PTDI N219 versus Harbin Y-12F, Persaingan Berat di Kelas Light Passenger Aircraft

Seluruh Rakyat Indonesia tinggal menghitung hari saja sampai dengan penerbangan perdana pesawat asli buatan PT Dirgantara Indonesia N219, yang jika tidak berubah lagi, rencananya akan dilakukan pada Agustus 2016 dan mulai diproduksi pada 2017 sembari juga menunggu proses sertifikasi yang dilakukan oleh Kementerian Perhubungan Udara. Kita semua tentu mendoakan dan berharap yang terbaik pada prospek N219.

versus N219

Namun seperti yang telah kita ketahui, persaingan pada pasar light transport/ utility aircraft sebenarnya berlangsung dengan sangat sengit dan termasuk keras. Satu pesaing yang sudah pasti akan menghadang apabila N219 keluar kandang dan memasuki pasar internasional adalah Harbin/ AVIC YF-12F, seri terbaru dari keluarga Y-12. Ditilik dari sejarahnya, Harbin Y-12 memiliki asal-usul yang kurang elok, karena merupakan kopian pesawat DHC-6 Twin Otter, yang juga menjadi benchmark dari pengembangan N219. Sempat diproduksi untuk pasar internasional sebagai Harbin Y-12 Twin Panda, tidak ada maskapai yang mau membeli karena ketiadaan sertifikasi.

Harbin tidak lantas menyerah, mereka terus mengembangkan Y-12 sampai akhirnya mendapat racikan yang pas dalam sosok Y-12F. Y-12F merupakan varian ketiga yang sudah mendapatkan sertifikasi FAAR Part 23 (Federal Airworthiness Authority) Amerika Serikat yang dianggap merupakan standar emas untuk standarisasi pesawat sipil di dunia. Sementara N219 sendiri belum memperoleh FAAR 23, dan sejauh ini baru membuat desain N219 sesuai dengan standar FAAR 23. Kalau mau membayangkan kerumitannya, Y-12F melakukan tes uji selama lima tahun, membukukan 911 jam terbang dan 1.247 sorti penerbangan sampai menerima sertifikasi tersebut. Pada waktu yang bersamaan, Y-12F juga menerima sertifikasi dari CAAC (Civil Aviation Administration of China).

Chinese_Y_12F_Light_Transport_Aircraft

Resep yang digunakan oleh Y-12F untuk memperoleh sertifikasi tersebut adalah dengan menggunakan sebanyak mungkin komponen made in USA di dalam tubuhnya. Sebagai contoh, sistem avionik untuk kokpit Y-12F menggunakan produk Honeywell PC Primus Apex yang menyajikan seluruh informasi seperti GPS, radar cuaca, lalu lintas udara, peta kontur permukaan, dan informasi vital seperti bahan bakar, rpm mesin dan lainnya bagi pilot dalam empat layar LCD berwarna berukuran besar. Produk ini juga serupa digunakan oleh Twin Otter 400.

Y-12F memang ditujukan untuk pasar yang akan mulai lowong dengan pensiunnya Twin Otter legacy series, sama dengan ceruk pasar yang disasar oleh N219. Garis besar desain antar N219 dan Y-12F sebenarnya mirip, dengan fuselage berbentuk mengotak dan dua pintu keluar di sisi kanan. Y-12F unggul di sini karena menawarkan dimensi kabin yang lebih besar sedikit. Kedua pesawat juga menggunakan sayap model tinggi, dengan N219 dan Y-12F menawarkan desain baru pada sayap, tanpa menggunakan strut. Y-12F juga unggul dengan roda pendarat yang bisa ditarik ke dalam, dibandingkan roda pendarat pada N219 yang menggunakan strut fixed. Namun ini juga dapat dianggap sebagai keunggulan karena dengan strut terpasang mati tersebut maka biaya perawatannya akan lebih minim.

Untuk urusan mesin, Y-12F dan N219 menggunakan mesin yang sama yaitu PT6A, tetapi Y-12F menggunakan mesin yang lebih bertenaga yaitu varian PT6A-65 dengan daya yang disemburkan lebih besar 20% dibandingkan dengan PT6A-42 yang digunakan oleh N219. Ditambah dengan penggunaan lima bilah baling-baling Hartzell, Y-12F menjadi andal digunakan untuk pengoperasian di tempat yang tinggi dan minim oksigen, daerah rural dan terpencil. Hal ini juga berimbas kepada kemampuan gotong beban Y-12F yang lebih besar dibandingkan dengan N219 dengan selisih margin 500 kilogram. Kemampuan gotong beban yang lebih besar ini tentu jadi menarik bagi maskapai kargo perintis, mengingat lebih banyak beban yang bisa dibawa, maka margin pendapatan juga semakin besar pula. Dari perbandingan parameter data, Y-12F terbang lebih cepat, lebih tinggi, dan lebih jauh dibandingkan dengan N219.

N219

Walaupun begitu, N219 masih unggul dalam parameter jarak minimal yang dibutuhkan untuk lepas landas dengan selisih hampir 100 meter sendiri untuk jarak mendarat. Walaupun begitu, Y-12F memiliki kemampuan pendaratan yang lebih baik dibandingkan dengan N219, dimana Y-12F hanya butuh 420 meter untuk mendarat sementara N219 memerlukan 510 meter. Kemampuan yang berselisih sedikit tersebut bisa berarti banyak di wilayah pegunungan tinggi.

Terakhir, kesuksesan produk dibuktikan dengan firm order dari pembeli. Sejauh ini, N219 sudah mencatatkan order dari sejumlah maskapai dalam negeri seperti Lion Air yang hendak memesan 50 pesawat. Y-12F sendiri saat ini sudah menerima 50 order dari Coptervision yang berbasis di Las Vegas, AVIC International Holding Corporation, dan China Flying Dragon General Aviation Co. Ltd. Walaupun PTDI boleh bergembira karena N219 sudah banyak dipesan, pada akhirnya N219 akan membutuhkan sertifikasi FAAR 23 apabila memang ingin serius menekuni pasar internasional yang sebenarnya masih cukup besar. Ayo PTDI, segera kepakkan sayap N219 dalam penerbangan perdananya, jangan sampai kalah dan tertinggal!

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *