Serbuan SAS di Sierra Leone: Maut Datangnya dari Atas

Kemerdekaan adalah awal dari segalanya. Impian akan harapan, kebebasan, dan masa depan seolah terbentang luas begitu satu negara memperolehnya. Namun tidak begitu dengan kasus Sierra Leone. Sejak merdeka pada 27 April 1961, pelan-pelan negara ini terjerembap dalam bencana. Kudeta militer silih berganti, dibiayai oleh blood diamond.
PBB akhirnya tertarik dalam pusaran kekacauan Sierra Leone pada 1999, bersamaan dengan diloloskannya Resolusi 1270 yang mengirimkan 6.000 pasukan penjaga perdamaian dibawah pimpinan India. Langkah ini dipertegas dengan pembentukan UNAMSIL (United Nations Mission in Sierra Leone) pada Februari 2000. Namun langkah ini dipandang tak cukup, dan pemerintahan Presiden Kabbah dirongrong oleh wakilnya sendiri, Foday Sankoh, yang merupakan pemimpin milisi brutal RUF (Revolutionary United Front).

Tidak sampai satu semester, UNAMSIL terbukti hanya macan kertas. Satu batalyon pasukan Zambia takluk dalam pertempuran dengan RUF pada Mei 2000. Pemerintah Inggris yang punya kepentingan melindungi 1.300 warganya di Sierra Leone, mengirimkan kontingen 1st Battalion The Parachute Regiment (1 Para). 1st Batt tidak diperkuat A Company yang sedang menjalani rotasi di Jamaika, sehingga mereka diperkuat D Coy, 2nd Battalion The Parachute Regiment dibawah pimpinan Major Andy Charlton. Gabungan keduanya disebut 1st Battle Group (BG), dan anggotanya diterbangkan ke Sierra Leone dalam tajuk operasi Palliser yang merupakan operasi NOE (Non-combatant Evacuation Operation). Diluar kontingen pasukan para ini, masih ada tim STTT (Short term Training Team) dari 1st battalion Royal Irish Regiment (RIR) yang melatih SLA (Sierra Leone Army) yang mulai bertugas pada 22 Juli. Baru sebulan bertugas, terjadilah insiden yang memaksa Inggris menggelar operasi tempur bersandi Barras.

Pada 25 Agustus 2000, satu patroli dari RIR yang berkekuatan 2 Land Rover dan 1 WMIK (Weapons Mount Installation Kit)-Land Rover yang dipasangi Browning M2HB, sedang mengitari desa Magbeni. Penumpangnya berasal dari C Coy, 1 RIR yang dipimpin Mayor Alan Marshall. Anggotanya adalah RSO Kapten Flaherty, CSM Sgt. Smith, Kopral Musa Bangura dari SLA, Kopral Sampson, Ryan, dan Mackenzie, serta Prajurit Guant, Mc Veigh, dan Rowell. Iring-iringan tersebut baru keluar dari pertemuan dengan kontingen Yordania, ketika mereka dicegat oleh West Side Boys, salah satu geng bersenjata di Sierra Leone. Pimpinannya, Foday Kallay, muncul dari desa Gberi Bana diseberang sungai Rokel. Kallay menuduh kontingen Inggris tidak meminta ijinnya untuk melintasi Magbeni, dan oleh karena itu, ia berhak menawan seluruh pasukan Inggris. Puluhan anggota WSB mengerumuni para prajurit Inggris, memukuli dan menawan mereka semua, melucuti perlengkapan dan seluruh barang berharga seperti cincin kawin, dan memberikannya pada Kallay. Kallay memandangi pampasan perangnya dengan rasa bangga, cincin-cincin emas para prajurit Inggris kini melingkar di jari-jarinya. Ia hanya tidak tahu, nasibnya sudah ditentukan saat itu.

foday kallay

Berita penawanan patroli Inggris dengan cepat sampai ke markas karena Kapten Flaherty sempat mengabari dengan radionya. Inggris mencoba bersabar dengan mengirimkan negosiator, dipimpin Letkol Simon Fordham, CO 1 Royal Irish. Ia dibantu 2 negosiator dari Met (Metropolitan Police). Dari hasil penilaian mereka,Kallay dianggap tak bisa dipercaya dan emosinya labil. Tuntutan Kalay juga tak bisa dipenuhi, karena ia menuntut pembebasan Foday Sankoh yang ditahan oleh pemerintah Sierra Leone saat RUF membantai 3.000 demonstran.

Pada 29 Agustus, Letkol Fordham bertemu lagi dengan Kallay, yang kali ini membawa dua prajurit Inggris yang ditawan sebagai bukti bahwa seluruh tawanan dalam keadaan sehat. Salah seorang diantaranya, Kapten Flaherty, memberi hormat dan menjabat tangan Fordham, sembari menyelipkan sesuatu. Saat pertemuan selesai, Fordham membuka benda yang diselipkan Flaherty: potongan tabung bolpoin yang berisi peta detail mengenai posisi gubuk-gubuk di sekitar Magbeni, dan posisi dimana mereka ditawan. Tanggal 31 Agustus 5 prajurit dibebaskan, ditukar dengan obat-obatan dan telpon satelit. Tanpa diketahui Kallay, telpon ini disadap sehingga posisinya dapat diketahui dengan mudah.
Sementara itu, nun jauh di tanah airnya, publik Inggris mulai resah dengan mulai merebaknya kabar penyanderaan kontingen Inggris. Pemerintah Inggris berupaya menyabarkan rakyatnya, dan meminta kesabaran ekstra karena negosiasi masih berjalan. Pada awal Juli, dua negosiator dari SAS memperkuat tim Letkol Fordham dalam kerahasiaan penuh, mereka menyamar dalam seragam perwira 1 RIR. Di London sendiri, PM Tony Blair mulai memikirkan opsi operasi DA (Direct Action).

Segala persiapan mulai dilakukan. 2 helikopter Lynx Mk.7 milik AD Inggris dikirim menggunakan C-130 Hercules RAF dan dirakit di bandara Lungi, kemudian diterbangkan ke HMS Argyll yang buang sauh di lepas pantai. Tanggal 30 Agustus, sinyal operasi mulai dikirimkan ke HQ 1 Para di Connaught Barracks, di Kent. Mayor Matthe Lowe, komandan dari A Coy yang tidak turut serta dalam operasi Palliser, diperintahkan menggerakkan 140 anggotanya untuk standby melancarkan operasi penyelamatan. Mayor Lowe menyusun kekuatannya kedalam Coy HQ dan tiga peleton senapan berkekuatan 2 L7A2 “Gimpy” GPMG per seksinya. Dalam keadaan biasa, tiap seksi hanya diperkuat L86 LSW, tapi kali ini semua kebagian Gimpy dengan tiap peleton dijatah 6.000 peluru 7,62x51mm. Ini masih ditambah lagi dengan 170 granat L2 HE dan WP, serta 50 peluru mortir 51mm. Peralatan individu lainnya yang juga dibawa adalah ranjau antipersonil M18A1 Claymore dan granat senapan. A Company akan menjadi kekuatan penyekat bagi tim SAS yang akan melancarkan operasi pembebasan. Seluruh personil yang akan ikut dalam operasi disita ponselnya saat Mayor Lowe memberikan taklimat akhir di dalam hangar di Glouchestershire.

Plan of Attack
Plan of Attack

Plan of Action
Pada dasarnya ada dua rencana pembebasan sandera: satu adalah operasi senyap membebaskan sandera saat semua anggota WSB terlelap, dan yang lainnya adalah operasi pendadakan. Operasi senyap langsung dibatalkan karena tidak feasible-lokasi disekitar Magbeni dan Gberi Bana dikelilingi bukit, dan ada blokade di jalan menuju kesana. Tak mungkin mencapai Gberi Bana tanpa membuat para anggota WSB terjaga. Operasi pendadakan dengan helikopter dirasa lebih mungkin untuk menjaga unsur kecepatan dan kejutan. Pilihan atas operasi pendadakan akhirnya membawa ke-130 anggota A Coy untuk bergabung dengan kontingen D Squadron, SAS di kamp Hastings, di kaki gunung Peninsula. Suasananya seperti reuni, karena banyak anggota D Squadron yang tadinya berasal dari 1 Para yang ‘naik kelas’. Tiap hari diisi dengan latihan menembak, mengasah kemampuan mereka sambil menunggu hasil negosiasi.

Disaat yang sama pula, SAS sebenarnya sudah bergerak. Satu tim aju berkekuatan 4 orang berkode SGB (Sierra Green Bravo) sudah memasuki area disekitar Gberi Bana dengan merenangi sungai Rokel yang keruh dan kotor. Tim lain, SGA (Sierra Green Alpha), mengintai disekitar Magbeni. SGA berkekuatan enam orang, dan mereka bahkan berhasil menyusup sampai pinggiran desa. Rasa nyaman menjadi hal terakhir yang mereka rasakan. Berendam dalam lumpur rawa, dihinggapi nyamuk dan lintah, bertahan dengan air dan roti dingin. Berdasarkan laporan mereka, ada dua lokasi pendaratan yang bisa menampung heli sebesar Chinook, di sisi timur atau di sisi tenggara. LZ di tenggara yang berbatasan dengan pinggiran desa dan hutan dipilih, karena memberi ruang gerak bagi pasukan yang kelak akan mendarat. Setelah semuanya dipastikan, Inggris siap membalas…dengan keras.
Hari pembalasan tiba

Inggris akhirnya kehabisan kesabaran pada 9 September. Setelah menghadapi tuntutan yang terus berubah, Kallay akhirnya menuntut bahwa harus dibentuk pemerintahan sementara sebelum keenam sandera dapat dibebaskan. Sadar bahwa tuntutan ini tak masuk diakal, dan kemungkinan bahwa sandera Inggris akan diserahkan ke RUF, COBR (Cabinet Office Briefing Room- gabungan grup pemerintah yang menangani krisis) memutuskan bahwa operasi pembebasan harus segera dilancarkan. Minggu pagi menjadi pilihan, dan PM Tony Blair yang sedang berlibur di Chequers dikabari dan memberikan ijin untuk kedua kalinya.

Sore harinya, perintah operasi disampaikan ke A Coy dan D Squadron di kamp mereka di Hatings. Seluruh prajurit memeriksa kembali perlengkapan mereka. Baik 1 Para maupun SAS mengenakan peralatan yang relatif serupa, tidak ada pembedaan. Seragam DPM (Disruptive Pattern Material) tropis, helm standar pasukan Inggris, PLCE webbing dan PLCE day pack. Semua mengenakan rompi anti peluru standar CBA, dan membawa bekal minimal, untuk menghemat bobot. Bedanya, jika para prajurit Paras menggunakan senapan serbu L85A1, SAS memilih Diemaco C7A1 dan C8A1 yang merupakan turunan M16A2.

Pukul 05.00 tanggal 10 September, matahari belum lagi terbit ketika seluruh personil A Coy sudah berbaris memasuki ramp door CH-47 Chinook Mk.3 yang akan membawa mereka ke LZ. Tiap prajurit sudah hapal diluar kepala lokasi para sandera. Gubuk yang diberi sandi White House, tepat di ujung terjauh dari LZ. Disamping Chinook ada 2 Lynx Mk.7 yang juga siap lepas landas. Pilot-pilotnya sibuk memasang optik pandang malam SS600 Series 3 TIS ke helm mereka, begitu pula penembak minigun yang terpasang di Lynx. Informasi dan koordinat LZ sudah dimasukkan dalam GPS, jadi mereka tinggal mengikuti rute terbang yang sudah dirancang sebelumnya.

Dua Chinook dan Dua Lynx terbang sangat rendah, dipimpin oleh satu Mi-24 Hind yang diterbangkan oleh seorang pilot bayaran. Para pilotnya hanya mengandalkan optik malam, dan semua terlihat berpendar hijau dan berkelebat menjadi bayangan saat heli menyusuri sungai. Di Gberi Bana, tidak ada pertanda akan adanya serbuan hebat. Bunyi jangkrik bersahut-sahutan meningkahi subuh yang dingin itu. Seluruh anggota WSB tertidur dalam pengaruh ganja dan minuman keras.

dsasx

Pukul 06.40, sayup-sayup terdengar bunyi rotor helikopter. Pada saat itu, keenam anggota tim observasi SGA juga bergerak melintasi rawa untuk mendekat ke White House. Pekatnya lumpur menghambat pergerakan mereka, dan mereka mempercepat gerakannya agr tiba tepat saat helikopter ada diatas Gberi Bana. Sementara itu, keempat helikopter terpaksa memutar sampai tim SGA tiba di dekat White House untuk menghabisi para penjaganya. Tidak sampai lima menit, radio interkom di helm pilot menerima kode bahwa SGA sudah tiba di posisi. Waktunya telah tiba.
Kedua Chinook memisahkan diri, yang membawa 1 Para berhenti diatas Magbeni, sementara yang berisi SAS melayang diatas Gberi Bana. Begitu kuatnya hembusan downwash dari rotor, atap-atap seng berterbangan. Ketenangan pagi itu berubah meriah berkat pesta kembang api dari flare yang ditembakkan Chinook, bukan untuk mencegah rudal anti-pesawat, tapi untuk menciptakan kepanikan diantara anggota WSB. Para penjaga di White House keluar untuk melihat apa yang terjadi, hanya untuk rubuh satu-persatu berkat tembakan berperedam anggota SAS-SGA yang bersembunyi di semak 50 meter jauhnya dari gubuk.

Pilot Chinook berusaha keras menstabilkan helikopternya, dan dalam waktu yang singkat tersebut masih bisa menggoyangkan badan heli untuk menghindari tembakan RPG-7 yang diarahkan kepadanya. Satu persatu, tiap prajurit SAS dan 1 para meraih tali dan melakukan fastroping, tangan mereka yang mengenakan sarung tangan kulit tetap terasa panas saat bergesekan dengan tali. Penembak minigun didalam Chinook sibuk menembaki apa saja yang bergerak dibawah. Seluruh anggota SAS mendarat dengan selamat, kecuali Trooper Bradley Tinnion, anggota SAS yang mengikuti Barras sebagai misi operasional perdananya. Sebutir peluru menembus dadanya dan keluar dari bahu. Ia roboh dan dievakuasi ke kapal Sir Percivale, namun akhirnya gugur.

Sementara itu, anggota SAS lainnya segera terlibat kontak tembak seru, menyebar dan membersihkan tiap gubuk. Pria, wanita, tua dan anak-anak, semua yang menyandang senjata adalah kombatan, dan berarti ancaman. Dalam keadaan genting di medan pertempuran, insting mengalahkan perasaan, para personil SAS menembak tanpa memikirkan siapa yang mengarahkan moncong senjatanya. Setiap ada perlawanan keras, dibereskan dengan pelontar granat 40mm M203. Para anggota SGA sudah mengamankan perimeter White House dan mulai mengeluarkan para sandera prajurit Inggris, yang lainnya mencari Kopral Musa Bangura yang harus dipapah karena sudah tak mampu berjalan akibat disiksa. Dari gubuk Kallay, para personel SAS menyeret keluar dua pria dan menaikkannya ke Chinook yang menunggu. Dalam 20 menit, seluruh personil SAS sudah kembali kedalam Chinook.
Magbeni

Pada saat yang nyaris bersamaan dengan SAS yang melakukan fastroping, Chinook kedua yang membawa dua peleton 1 Para mulai mengeluarkan muatannya. Para prajurit 1 Para yang mengira akan mendarat di tanah yang empuk, terperosok kedalam rawa yang dalamnya sedada. Data yang disuplai oleh tim observasi dari SAS ternyata salah! Tapi tidak ada waktu untuk mengeluh dan meratap, para prajurit Para melangkah dengan pasti melintasi rawa, langkah-langkah berat sejauh 150 meter sampai ke tepian. Semua bergerak dalam formasi menyebar, berusaha mencapai barisan pepohonan secepat mungkin, sementara Chinook berputar kembali ke Hastings untuk menjemput sisa pasukan yang tak terangkut.
Karena di Magbeni tidak ada pasukan kawan atau sandera, Lynx dan Hind bebas beraksi. Hind milik SLA diterbangkan oleh veteran tentara bayaran dari perusahaan Sandline Corp, Neil Ellis. Mantan penerbang AU Afrika Selatan ini menerbangkan Krokodil dengan lincah, membawanya menari sambil menyemburkan roket 57mm dan tembakan kanon multilaras YakB 12,7mm. Lynx juga melayang lincah, penembak samping menggunakan minigunnya untuk menyapu sasaran yang bergerak. Berkat dukungan artileri udara, satu persatu para prajurit 1 Para berhasil menepi dan mencapai objektif Zulu, target pertama mereka.
Namun saat bergerak ke titik yankee, perlawanan makin menghebat, anggota West Side Boys mulai berkumpul setelah helikopter serang darat harus berputar kembali. Gimpy mulai diturunkan, dan tembakan dikonsentrasikan. Fakta bahwa sabuk peluru baru terendam lumpur dan rerumputan tidak lantas memacetkannya, Gimpy menyalak dengan pasti, menyingkirkan siapa saja yang menghalangi lintasannya. Beberapa roket M72 LAW ditembakkan kearah gubuk-gubuk yang menjadi persembunyian. Lawan pun makin gencar membalas, kali ini dengan mortir. Beberapa prajurit, termasuk Mayor Lowe, menjadi korbannya. Terluka akibat pecahan mortir, komando diserahkan ke Kapten Matthew yang langsung mengambil alih. Yang terluka dikumpulkan, granat asap oranye dilemparkan. Chinook mendarat di tengah desa, mengangkut semua yang terluka untuk dievakuasi ke Sir Percivale. Sisanya membereskan objektif Whiskey, Victor, Uniform, dan Tango. Depot munisi WSB berhasil diledakkan, begitu pula 3 Technicals dan 1 ZPU-14 yang dipasang diatas satu truk Bedford.

Pukul 08.00, Magbeni sudah dibersihkan, tiada lagi perlawanan dari anggota WSB. Korban mulai didata, 24 tewas dari pihak WSB, termasuk 3 wanita. 15 pria dan 3 wanita anggota WSB berhasil pula dibawa untuk diinterogasi. Satu diantaranya adalah Foday Kallay, yang baru bisa dikenali setelah para sandera prajurit Inggris diminta untuk mengidentifikasinya. Proses evakuasi SAS dan 1 Para berlangsung lancar, dan semua yang bertempur dikumpulkan di Sir Percivale. Pada 11 september, seluruh eks sandera sudah mendarat di Inggris untuk berkumpul bersama keluarga masing-masing. Operasi gabungan ini berhasil dieksekusi dengan sangat apik oleh para prajurit pemberani 1 Para dan D Squadron, 22 SAS berkat perencanaan yang baik, eksekusi yang matang, dan timing yang tepat.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *