Punya Helikopter Pribadi Bukan Lagi Impian (Sebentar Lagi)

Ini mungkin sedikit melenceng dari domain kemiliteran yang dibahas oleh IndoMIL, tetapi ini terlalu bagus untuk dilewatkan 

Ayah, sore ini indah sekali, maukah engkau membawaku untuk melihat matahari terbenam dari atas sana?
Ayah, sore ini indah sekali, maukah engkau membawaku untuk melihat matahari terbenam dari atas sana?

Pernahkah anda membayangkan punya helikopter pribadi? Ketika anda butuh untuk pergi ke suatu tempat, dan anda tinggal naik dan kemudian terbang ke tujuan, bebas dari kebosanan saat harus mengalahkan kemacetan. Atau belanja bulanan ke hypermarket yang letaknya di pinggir kota? Pernah membayangkan untuk membuat drone yang baru saja anda beli dan sedang asyik-asyiknya dimainkan menjadi besar dan anda bisa naik di bawahnya? Atau anda ingin membuat kecan pertama anda terpesona dan berteriak ‘wow!’ ketika anda membawanya terbang tinggi dan menggapai bintang-bintang di Angkasa?

Mungkin jawaban dari pertanyaan anda tersebut sebentar lagi bisa terjawab dengan inovasi dari perusahaan Jerman bernama e-volo. Konsepnya meniru bagaimana drone telah merubah tata cara kehidupan manusia – memberikannya perspektif baru bagaimana kita melihat dunia. E-volo merasa bahwa perjalanan udara di masa mendatang haruslah seperti mobil merevolusi kehidupan: murah dan semua orang bisa memakainya. Berangkat dari teknologi drone, e-volo menyempurnakannya menjadi wahana terbang untuk orang.

Pendiri perusahaan e-volo berpose di kokpitnya
Pendiri perusahaan e-volo berpose di kokpitnya

Produk mereka disebut Volocopter VC200, multicopter pertama di dunia yang digerakkan dengan tenaga baterai, dan mampu mengangkut manusia. Dengan sepenuhnya mengandalkan listrik, Volocopter betul-betul tidak menghasilkan emisi, terbangnya senyap, dan sangat mudah diterbangkan sehingga sesuai untuk konsep kehidupan hijau. Software E-Volo sendiri diciptakan oleh Ascending Technologies, perusahaan yang saat ini dimiliki oleh perusahaan chip Intel.

Bentuk Volocopter sendiri nampak seperti cangkang telur yang diikat di bawah jaring laba-laba. Cangkang telur tersebut adalah kokpitnya, dan jejaring fiber tersebut adalah rangka untuk mesin-mesin berjumlah 18 buah yang masing-masing menggerakkan bilah baling-baling. Karena tiap baling-baling saling bergerak kontra rotasi, tidak dibutuhkan batang ekor dan rotor ekor untuk menyeimbangkan torsi Volocopter. Sumber tenaga untuk baling-baling tersebut adalah sembilan baterai kering yang dapat diisi ulang. Walaupun sumber tenaganya hanya baterai, Volocopter dapat terbang dengan kecepatan 80km/ jam, kurang lebih sama dengan kecepatan mobil di jalan perkotaan saat kondisi tidak macet.

Panel informasi dan joystick kontrol VC200, terlihat sederhana bukan?
Panel informasi dan joystick kontrol VC200, terlihat sederhana bukan?

Yang membuat teknologi Volocopter dekat dengan orang awam adalah simplifikasi sistem kendalinya, yang dibuat menyerupai drone. Saat input kontrol dilepaskan, Volocopter akan secara otomatis terbang statik dan menyeimbangkan dirinya, tanpa perlu diatur sang pilot. Jadi pilot cukup mengatur arah kemana yang dituju, dan sistem autopilot akan menjaga agar Volocopter tidak keluar dari flight envelope yang aman. Seseorang hanya butuh beberapa menit untuk dapat menerbangkan Volocopter, tidak berjam-jam sampai bisa terbang solo. Seluruh informasi yang dibutuhkan, seperti GPS, jumlah daya tersedia, horison buatan, dan kondisi mesin disediakan oleh dua layar panel LCD berwarna yang mudah dilihat.

volocopter_rotor-e1460651802276

Sama pula seperti teknologi drone yang kini terjangkau, e-volo hendak menjual Volocopter dengan target harga 250.000 euro atau setara dengan RP 3,7 Milyar, miriplah dengan harga satu buah supercar. Cukup terjangkau sih, untuk orang yang kantongnya tebal. Biaya perawatannya juga minim, karena e-volo memang meminimalkan komponen bergerak.Targetnya, Volocopter sudah dapat dijual mulai tahun 2018. Saat ini e-volo sedang memikirkan cara supaya Volocopter bisa dilipat dan disimpan di garasi rumah. Jika V-200 laris terjual, E-volo sudah menyiapkan varian lain seperti VC100 yang tanpa kokpit, lebih kecil dan terjangkau, dan varian yang muat ditumpangi empat orang. Sekarang tinggal regulator saja, apakah bisa menerima moda transportasi udara seperti Volocopter. Penggunaan untuk militer bagaimana? Dengan suara yang senyap, Volocopter bisa digunakan sebagai wahana alternatif untuk penyusupan ke garis belakang lawan (sedikit memaksa sih).

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *