NLAW, Roket Pintar yang Digunakan TNI AD Ternyata Bisa Diupgrade Softwarenya

Perkembangan teknologi senjata anti tank memang saat ini mengerucut kedalam dua kubu: rudal berpemandu (Anti-Tank Guided Missile/ ATGM) atau roket tanpa pemandu. Keduanya sama-sama memiliki keunggulan dan kelemahan.

Penataran Penggunaan NLAW di Divif 2 Kostrad (Credit: Kostrad.mil.id)
Penataran Penggunaan NLAW di Divif 2 Kostrad (Credit: Kostrad.mil.id)

Sampai pada tahap tertentu, baik ATGM maupun roket anti-tank adalah obat yang cukup ampuh untuk meningkatkan daya gempur pasukan yang independen dari dukungan kendaraan lapis baja. Pendukung ATGM mengetengahkan keunggulan akurasi sistem pemandu dan hulu ledak berukuran besar yang mampu menembus lapisan pelindung kendaraan-kendaraan berkategori berat, sementara proponen dari roket anti-tank (AT) tak bisa diremehkan karena sifatnya yang sangat ringan dan portabel; pengguna roket anti-tank dapat menembakkan roketnya secara lebih cepat dibandingkan ATGM yang butuh persiapan lebih lama. Saat ini kecenderungannya adalah keduanya saling melengkapi. Dari jajaran ATGM ada FGM-146 Javelin, RBS BILL 2, Metis, Kornet, atau MILAN-ER. Dari jajaran roket antitank tersedia merk yang lebih banyak seperti SMAW, B300, Siphon, keluarga RPG, LAW-72, LAW-80, C90/100. Semuanya mengandalkan hululedak berkategori shaped charge dalam berbagai diameter untuk mampu menembus lapisan baja. Walaupun keefektifannya mulai dipertanyakan bersama kehadiran lapisan pelindung komposit model baru macam MEXAS dan AMAP, atau lapisan ERA (Explosive Reactive Armor) seperti Kontakt-5, shaped charge tetap diandalkan selama teknologi penetrasi kinetik kecepatan tinggi belum bisa diadaptasi untuk teknologi ATGM/ roket AT.

Batalyon infantri di bawah Divisi 2 Kostrad berlatih menangani NLAW (Credit: Kostrad.mil.id)
Batalyon infantri di bawah Divisi 2 Kostrad berlatih menangani NLAW (Credit: Kostrad.mil.id)

Sampai sejauh ini, belum ada yang mendesain jalan tengah antara ATGM dan roket AT. Banyak pabrikan menganggap bahwa menggabungkan keduanya akan menciptakan terlalu banyak kompromi; entah roketnya menjadi terlalu berat, atau sistem pemandunya tidak andal karena ada batasan bobot senjata yang harus dijaga. AS adalah Negara pertama yang sukses menelurkan FGM-172 SRAW/ Predator yang merupakan roket AT dengan sistem pemandu laser sederhana, namun dalam kompetisi pengadaan roket AT pengganti Insys LAW-80 milik AD Inggris, satu nama lagi menyeruak: Saab-Bofors NLAW (Next Generation Light Antitank Weapon). Saab-Bofors sejatinya menamainya MBT LAW, dan sistem ini sebelumnya sudah diadopsi oleh Swedia, Finlandia, dan Luksemburg sehingga Inggris menjadi Negara keempat yang mengadopsinya. Saab-Bofors, yang sebelumnya sudah menelurkan banyak generasi hebat roket AT seperti AT-4, M84 Carl Gustaf, dan RBS56 BILL (Bofors Infantry Light and Lethal) 2 tentunya memiliki sejumlah jurus jitu dalam meracik NLAW.

Gambar irisan NLAW, bagian silinder emas merupakan shaped charge atau hululedaknya (Credit: SAAB Dynamics)
Gambar irisan NLAW, bagian silinder emas merupakan shaped charge atau hululedaknya (Credit: SAAB Dynamics)

NLAW merupakan bastar sempurna antara BILL 2 dengan AT4 yang menghasilkan roket AT dengan kemampuan berpemandu. Seperti yang kita tahu, BILL 2 yang merupakan pesaing dari Javelin memiliki sistem pemandu kawat dan mampu diluncurkan dengan pola OTA (Overflight Top Attack) yang menyasar bagian atas dari sasaran. Pola OTA ini dipilih mengingat desain ranpur maupun MBT (Main Battle Tank) rata-rata memiliki perkuatan pada bagian depan, namun tidak pada sisi atas. Bagian atas dari ranpur/ MBT memiliki pelat yang lebih tipis, dan biasanya juga tidak memperoleh perlindungan dari Blok ERA. Hanya sedikit sekali MBT modern yang memperlengkapi diri dengan blowout panel seperti MBT Leopard 2, Merkava IV, atau M1A2 Abrams; sisanya terutama tank-tank eks Blok Timur sangat rentan terhadap serangan dari atas. Di sisi lain, AT4 pun menyumbangkan kemampuan CS (Confined Space) atau penembakan dari ruang tertutup. Dengan tipikal pertempuran urban, tim penembak NLAW membutuhkan kemampuan tersebut saat bergerak dari rumah ke rumah untuk mencari kesempatan terbaik dalam melumpuhkan tank lawan. Siapa yang tahu, kapan kesempatan itu datang. Dari balik jendela, diantara reruntuhan bangunan, atau dari atap, kesemuanya menghadirkan skenario penembakan dari ruang sempit. Pada roket AT generasi awal, backblast yang dihasilkan dari penembakan di ruang tertutup cukup untuk memanggang siapapun yang berdiri dibelakang penembak, bahkan sang penembaknya sendiri.

Dari sisi luar, NLAW memiliki tabung yang berwarna hijau dan terbuat dari fiberglass, cukup untuk menahan satu kali hentakan peluncuran roket, dan cukup murah untuk langsung dibuang ketika sudah usai ditembakkan. Pada bagian depan terdapat blok karet yang memiliki coakan pada arah jam 2-disiapkan agar optik yang digunakan NLAW dapat memperoleh bidang pandang yang lega. Pada sisi bawahnya tersimpan satu monopod yang dapat diayun keluar dan direntangkan 45o, dan kaki-kakinya dapat disetel panjangnya. Penembak yang kuat dan memiliki waktu untuk menggunakan monopod ini dapat mendudukkan alasnya ke perut, untuk membantu membagi rata hentakan yang dirasakan. Bila tidak digelar pun, roketnya masih bisa ditembakkan dengan aman hanya dengan menyandarkannya di bahu.

Retikula dari TA41 ACOG pada NLAW
Retikula dari TA41 ACOG pada NLAW

Untuk optiknya, Saab Bofors Dynamics juga tidak main-main. Tak kurang dari pabrikan Trijicon dipilih untuk menyuplai sistem optik Trijicon TA41 Compact ACOG 2,5×20 yang dilengkapi fiber optik untuk mengumpulkan cahaya dan tritium untuk menerangi retikula saat malam. Sayang rasanya untuk membuang optik seharga US$1.000 ini setelah usai menembakkan NLAW, tetapi yang punya waktu untuk melepasnya –saat latihan misalnya- akan menemukan bahwa mereka memiliki optik bagus yang juga bisa dipasangkan ke senapan serbu. Karena sistem seeker NLAW terletak di hulu ledak tanpa melibatkan optik, maka ACOG dapat diganti dengan optik lainnya-optik pengindera malam misalnya, atau malah reflex sight seperti Aimpoint M4 atau EOTech 553 series untuk bidang pandang yang maksimal. Di sisi kanan tabung peluncur terdapat beberapa kotak yang menyimpan sistem elektronik untuk NLAW, dan juga tombol untuk menembakkan roketnya. Sekuensial peluncurannya juga mudah, tangan kanan penembak tinggal membuka tombol peluncur yang tersimpan dibawah tombol berwarna merah dengan menggeser blok tuas untuk mengaktifkan roket dan memberi kesempatan pada seeker di kepala roket untuk menghitung algoritma peluncurannya, dan kurang dari 3 detik, roket sudah bisa diluncurkan dengan sekali tekan tombol.

1630930_-_main

Begitu menekan tombol, segalanya diserahkan pada hululedak NLAW yang punya bobot di kisaran 8kg. Roket akan meluncur perlahan terlebih dahulu karena fitur soft launch yang dimilikinya, lalu 3 meter dari titik peluncuran, motor utama roket akan mengambil alih dan melesatkan roket ke sasaran. Untuk mempersingkat waktu pengembangan, Saab-Bofors memang mengambil sistem motor roket dan hululedak milik BILL2. Tidak kreatif memang, tapi akibatnya NLAW juga dimaksimalkan untuk serangan OTA. Hal ini terlihat dari arah pemasangan cone untuk peledak shaped charge. Jika pada roket AT biasa seperti RPG corong ini menghadap kearah hidung alias menghadap depan, hululedak NLAW yang tersimpan dalam silinder dan terletak di tengah tubuh roket justru menghadap kebawah. Saat rudal melintas diatas kendaraan lapis baja dan detektor logam mendeteksi keberadaan logam-beberapa bagian seperti tutup palka (hatch) tidak bisa dilapisi dengan ERA atau komposit karena ketipisannya atau karena harus bisa berputar, maka perintah detonasi segera diberikan. Saat rudal meledak pada ketinggian 1 meter tegak lurus diatas sasaran, maka ini jarak optimum bagi hululedak shaped charge untuk membentuk selarik gas panas yang tanpa ampun akan menembus lapisan tipis diatas ranpur/ MBT. Hasil titik masuknya memang hanya sebesar koin mungkin, tetapi ingat, Saab-Bofors adalah jagonya hululedak behind armor effect. Begitu masuk, semburan dan efek spalling yang disebabkannya akan melontarkan ratusan serpihan logam, baik dari roket yang meledak maupun dari butiran logam kulit ranpur itu sendiri. Serpihan kecil, kecepatan tinggi, dan amat panas serta jumlahnya ratusan. Kecil kemungkinan kru tank yang ada dibawahnya punya kesempatan untuk selamat. Fitur inilah yang membuat Saab-Bofors menggadang-gadang bahwa NLAW memiliki SSKP (Single Shot Kill Probability) yang tinggi, walaupun persentasenya tidak pernah dijelaskan secara pasti.

Cara Kerja NLAW dengan Algoritma PLOS (Credit: SAAB Dynamics)
Cara Kerja NLAW dengan Algoritma PLOS (Credit: SAAB Dynamics)

Namun tidak perlu muluk-muluk untuk membayangkan efek ledakan pada tank yang terkena hantaman- Saab Bofors mengatakan bahwa satu NLAW cukup untuk satu MBT, satu klaim yang masih perlu dibuktikan di lapangan. Yang lebih menarik adalah bagaimana hululedak NLAW terbang ke sasaran, terutama apabila penembak memilih mode OTA. Untuk NLAW, Saab-Bofors memperkenalkan sistem yang diberi nama PLOS (Predictive Line of Sight). Rahasianya terletak pada giroskop dan sumbu magnetik di kepala roket. Giroskop laser mengukur kecepatan angular roket relatif terhadap kecepatan sasarannya. Hasil pengukuran tersebut kemudian dikirim sebagai input kedalam prosesor yang kemudian merancang lintasan lengkung yang akan mencegat sasaran pada satu titik teoritis dimana sasaran akan berada dengan asumsi kecepatan sasaran adalah konstan.

Setelah meluncur, giroskop masih bekerja lagi untuk tetap menjaga roket pada lintasannya sampai menemukan sasaran. Oleh karena itu, dalam mode PLOS bisa dipastikan bahwa roket akan berbelok di udara, mengikuti lead angle untuk bertemu dengan sasaran pada satu titik. Roket terbang 1 meter diatas line of sight (titik bidik) dengan asumsi bahwa penembak membidik hull tank, sehingga hululedak nantinya bisa meledak tepat diatas kubah. Keunggulan dari sistem PLOS adalah roket ini sama sekali tidak bisa dijamming dengan cara apapun, karena roket bersifat independen dari sistem pembidik. Tidak ada laser yang bisa dikacau atau kawat yang bisa diputus. Laser dari giroskop hanya butuh waktu 2-3 detik untuk menyinari sasaran, itupun hanya mengukur jarak ke sasaran bukan untuk mengarahkan rudal.

Kelemahannya hanya pada asumsi bahwa kendaraan bergerak ke satu arah, dan dalam kecepatan konstan. Ketika tiba-tiba kendaraan bisa direm dengan sangat pakem, atau tiba-tiba kendaraan berubah arah, maka hululedak NLAW bisa dikalahkan karena hanya akan menemui udara kosong. Tetapi pertanyaan berikutnya adalah, apakah ada satu tank yang bisa berhenti secara tiba-tiba atau mundur, mengingat secara refleks pengemudi tank akan tekan gas kedepan untuk keluar dari killzone. Apalagi bila tim penembak bisa menembak secara sembunyi-sembunyi. Sementara dalam kasus sasaran statik, atau katakanlah sasaran ringan seperti jip, truk, atau kendaraan dengan kulit lunak, maka NLAW bisa dioperasikan dengan mode DA (Direct Attack), cukup dengan menggeser tuas kecil diatas tombol peluncur untuk mematikan elektronik dari NLAW. Kalau sudah dimatikan, maka titik bidik sepenuhnya mengandalkan retikula dari ACOG dan roket akan meluncur dengan lurus. Mode DA juga cocok untuk menghantam bangunan seperti bunker atau fortifikasi.

Diluar kemampuannya yang mengagumkan, sistem NLAW masih memiliki beberapa keunggulan. Bobot sistem total yang hanya 11,6kg masih memadai untuk dibawa infantri yang terus bergerak. Hululedaknya juga sudah memiliki fitur IM (Insensitive Munitions) yang tahan terhadap perubahan iklim termasuk panas dan kelembaban tinggi. Sayangnya, karena sistem elektronik yang dimilikinya, NLAW tidak kedap air seperti AT4. Saab-Bofors juga menjanjikan bahwa NLAW bersifat maintenance free, dimana pembeli tidak perlu mengeluarkan biaya perawatan tambahan untuk perawatan sistem selama dalam kepemilikan pengguna. Selain itu, shelf life dari sistem NLAW juga mencapai 20 tahun, sangat ideal untuk angkatan bersenjata yang suka mengoleksi berbagai tipe senjata tetapi jarang menggunakannya. Jarak minimum yang dibutuhkan yaitu 20 meter untuk mempersenjatai hulu ledak juga tergolong juara, karena pesaingnya rata-rata ada di kisaran 40-60 meter. Ini berarti NLAW benar-benar cocok untuk digunakan dalam skenario pertempuran urban secara asimetrik melawan kekuatan lawan yang jauh lebih besar.

Dengan segala potensi dan dijanjikannya, adalah kontrak Inggris pada 2002 senilai £400 Juta yang mendorong MBT LAW/NLAW kedalam sorotan internasional. Maklum saja, dengan nilai sebesar itu NLAW akan menjadi senjata lawan tank utama bagi AD Inggris. Mitra lokal Saab-Bofors yaitu Thales Defence akan merakit roket ini di pabrik mereka di Irlandia. Selanjutnya Finlandia juga membukukan order senilai 39 juta Euro pada 2006, dan Swedia senilai 53 juta Euro. Swedia dan Finlandia sudah memiliki sistem BILL 2 dan AT4, sehingga NLAW akan menjadi komplemen yang tepat diantara keduanya.

Saat ini, Saab dikabarkan telah berhasil mencatatkan kemajuan dalam meningkatkan jarak luncur NLAW/ RB57 sebesar 33%, atau lebih kurang mencapai jarak 800 meter, seperti yang diungkapkan oleh Markus Mellquist, Head of Marketing & Sales dari Saab Dynamics Ground Combat System dalam wawancara dengan IHS Jane. Penambahan jarak ini tentu dapat disambut gembira, karena akan semakin mengamankan prajurit yang meluncurkan NLAW. Perubahan ini kabarnya dapat dilakukan dengan upgrade perangkat elektronik yang mengatur algoritma PLOS, tanpa ubahan pada hardware tabung peluncur atau rudalnya sendiri. Inipun masih dengan catatan, jarak 800 meter adalah jarak luncur tanpa mengaktifkan mode OTA. Nah, kalau memang modifikasi tersebut hanya menyentuh sisi software, artinya rudal NLAW yang sudah kadung diproduksi dan dibeli berbagai negara tentu juga bisa dilakukan update ke software versi terbaru untuk membuatnya semakin trengginas. Seluruh NLAW hasil produksi untuk order baru 2016 dipastikan sudah kebagian updatenya. Nah, apakah TNI AD juga akan kebagian software untuk meningkatkan kemampuan NLAW yang dimilikinya? Mungkin akan ada tambahan biaya, namun ini sesuatu yang rasanya perlu dilakukan. Mari berharap sama-sama, mengingat roket antitank pintar ini sudah menjadi tulang punggung TNI AD.

(Artikel ini pernah diturunkan penulis dalam Majalah Commando tahun 2013, dan diupdate sesuai kebutuhan)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *