Mengenal Senapan Serbu Terbaru Australia, EF88

Paglima Divif 1 Kostrad Mayjend TNI Sudirman mencoba menembakkan EF88 Austeyr dalam event AASAM 2016 (Credit: Australian Army)
Paglima Divif 1 Kostrad Mayjend TNI Sudirman mencoba menembakkan EF88 Austeyr dalam event AASAM 2016 (Credit: Australian Army)

Steyr AUG (Armee Universal Gewehr) menjadi senapan serbu yang selalu memiliki bentuk yang futuristik. Negara tetangga kawan akrab kita di belahan bumi Selatan yang baru saja memberikan hibah C-130H Hercules mengoperasikannya dengan kode F88 Austeyr. Namun seperti penulis bahas dalam tulisan pertama tersebut, Australia kerap dibuat kecewa dengan kualitas F88 yang dibuat secara lisensi oleh ADI tersebut. Selain banyaknya masalah, problem lain yang mengemuka adalah betapa tidak modularnya F88. Karena tidak memiliki dudukan untuk menempelkan berbagai macam aksesoris, solusi sementara alias stopgap seperti membeli dudukan rel Picattinny yang diklem ke laras terpaksa ditempuh. Pemasangan pelontar granat pun harus mengadopsi varian M203PI yang memberikan beban berlebih ke laras, sehingga mempengaruhi akurasi. Belum lagi sistem pembidiknya buatan KAC (Knights Armament Company) yang berharga
mahal.

Upaya mengembangkan penyempurnaan F88 sudah dilakukan melalui program FTR (Factory Thorough Rebuilt) 2009 yang melahirkan F88SA1 dan F88SA2, yang ini memperkenalkan picatinny upper receiver (setara AUG A2) dan teropong bidik standar yang sudah menggunakan dudukan Picatinny. Namun begitu, F88SA2 tetap dirasa masih kurang mumpuni, apalagi kalau melihat senapan serbu Negara Sekutu seperti L85A2 atau M4A1 yang kini banjir rel dudukan, F88SA2 terasa kuno, walaupun secara kapabilitas setara, wong sama-sama menembakkan peluru kaliber 5,56x45mm standar NATO. Apalagi kemudian ditemukan bahwa batch pertama F88SA1/2 yang keluar pada 2009 ternyata juga bermasalah, seperti kasus magasen yang tak mengunci apabila peluru diisikan penuh.

Sebagai respon atas kekurangan tersebut, Kementrian Pertahanan Australia merilis program Land 125 yang bertujuan memodernisasi berbagai jenis perangkat yang digunakan oleh AD Australia, termasuk didalamnya senapan serbu. Khusus untuk senapan serbu, persyaratannya dibeberkan dalam program Land 125 Phase 3C, yaitu yang mencakup Lethality. Dalam keterangan situs Kementerian Pertahanan, penyempurnaan F88 akan menjadi sistem senjata modular yang menyediakan integrasi fisik dengan performa dan penggunaan yang meningkat, termasuk integrasi peralatan tambahan seperti sistem bidik. Land 125 Phase 3C juga menuntut keandalan senapan yang tinggi. Program ini menggariskan angka MRBS (Mean Rounds Before Stoppage) atau rerata peluru ditembakkan sebelum terjadi satu kasus kemacetan senjata, sebesar 1:2.500, naik 500% dari persyaratan ARMY(AUST)6443 yang menghasilkan F88. Angka MRBF (Mean Rounds Before Failure) juga naik, menjadi 1:6.000 dan kalau bisa 1:10.000.

(Ki-Ka)  Lance Corporal John Smith, Private Kelly O’Neill dan Private Scott Burke dari the 5th Battalion Royal Australian Regiment membandingkan F88 dan EF88 dalam tes pengujian EF88 (Credit: Australian Army)
(Ki-Ka) Lance Corporal John Smith, Private Kelly O’Neill dan Private Scott Burke dari the 5th Battalion Royal Australian Regiment membandingkan F88 dan EF88 dalam tes pengujian EF88 (Credit: Australian Army)

Tak perlu jauh-jauh, Thales Australia mengajukan F88, namun dengan perubahan radikal dalam purwarupa yang disebut XF90CD. Berbeda dengan evolusi AUG dari Steyr yang menghasilkan AUG A3 yang kini diantaranya digunakan oleh Polri, Thales Australia merilis program tersebut secara resmi sebagai Enhanced F88 (EF88) yang boleh dibilang meninggalkan pakem standar dari Steyr AUG. Kalau melihat sosoknya, hilang sudah aura seksi AUG yang receiver polymernya memiliki lekukan bak gitar Spanyol. Varian EF88 yang kini tengah dikembangkan oleh Thales Australia memiliki bentuk receiver, yang dalam bahasa penulis, bak receiver Steyr AUG yang disuntik dengan steroid. Receivernya kini amat berotot dari depan sampai dengan belakang, dengan dua opsi warna, tan atau hitam solid.

Biarpun bentuknya berubah kaku, namun perubahan tersebut membawa angin segar pada prajurit penggunanya. Ergonomi benar-benar diperhatikan. Sebagai contoh, buttpad berbahan karet yang pada AUG bentuknya mulus, pada EF88 dibuat sedikit lebih tebal dengan beberapa rusuk horizontal dan satu rusuk vertikal. Tujuannya apalagi kalau bukan memantapkan dudukan senapan saat dibidikkan ke bahu yang dilindungi rompi anti peluru. Apabila buttpad dibuka, kini ada dua ruang di bagian belakang receiver. Sisi atas menjadi tempat akses ke mekanika penembakan, sementara ruang dibawahnya disiapkan sebagai tempat untuk peralatan elektronik seperti chip RIC (lihat boks). Hal ini menyebabkan sisi belakang bawah receiver polymer EF88 membesar dengan bentuk trapesium yang memiliki garis yang tegas.

Prajurit AD Australia Private Ben Rue dari2nd Battalion, Royal Australian Regiment, menggunakan EF88 yang dipadu dengan optik ACOG dalam event AASAM 2016.
Prajurit AD Australia Private Ben Rue dari2nd Battalion, Royal Australian Regiment, menggunakan EF88 yang dipadu dengan optik ACOG dalam event AASAM 2016.

Sementara itu, di bagian atas belakang kini juga memiliki landaian yang meninggi, tepat dimulai dari sisi atas lubang keluarnya kelongsong (ejection port) Landaian ini menjadi tempat yang nyaman untuk menaruh pipi saat membidikkan EF88, dan mempermanis bentuk karena landaian ini ditempel oleh rel picatinny dari upper receiver EF88. Lubang kelongsong dari EF88 juga diperpanjang 4mm, untuk mencegah kelongsong terjepit di lubang keluar akibat ekstraksi yang kurang sempurna, kasus yang sering ditemui pada F88. EF88 sendiri mempertahankan modularitas lubang kelongsong, dimana kelongsong dapat disetel keluar dari lubang kiri atau kanan. Penutup lubang kelongsong yang tak digunakan juga diperkuat, agar tidak lepas akibat getaran penembakan. Terdapat dua lubang berbentuk kotak pada sisi atas lower receiver yang bertemu dengan rel Picattinny dari upper receiver. Dua lubang kotak di setiap sisi yang posisinya berada di atas grip utama ini berfungsi sebagai ventilasi tambahan, mengurangi panas berlebih dari laras dan gas sisa yang dibuang dari dalam sistem gas EF88.

Berpindah ke upper receiver, EF88 meredesain ulang upper receiver yang kini menyatu dengan laras. Perubahan ini menyebabkan EF88 bercerai dengan fitur AUG yang paling terkenal, ganti laras secara modular. EF88 kini tidak lagi memiliki kemampuan untuk mengganti laras dengan cepat, karena larsnya kini dipantek ke upper receiver. Berbeda dengan AUG yang menggunakan upper minimalis, EF88 menampilkan upper receiver masif, berbentuk mengotak dari bahan alumunium. Sisi atasnya menampilkan rel Mil-STD-1913 memanjang sampai melebihi batas lower receiver polymer, memungkinkan pemasangan optik secara combo (2 optik menjadi satu). Upper receiver ini memiliki tiga lubang kotak yang dapat difungsikan sebagai carry handle atau gagang pembawa. Pada sisi kanan (dapat dipindahkan ke kiri) tersedia satu rel tambahan yang terbuat dari polymer untuk memasang senter atau laser. Sementara itu, di sisi bawah tersedia sebaris rel Picatinny, cukup untuk menempelkan aksesoris front grip dari pihak ketiga, atau bila dibutuhkan, bipod seperti Harris SL yang akan menjadi aksesoris manis bagi varian EF88 untuk tembak jitu.

Tampilan EF88 dari sisi sebelah kiri (Credit: Australian Army)
Tampilan EF88 dari sisi sebelah kiri (Credit: Australian Army)

EF88 meninggalkan front grip bawaan standar AUG yang melipat kedepan, untuk memberikan preferensi sesuai keinginan pengguna. Hilangnya front grip ala AUG ini juga disebabkan oleh perubahan pada lower receiver EF88. Jika pada AUG/ F88 trigger guardnya melandai, maka pada EF88 diperbesar dan bagian depan dari trigger guard ini dibuat menebal sampai berbentuk segitiga jika dilihat dari sisi-sisinya. Penebalan ini dibutuhkan untuk menyediakan dudukan belakang dari sistem pelontar granat baru buatan Madritsch Weapon Technology yang berkode ML40AUS. ML40AUS dibuat oleh MWT dengan menggunakan campuran baja (laras), alumunium (mekanik penembakan) dan polymer (rumah laras) sehingga sangat ringan. Walaupun menembakkan amunisi 40x46mm standar seperti M203, ML40AUS menawarkan keunggulan berupa sistem bukaan breech yang membuka ke samping kiri (serupa dengan HK40GL) sehingga mampu memuat proyektil granat berukuran panjang, lebih baik dari M203. Selain itu, sistem pelatuk pada ML40AUS juga menggunakan tuas dengan loop yang ditarik, dimana pada saat terpasang ML40AUS memosisikan pelatuk tepat menembus sisi depan trigger guard. Pengguna EF88 tinggal memanfaatkan jari tengah yang menggenggam pistol grip untuk menarik pelatuk ML40AUS, tanpa perlu merubah genggamannya, seperti yang saat ini berlaku apabila menembakkan M203PI. ML40AUS menempel pada rel bawah dari upper receiver, sehingga tak menimbulkan beban berlebih pada laras.

EF88/F90 field strip (ki-ka): bolt carrier, upper receiver dan laras, lower receiver berbahan polymer (Credit: Thefirearm blog)
EF88/F90 field strip (ki-ka): bolt carrier, upper receiver dan laras, lower receiver berbahan polymer (Credit: Thefirearm blog)

Sementara untuk laras, Thales tetap mempercayakan fasilitas eks ADI di Lithgow untuk membuat laras dengan metode cold hammer forged yang merupakan satu-satunya fasilitas dengan kemampuan canggih di belahan bumi Selatan. Namun sesuai dengan perkembangan teknologi, laras untuk EF88 dilengkapi cerukan (flute) memanjang untuk membantu pemuaian panas dan menjaga agar laras tetap dingin. Thales menyiapkan tiga macam laras, mulai dari 20 inci, 16 inci, dan 14 inci, walaupun penggantiannya kini tak dapat dilakukan di lapangan. Berpindah ke pelatuk, EF88 tetap mempertahankan moda setelan pelatuk AUG, walaupun sedikit dimodifikasi. Ini berarti tarikan setengah jalan, seberat 2,5kg, untuk penembakan semi auto. Apabila ditarik penuh, dengan beban 5kg, barulah EF88 akan menyalak dan memuntahkan seluruh isi magasen selama pelatuk ditarik oleh penembak. Ketika seluruh peluru dalam magasen sudah habis, penembak mengganti magasen dengan menekan tuas dibelakang magasen, masih sama dengan AUG atau F88. Yang berbeda, kini penembak tak lagi harus mengoperasikan tuas pengokang, ia hanya perlu menekan tuas bolt stop yang berbentuk persegi panjang hitam di bagian belakang receiver, untuk mengembalikan bolt ke arah depan. Versi milik AD Australia kelihatannya akan tetap mempertahankan pemasangan fitur tuas ALO (Automatic Lock Out) yang apabila diaktifkan, akan mencegah EF88 untuk ditembakkan secara otomatis, yang tentunya menghemat peluru yang digunakan.

Apabila EF88 mampu memberikan performa sesuai janjinya, maka AD Australia boleh tenang karena EF88 memberikan hasil yang menjanjikan saat diuji di laboratorium. Prajurit AD Australia akan merasakan nilai tambah, karena walaupun sudah dimodifikasi habis-habisan dengan penambahan seabrek fitur, namun bobot EF88 tetap hemat bobot. Tercatat untuk varian laras 20cm dan ML40AUS terpasang, bobotnya 0,5kg lebih ringan dibandingkan dengan F88SA2 dengan M203PI terpasang. Dalam varian dasar laras 20 inci plus optik, bobotnya hanya 3,63kg dengan peluru, kurang lebih setara dengan HK G36. Bandingkan dengan F88SA2 yang bobotnya 4kg lebih.

EF88 juga menawarkan ergonomi yang jauh lebih baik, dengan perubahan titik berat yang kini digeser ke arah belakang, sehingga mengurangi dampak recoil yang terjadi dan menambah kemantapan bidikan. Faktor lain yang ditingkatkan tentunya adalah akurasi, yang kini tak lagi mengandalkan teropong bawaan berlensa Swarovski dan retikula berbentuk cincin. Trjicon selaku produsen optik jarak menengah ACOG kini dipilih sebagai pemasok untuk optik EF88. Ada dua varian yang digunakan, dimana untuk senapan serbu standar pilihan optiknya adalah Trijicon TA44SR-10 1,5×16 dengan pembesaran 1,5x. Walaupun tak menawarkan kelebihan dalam hal pembesaran, TA44SR yang salah satu variannya juga merupakan optik pilihan untuk peluncur roket pintar NLAW menawarkan retikula yang disinari tritium dalam kondisi gelap, ideal untuk operasi malam, dan kejernihan pandang yang sukar ditandingi oleh optik lain berkat keberdaan fiber optik yang mengumpulkan cahaya. TA44SR-10 juga jauh lebih ringan dibandingkan optik standar F88SA2. Sementara untuk varian tembak jitu, tersedia Trijicon ACOG 4×32 dengan retikula BAC (Bindon Aiming Concept) yang dapat digunakan pula untuk pertempuran jarak dekat dengan kedua mata penembak terbuka.
F1A1

Satu lagi yang turut dipersiapkan Thales untuk mendampingi EF88 dan memenuhi pesanan Land 125 Phase 3C adalah penggunaan peluru baru berkode F1A1 yang akan menggantikan peluru lama F1. Sama seperti F1, peluru F1A1 dibuat di Defence Munitions Plant di Mulwala yang dimiliki ADI dan kini dikuasai oleh Thales. F1 generasi pertama diciptakan bersama F88 sesuai dengan proyeksi ADF (Australian Defence Force) pada 1990 yang diwarnai pengetatan anggaran pertahanan. Dengan fokus pada pertahanan dalam negeri (Defence of Australia), F1 diciptakan sesuai iklim arid kontinental Australia, dimana peluru tersebut dioptimalkan untuk tidak terpengaruh perubahan suhu yang ekstrim panasnya. Sebagai akibatnya, peluru F1 didesain dengan spesifikasi yang sedikit berbeda dibanding M855/SS109 dengan kelongsong yang sedikit lebih panjang. Sebagai akibatnya, saat pasukan Australia harus diterjunkan ke tempat seperti Irak, mereka harus membawa suplai amunisinya sendiri. Induk pasukan khusus Australia, SOCOMD, menolak penggunaan F88 dan menggantinya menjadi M4A1 untuk pasukan khusus Australia. Penggunaan amunisi SS109/M855 di F88 menimbulkan sejumlah kasus keretakan pena pemukul (firing pin) pada F88, terutama apabila F88 ditembakkan dalam moda otomatis.

Atas dasar tersebut, Land 125 Phase 3C memandatkan bahwa EF88 harus dapat dioperasikan dengan mengakomodasi munisi Sekutu yang ada dalam NATO. Thales memodifikasi firing pin pada EF88 agar mampu menembakkan munisi F1 dan F1A1. Apabila dilihat dari spesifikasinya, F1A1 sebenarnya tak lebih dari M855. Perubahan yang dilakukan adalah penggunaan propelan standar NATO dengan kode ARV2210V01 yang bertipe single base propellant (propelan dengan satu bahan peledak). Perubahan lain dari F1A1 adalah penggunaan dinding kelongsong yang lebih tebal dan mangkuk primer desain baru dengan ketebalan yang lebih tipis. Kepala proyektil F1A1 mengalami perubahan pada diameter meplat (ujung proyektil) dan panjang ekor proyektil, yang kini semakin mendekati spesifikasi M855. Untuk menunjukkan keserupaan dan standarisasi NATO, maka peluru F1A1 kini menyandang pewarnaan hijau pada kepala proyektilnya, sama seperti M855.

Dengan jalan yang lapang terbentang, Thales Australia cukup percaya diri bahwa EF88 akan menjadi senapan serbu yang mampu menjawab kebutuhan AD Australia dan bahkan militer dunia. Pengujian berjalan dengan cukup lancar, dan bahkan telah mendekati garis akhir. Lebih dari 700.000 butir peluru F1 dan F1A1 ditembakkan dari purwarupa EF88 yang ada. Pengujian akhir dilakukan dengan memilih secara acak 4 purwarupa EF88, yang kemudian masing-masing ditembakkan 6.000 kali. Apabila terjadi kasus senapan macet lebih dari 2 kali, tamatlah sudah, namun EF88 dapat melaluinya dengan baik, bahkan ketika pengujian dilakukan sampai penembakan 12.000 butir peluru. Tidaklah mengherankan, ketika kemudian induk perusahaan Thales Australia yaitu Thales Defence membawa EF88 dan memasarkannya sebagai F90 dalam pameran bergengsi Eurosatory 2012 yang lalu. Ini merupakan penawaran yang cukup menarik untuk pengguna Steyr AUG yang ada saat ini. Tertarik?

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *