Panhard CRAB, Penerus Legenda Panser Intai 4×4 VBL

Ilustrasi CRAB sebgai peluncur rudal anti pesawat Mistral
Ilustrasi CRAB sebgai peluncur rudal anti pesawat Mistral

Perancis memang percaya penuh pada terminologi reconnaissance in force, khususnya untuk misi pengintaian dengan platform kendaraan intai. Buat Perancis, kendaraan intai mereka tidak hanya harus bisa memenuhi fungsi asasinya yaitu menemukan keberadaan atau posisi main body atau kekuatan utama musuh, tetapi juga harus mampu melakukan screening. Operasi screening mewajibkan kekuatan intai mampu mengganggu, mengusir bahkan kalau perlu menghancurkan musuh, dengan melibatkan sesedikit mungkin kekuatan utama. Dengan begini, kekuatan utama kawan dapat mempersiapkan diri dan mengejutkan musuh, bak tombak bermata ganda yang menusuk susul-menyusul. Maka tidaklah mengherankan bila kendaraan intai Perancis rata-rata memiliki kanon kaliber besar, seperti ERC-90 Sagaie atau AMX-10RC.

Untuk kelas yang lebih kecil, Perancis memiliki platform VBL (Vehicule Blindé Léger) 4×4 yang menangguk sukses besar dengan angka produksi di 2.600an unit dan dipergunakan di lebih dari 15 negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Apabila di Indonesia VBL yang dipergunakan Kavaleri TNI AD hanya dipersenjatai dengan senapan mesin M1919 tua, di Perancis VBL yang merupakan andalan pasukan reaksi cepatnya dilengkapi dengan rudal antitank MILAN dan senapan mesin berat 12,7mm atau malah kanon 20mm. Beberapa Negara lain ada yang memasang rudal Kornet-E, TOW 2, atau Ingwe. Pokoknya walaupun hanya menggunakan model rantis, daya gebuknya harus setara ranpur. Platform anti pesawat dalam bentuk dual Mistral juga bisa ditawarkan, pokoknya bisa disesuaikan untuk berbagai kebutuhan.

Panhard selaku pembuat kemudian berpikir bahwa VBL sudah mencapai puncak pengembangannya. Walaupun sudah keluar VBL Mk.2, platform kendaraan ini sudah mulai kedodoran ketika berbagai macam peralatan elektronik atau sistem senjata baru dicangkokkan kedalamnya. Maklum saja, VBL hanya ideal kalau bobot operasionalnya ada di level 2 ton. Lebih dari itu, performa dipastikan melorot dan suspensi jadi menderita. Mesin Peugeot 3T sudah diganti dengan Steyr yang bertenaga dan mampu menyemburkan daya sampai 150hp pada varian VBL Mk2, namun Panhard merasa bahwa VBL sudah tak memiliki room for growth lagi.

Perkembangan ancaman juga semakin meningkat. Tembakan musuh mungkin bisa diantisipasi dengan kulit anti peluru, tapi jebakan IED (Improvised Explosive Device) bukan ancaman yang bisa ditanggulangi oleh VBL. Contohnya adalah VBL milik AD Perancis, yang hancur terkena jebakan IED pada Oktober 2005 saat berpatroli di Kabul, Afghanistan. Walaupun solusi sementara berupa kit anti ranjau bisa dipasang, tetapi ini bukanlah solusi permanen yang dicari.

Ilustrasi Panhard CRAB dalam seting Urban
Ilustrasi Panhard CRAB dalam seting Urban

Le CRAB
Di sisi lain, AD Perancis sendiri sedang dalam pertengahan implementasi program SCORPION (Synergie du Contact Renforcé par la Polyvalence et l’Infovalorisation) yang bertujuan untuk menghubungkan seluruh kendaraan tempur dalam satu jaringan manajemen pertempuran terpadu, sehingga kendaraan tempurnya mampu berkoordinasi secara efektif. Salah satu inisatif yang ditelurkan selain upgrade pada kendaraan tempur lama adalah program VBAE (Vehicule Blindé d’Aide a l’Engagement – Kendaraan tempur pembantu pertempuran). VBAE bertujuan untuk membuka jalan, melakukan pengintaian, pengamanan, screening, dan serangan melambung- pokoknya misi yang biasa dijalani oleh Kavaleri. Pendeknya, VBAE harus bisa menggantikan VBL untuk menjalankan tugas tersebut, tentunya dengan lebih baik.

CRAB-004

Untuk menggantikan VBL pasti bukan perkara yang mudah. Panhard selaku pembuat harus dapat menghadirkan kelincahan seperti VBL dengan proteksi yang jauh meningkat, serta tentu saja daya gebuk yang mumpuni. Senapan mesin berat 12,7mm atau kanon 20mm sudah bukan jamannya, karena kemampuannya yang marjinal menghadapi ranpur modern dengan kulit ganda. Akhirnya pada pameran Eurosatory 2012 perusahaan yang bermarkas di Marolles ini menampilkan kendaraan bernama CRAB (Combat Reconaissance Armoured Buggy). Sosoknya dari depan mirip dengan buggy yang biasa dipakai menjelajah padang pasir atau pantai. Bedanya, CRAB tampil sangat sangar: satu kubah dengan kanon 25mm nangkring di atas atap kendaraannya. Kubah yang dipergunakan adalah tipe CPWS 20-25-30 buatan CMI Defence Belgia, sudah menganut model kubah nirawak yang digerakkan dengan sistem remote control. Yuk kita bahas satu-satu!

Kepiting buatan Panhard ini jelas didesain dengan prinsip stealth di dalam fokus desainernya. Bayangkan saja, tinggi kendaraan hanya 1,8 meter sampai ke atap kendaraan, sukar dideteksi kalau masuk ke dalam rerimbunan semak atau di balik pepohonan. Kalau ini masih kurang, suspensi pneumatik pada CRAB masih bisa pula disetel ketinggiannya untuk membuatnya semakin merunduk. Bentuk kabin didesain sedemikian rupa dengan sudut-sudut tajam untuk meminimalisasi radar cross section, teknik yang masih relatif baru diterapkan di tengah proliferasi sistem radar yang pengindera darat.

Soal bobot CRAB memang lebih gendut dibandingkan dengan kakaknya VBL. Jika VBL didesain dengan room for growth maksimal lima ton, maka CRAB memiliki bobot operasional 8,5 ton dengan bobot maksimal sepuluh ton. Karena sosoknya yang gambot, CRAB ogah bila harus diajak mengarung permukaan air, tidak seperti VBL yang lincah berenang. Panhard memang ikut selera pemesannya yaitu AD Perancis, yang sekarang sibuk bertempur di lingkungan gurun termasuk eks koloninya seperti Chad. CRAB juga boros sarana angkut, dimana C-130H hanya bisa muat satu unit, C-130J dua unit, dan A400M bisa tiga unit.

Walaupun makan tempat, olah gerak CRAB ternyata lebih lincah dari VBL. Mesin berdaya 300hp yang dipasang di belakang CRAB mampu menghasilkan power to ratio mencapai 35hp/ ton, lincah diajak ngebut atau bermanuver taktis. Tak hanya itu, CRAB juga dilengkapi alternator berdaya 400 Ampere, yang dapat digunakan mentenagai CRAB saat mesin utama dimatikan. Inilah keunikan sistem CRAB yang menjadikannya rantis tempur paling senyap: saat mendekati sasaran, mesin dimatikan dan baterai yang bekerja, sehingga CRAB tidak akan mengeluarkan suara sama sekali, sampai saatnya menerkam musuh dengan kanon yang dimilikinya. Baterai akan terisi saat mesin bekerja, atau dapat diisi dengan dua baris sel tenaga surya (solar cell) yang terpasang di punggung CRAB. Dengan modal ini, tidak ada ceritanya CRAB susah distarter dalam keadaan iklim dingin.

Kembali ke soal mobilitas, CRAB memiliki sistem gerak permanen 4×4, namun keistimewaannya terletak pada kedua sumbu roda yang dapat disetir secara independen. Jika diperlukan, kedua sumbu dapat dibelokkan ke arah yang sama hanya dengan menyetel diferensial gearbox sehingga CRAB dapat bergerak menyamping layaknya kepiting yang jadi inspirasinya. Atau kalau mau lebih realistis, kedua sumbu dapat diatur sehingga CRAB dapat berputar dengan radius yang sangat kecil, membuatnya lincah bermanuver di jalanan sempit. Sistem suspensi pada CRAB mengadopsi milik Panhard VBR, dari jenis oleo-pneumatik independen dan ketinggian ground clearance yang dapat diatur sesuai kebutuhan.

Irisan tampak dalam dari CRAB
Irisan tampak dalam dari CRAB

Berpindah ke dalam kabin, disinilah terletak keistimewaan lain dari CRAB. Desain kabin dibuat dalam bentuk sel (Panhard menyebutnya citadel), yang terpisahkan dari kulit luar kendaraan. Barisan tempat duduk dibuat unik: Tiga kursi disediakan pada baris depan, dengan pengemudi di tengah. Dengan model begini, diyakini bahwa pengemudi akan memiliki kewaspadaan tertinggi terhadap sekelilingnya. Model pengemudi di tengah memang nampaknya sudah jadi tren, rantis Flyer 2 dari Singapura juga sudah mengadopsi pakem begini. Yang paling jelas, Panhard tak usah susah-susah menyesuaikan format posisi setir untuk Negara yang berbeda-beda tentu saja.

Pengemudi mengendalikan CRAB melalui setir kemudi yang tak beda dengan kemudi pada mobil biasa. Seluruh cluster meter sudah ditampilkan secara digital, dan pengemudi memiliki tiga layar yang dapat menampilkan beragam informasi dan untuk kursi di kanan-kiri pengemudi juga sudah ada MFD (Multi Function Display) sebanyak dua buah yang dapat menampilkan tangkapan enam kamera yang terpasang di depan, samping dan belakang kendaraan, memberikan tampilan 360o ke seluruh sisi tanpa adanya titik buta. CRAB sendiri didesain dengan kaca depan yang berukuran amat besar sehingga sudut pandang amat melimpah. Seluruh kaca depan didesain anti peluru dengan tiga lapis, mampu menghentikan peluru 12,7mm sebelum menembus ke kabin.

Di baris belakang duduk juru tembak yang mengendalikan sistem kubah CPWS 20-25-30 dengan menggunakan joystick dan membidik melalui layar LCD yang tersaji di depannya. Tersedia beberapa opsi untuk sistem senjata di atap kendaraan dan setidaknya Panhard sudah siap dengan tiga alternatif: kubah CPWS 20-25-30, sistem rudal anti pesawat Mistral, atau kubah dengan laser designator untuk kendaraan pengarah artileri. Seluruh awak keluar dari CRAB melalui pintu di kiri dan kanan yang membuka dengan model clamshell, setengah ke atas dan setengah ke bawah sebagai pijakan.

Untuk soal proteksi, Panhard mencurahkan segalanya ke dalam CRAB. Ancaman ranjau IED ditangani tidak dengan membuat model V hull biasa seperti pada keluarga rantis tipe MRAP. Model V hull, walaupun efektif meredam ledakan ranjau, membuat titik berat kendaraan naik sehingga kendaraan tidak stabil saat bermanuver. Panhard membuat lantai kendaraan menjadi tiga lapis dengan ruang hampa di antara lapisan lantai, sehingga dapat memencarkan daya kejut dan efek ledakan sebelum dapat menembus ke kabin. Apabila melindas IED pun, fender pada CRAB yang dicat hitam didesain secara khusus untuk membelokkan dan memutar arah gelombang ledakan kembali secepat mungkin ke permukaan, sehingga kendaraan tidak lompat terlalu tinggi lalu terhempas sehingga melukai awaknya. Sebagai pamungkas, kursi awak CRAB didesain untuk mampu menyerap gaya kejut akibat ledakan, sehingga cedera tulang punggung atau leher saat kendaraan menerima impak ledakan dapat dikurangi. Panhard menjamin bahwa CRAB dapat bertahan dari ranjau antitank tipe TM-57 yang meledak langsung di bawah ban kendaraan – memenuhi syarat STANAG 4569 Level 3a. Untuk proteksi dari hantaman peluru dan artileri, CRAB dapat dipasangi pelat applique pada sekujur tubuhnya sesuai dengan keinginan pembeli, mau Level 2 (7,62x39mm Rusia) atau Level 4 (14,5mm Rusia). Yang jelas, semakin tinggi level proteksi, maka semakin berat pula bobot kendaraan.

Sistem elektronik pada CRAB yang disebut Vsys-Net didesain Thales dengan arsitektur terbuka yang dapat disesuaikan dengan berbagai piranti elektronik yang hendak dipasang pembeli, termasuk ke sistem senjata. Paket dasar yang diinginkan AD Perancis adalah sistem manajemen pertempuran dan radio yang dapat terintegrasi dengan sistem SCORPION. Uniknya, tiga posisi pada kendaraan (komandan, juru tembak, dan pengamat) bisa ditukar-tukar sesuai kebutuhan. Jadi andaikan komandan di depan ingin mengambil alih kendali penembakan, hal tersebut dapat saja dilakukan bila ada kondisi yang menuntut seperti itu. Sistem interkom pada CRAB dapat diintegrasikan dengan prajurit atau awak yang turun mengintai sampai jarak satu kilometer. Hasil tangkapan kamera pada senapan yang dipasangi sistem FELIN juga dapat dipasok ke CRAB untuk membantu pengambilan keputusan di lapangan dan memberikan dukungan ke pasukan di lapangan.

The claw
Seperti halnya kepiting yang memiliki capit tajam untuk menjepit dan membelah mangsanya, CRAB pun dilengkapi dengan sistem kubah CPWS (Cockerill Protected Weapon System) 20-25-30 buatan pabrikan CMI (Cockerill Maintenance & Ingénierie) Defence Belgia untuk menyerang lawannya. Ini merupakan konfigurasi yang unik dan tidak lazim, karena baru CRAB yang memasang senjata dengan kanon yang lazimnya dipasang pada kendaraan tempur yang lebih besar seperti ranpur 6×6 atau 8×8. CRAB mampu mengusung kanon dengan recoil besar berkat desainnya dengan titik berat (center of gravity) yang rendah.

cockerill

Kenapa namanya 20-25-30? Ternyata karena kubah CPWS ini dapat dipasangi kanon dari berbagai kaliber mulai 20mm, 25mm, atau 30mm. Varian yang dipamerkan dalam Eurosatory 2012 menggunakan CPWS-25 dengan kanon 25mm M242 Bushmaster, kanon serupa yang digunakan oleh ranpur sekelas M2 Bradley. Apabila pembeli menginginkan kanon 30mm, yang terpasang adalah kanon M230 yang digunakan heli tempur AH-64 Apache. Sementara untuk kanon 20mm, tentu saja pilihannya adalah Rheinmetall Rh-202 yang punya kemampuan tembak cepat. Seluruh sistem senjata tersebut distabilisasi dalam dua sumbu, memungkinkan CRAB menembak sambil berjalan. Dengan modal kanon setara ranpur, tentu saja CRAB harus diperhitungkan oleh lawan-lawannya. Punya sosok stealthy, kemampuan mengendap yang sempurna, dan taring yang amat tajam, CRAB dapat memukul lawan yang kelasnya jauh di atasnya.

Seperti kebiasaan CMI yang selalu perfect dalam menyiapkan sistem senjata, kubah CPWS juga sama. Kemampuan dongak laras mampu mencapai 45o dan menunduk sampai -10o, sehingga memiliki kemampuan menyasar objek di udara seperti helikopter, atau menembak dari puncak bukit ke lembah di bawahnya. Sistem kanonnya dilengkapi sistem dual feed sehingga dapat menggunakan dua jenis amunisi secara bersamaan sesuai kebutuhan. Total amunisi yang tersedia adalah sebanyak 150 butir peluru. Sebagai senjata sekunder, tersedia senapan mesin koaksial 7,62mm sesuai selera militer pengguna, bisa menggunakan FN MAG, M60, atau MG3. Kalaupun pembeli mau, arsitektur pelontar granat macam Mk19 juga dapat disiapkan sebagai senjata koaksial apabila pembeli menginginkan.

Kubah CPWS sendiri dilengkapi dengan sistem kamera panoramik berbentuk bola dengan elevasi maksimal 60o, sehingga dapat dioperasikan secara independen oleh komandan kendaraan dalam paduan apik hunter killer. Sistem kamera termal dan CCTV untuk siang hari sudah lengkap tersedia, begitu pula sistem laser rangefinder untuk memindai jarak yang akurat dari CRAB ke sasaran sehingga solusi penembakan dapat diberikan secara akurat. Komputer balistik pada CPWS juga memungkinkan penjejakan sasaran bergerak di udara dengan kecepatan rendah macam helikopter, sehingga CRAB mampu bertahan dari segala jenis ancaman di medan tempur.

Seperti namanya yaitu sistem senjata terlindung, kubah CPWS sendiri bisa diisi amunisi dari bawah, alias dari dalam kendaraan sehingga awak kendaraan tidak perlu meregang nyawa hanya untuk mengisi peluru yang habis di tengah pertempuran. Uniknya lagi, kubah CPWS, walaupun adalah kubah remote, ternyata memiliki pintu palka di atas. Konon ini merupakan persyaratan dari AD Perancis dimana komandan harus dapat melihat keluar secara langsung untuk mengamati situasi. Sejauh ini CRAB memang sudah memasuki masa evaluasi oleh DGA, direktorat pengadaan angkatan bersenjata Perancis. Para petinggi AD Perancis juga puas dengan performa CRAB relatif terhadap VBL yang digantikannya. Dengan sosok yang kecil, lincah, dan mematikan, CRAB kini menyasar pasar pembeli VBL.

SPEK CRAB
Awak : 3
Panjang : 5m
Lebar : 2,5m
Tinggi (tanpa senjata) : 1,8m
Struktur kendaraan : monokok
Wheelbase : 3.250mm
Ground clearance : 400mm (adjustable)
Gross Weight Vehicle Rating : 10 ton
Mesin : Steyr M16 320hp dengan electric turbo
Power : 235kW@ 3.800rpm
Torsi maksimum : 630Nm @2.300rpm
Transmisi : 4×4 permanen
Suspensi : hidropneumatik
SISTEM SENJATA
• CMI Defence CPWS 20-25-30 remote turret
• 1x coax 7,62x51mm NATO
• 76mm granat asap Wegmann (opsional)

Photo credit : Panhard Company

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *