionix II (copyright MinDef)
Bionix II (copyright MinDef)

Dari sisi kemampuan untuk bertahan, Bionix dilengkapi dengan lapisan perlindungan komposit MEXAS buatan IBD Deisenroth. Kemampuan ofensifnya disediakan dari kubah dengan kanon otomatis 25mm M242 Bushmaster, setara dengan ranpur M2 Bradley. Pada tahun 1997, ST Kinetics pun melansir Bionix II, varian penyempurnaan dengan perkuatan pada sistem senjata dengan mengganti kanon 25mm menjadi kanon Orbital-ATK 30mm Bushmaster II. Sistem bidiknya disempurnakan dengan sistem bidik kamera termal plus laser rangefinder untuk meningkatkan akurasi penembakan. Bionix II juga menjalani penyempurnaan pada sistem manajemen pertempuran, dengan menjadi ranpur pertama Singapura yang mendukung digitalisasi sistem manajemen pertempuran.

ST Kinetics sendiri aktif menawarkan Bionix/ Bionix II ke negara-negara yang berencana mengganti M113 mereka. Pesannya jelas, kendaraan tempur ini memang didesain sebagai lompatan berikutnya dari M113 yang memang sudah tua itu. Bila 20 tahun kemudian AD Singapura berencana memensiunkan M113 Ultra, kenapa kemudian memunculkan NG-AFV sebagai penggantinya? Bukankah dari segi kemampuan Bionix II sudah melebihi ekspektasi dan sudah selaras dengan kemampuan yang diinginkan AD Singapura? Dengan menambah NG-AFV untuk Resimen lapis bajanya, AD Singapura di permukaan terlihat tidak berhasil menyederhanakan jenis kendaraan tempur yang ada, dan malah ada situasi dimana ada tiga jenis ranpur yang harus dipelihara: Bionix II, NG-AFV, dan M113 Ultra sampai seluruh proses konversi dapat dilakukan dan seluruh M113 Ultra dipensiunkan.

Copyright: MinDef
Copyright: MinDef

Di luar dimensi NG-AFV yang lebih besar, kemampuan tempur Bionix II dan NG-AFV cukup setara. Bahkan kalau ditimbang-timbang, NG-AFV yang bobotnya besar itu justru akan lebih sulit dimobilisasi, dengan kondisi AU Singapura yang tidak memiliki armada angkut berat. Lalu apa yang menjadi pertimbangan utama untuk memperkenalkan lini ranpur NG-AFV? IndoMIL merasa bahwa di luar pertimbangan operasional, ada sasaran bisnis yang ingin dicapai. Di belahan bumi selatan ada program LAND 400 yang sangat menggiurkan, dimana AD Australia akan membeli dua jenis ranpur: roda ban untuk menggantikan ASLAV (Fase 2) dan roda rantai sebagai pengganti M113AS4.

LAND 400 Fase 3 (Close Combat Capability) terhitung paling menggiurkan, total ada 450an ranpur dalam berbagai jenis konfigurasi yang akan dibeli, dengan basis berupa kendaraan tempur roda rantai dilengkapi kubah yang memiliki proteksi tingkat tinggi, serta mampu mengikuti gerak M1A1A Abrams, mampu mengangkut delapan orang prajurit bersenjata lengkap. Dalam dokumen RFI (Request For Information) Land 400 Fase 3, AD Australia hanya akan membeli teknologi yang sudah matang dengan kemungkinan pengembangan, untuk meminimalkan resiko.

LAND 400 RFI 1

ST Kinetics yang saat ini berpartner dengan Elbit Australia baru memiliki solusi Sentinel II (Terrex 3) untuk LAND 400 Fase 2, dan STK tidak memiliki kandidat untuk ditawarkan pada Fase 3. Mengajukan Bionix II rasanya cukup sulit, karena walaupun sesuai spek Singapura, nampaknya Bionix II terlalu sempit untuk mengakomodasi postur prajurit Australia yang lebih besar. Kunci keikutsertaan STK pada LAND 400 Fase 3 tertumpu pada NG-AFV, yang dibangun dengan diarahkan untuk memenuhi spek yang diajukan oleh AD Australia. Dengan mengadopsi NG-AFV ke dalam AD Singapura, STK sudah memenuhi syarat RFI dimana AD Australia mencari teknologi yang sudah matang yang diterjemahkan sebagai sudah pernah digunakan secara operasional oleh suatu negara. Selebihnya, level proteksi dan tenaga mesin yang dibenamkan pada NG-AFV pun jauh lebih besar dari Bionix II.

LAND 400 RFI2

Dan jika melihat dari spek teknik terbatas yang dibagikan MinDef, dengan mengalikan rasio tenaga dibandingkan bobot, didapatkan bahwa NG-AFV menggunakan mesin dengan daya berkisar pada 700hp. Mungkinkah ini mesin Caterpillar C13 berdaya 711hp yang terpasang pada Sentinel 2? Ikuti terus bahasan mengenai NG-AFV hanya di IndoMIL, yang akan diupdate apabila ada informasi baru yang tersedia.

Comments

comments

One thought on “ST Kinetics Bionix 2 vs NG-AFV, Kenapa Harus Dua Jenis Wahai Singapura?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *