Meltem II Turki, Sempurnanya Varian Patroli Maritim CN-235

CN-235-100 Meltem II untuk Turki, perhatikan beragam sensor yang terpasang
CN-235-100 Meltem II untuk Turki, perhatikan beragam sensor yang terpasang

Bicara poros maritim adalah bicara mengenai kemampuan negara untuk mengawasi dan menegakkan kedaulatan maupun hak berdaulat di wilayah perairan sampai ke batas-batas terluarnya. Untuk sebuah negara kepulauan, kemampuan mengawasi laut dan segala aspeknya menjadi suatu hal yang tidak bisa ditawar. Jika Indonesia masih saja berkutat pada wacana, lihatlah Turki. Mereka sudah mengembangkan platform Meltem untuk pesawat terbangnya sampai tiga tahap, yang diperuntukkan bagi fungsi patroli maritim dan juga penindakan, khususnya fungsi anti kapal selam (AKS) dan anti kapal permukaan.

Baca juga: Semua tentang CN-235 Indonesia

Tahapan Meltem sendiri dimulai dari tahap pertama yaitu akuisisi platform pesawat patroli maritim, dalam hal ini pembelian tiga pesawat CN-235 dari CASA Spanyol untuk pengawasan ZEE dan digunakan oleh Penjaga Pantai Turki. Pembelian tiga pesawat tersebut dilanjutkan dengan enam pesawat lagi yang dipersiapkan untuk misi anti kapal permukaan dan juga anti kapal selam. Meltem tahap II sendiri difokuskan pada integrasi avionik dan perangkat misi yang dibutuhkan. Sementara untuk Meltem III diwujudkan dalam bentuk platform pesawat baru ATR-72 meninggalkan CN-235.

CN235_ASW_Thales_MELTEM_II_TAI

Proyek Meltem II sendiri tergolong ambisius dan belum pernah dijalankan sebelumnya: Mengubah CN-235 menjadi punya kemampuan anti kapal selam dan anti kapal permukaan sekaligus. Kontrak senilai 400 juta Euro (US$491 juta) dikucurkan untuk mengubah sembilan pesawat CN-235 dari versi angkut militer menjadi pesawat yang bisa beroperasi, mendeteksi, dan menghancurkan kapal selam maupun kapal permukaan. Konfigurasinya dibagi menjadi enam pesawat patroli maritim (dengan kemampuan gotong torpedo) untuk AL Turki dan tiga pesawat pengamatan maritim/ surveilans untuk Penjaga Pantai Turki. Setelah dilakukan tender, pemenangnya adalah perusahaan Thales Airborne Systems Perancis, yang menggandeng TAI (Turkish Aircraft Industries), Havelsan, Aselsan, Marinex, dan Milsoft.

Konsol AMASCOS 200 Mission Systems yang sedang dioperasikan oleh spesialis misi
Konsol AMASCOS 200 Mission Systems yang sedang dioperasikan oleh spesialis misi

Dari pihak pemerintah Turki, ambisi Turki sangat besar untuk mengintegrasikan berbagai perangkat misi ke dalam CN-235, termasuk subsistem buatan dalam negeri sendiri. Di sisi lain, banyak kritisi yang menyatakan bahwa CN-235-100 yang akan dijadikan platform sebenarnya tidak layak dan hampir di luar batas kemampuannya sendiri. Kecelakaan beruntun dan fatal dari CN-235 Turki pun hanya menambah ketidakyakinan banyak pihak akan kemampuan pesawat angkut taktis yang satu ini. Betapapun, proyek jalan terus walaupun ternyata benar bahwa integrasinya bermasalah, dan bahkan molor hingga dua tahun lebih. Pada akhirnya, delivery sistem untuk sembilan pesawat tersebut makan waktu sampai 12 tahun.

CN-235-100 Meltem II mengalami beberapa perubahan fisik dibandingkan dengan versi biasa. Yang paling kentara adalah pemasangan kaca gelembung di jendela belakang, yang merupakan stasiun untuk observer yang dapat mengamati permukaan laut dengan menggunakan teropong. Sisi bawah pesawat juga dimodifikasi untuk pemasangan FLIR tepat di bawah kokpit. Di dahi pesawat disiapkan antena ESM (Electronic Surveillance Measure), sementara di dekat sponson roda disiapkan fairing untuk radar pencari permukaan. Di belakang sponson juga disiapkan lubang-lubang untuk menjatuhkan sonobuoy. Di kiri-kanan belakang bodi pesawat dipasang lagi antena ESM untuk memastikan cakupan 360 derajat dalam mendeteksi emisi radar lawan, memberikan kemampuan AEW&C (Airborne Early Warning & Control) sekunder bagi CN-235 Meltem II untuk mendeteksi dan mengarahkan pesawat tempur kawan ke vektor yang diduga adalah posisi musuh.

Perhatikan detail antena MAD yang terpasang di ekor CN-235 Meltem II
Perhatikan detail antena MAD yang terpasang di ekor CN-235 Meltem II

Thales sendiri membenamkan AMASCOS 200 mission system sebagai pengendali dari sejumlah sistem sensor yang terpasang pada CN-235 Meltem II. Varian Turki ini menggunakan subsistem lengkap sebanyak 4 konsol, hanya kurang satu konsol dari konfigurasi maksimal sistem AMASCOS. Untuk pengamatan di lautan yang luas, CN-235 Meltem II dilengkapi dengan sensor elektro optik ASELFLIR-200 Thermal Imaging System. ASELFLIR-200 menggabungkan antara kamera siang, Forward Looking Infra Red untuk penginderaan dalam cuaca buruk, dan laser rangefinder untuk pengukuran jarak ke permukaan. Sistem ini dapat berputar 360 derajat dan di-zoom untuk mengamati objek berukuran kecil di permukaan.

Sistem avionik yang ditanamkan sebagai bagian dari Meltem II mencakup sistem Northrop Grumman LN100GT Inertial Navigation Unit/ GPS navigation systems. Seluruh panel manual di kokpit juga diganti dengan Thales TMS 2000 Multi Function Display (MFD) yang memudahkan pilot untuk mencari informasi yang dibutuhkan. CN-235 Meltem II pun sudah dipasangi sistem Datalink Link-16 dan Link-11 Data Link Processor untuk terhubung di dalam jaringan baik antar pesawat dengan pesawat (Link-16) maupun pesawat dengan pesawat AWACS AU Turki dan kapal perang milik AL Turki (Link-11).

Sonobuoy yang digunakan oleh Meltem II
Sonobuoy yang digunakan oleh Meltem II

Sistem proteksi pada CN-235 Meltem II disediakan melalui sistem Aselsan ASES-235M Electronic Warfare Self Protection Electronic Suits yang menyediakan kapabilitas anti jamming dan deteksi terhadap ancaman rudal berpemandu radar maupun pencari panas, serta terhubung otomatis dengan sistem pelontar chaff atau flare untuk menghindarkan diri dari rudal. Perangkat deteksi permukaan disandarkan pada sistem Thales Oceanmaster radar dengan kemampuan sapuan sampai 200 mil laut. Untuk berburu kapal selam, CN-235 Meltem II dapat menjatuhkan sonobuoy untuk mendengarkan sinyal akustik di bawah air. Perangkat MAD (Magnetic Anomaly Detector) dipasang pada ‘sengat’ yang terpasang di ekor yaitu AN/ASQ-508 Magnetic Anomaly Detector. Apabila terdeteksi adanya kapal selam lawan, penindakan dapat dilakukan dengan penggunaan torpedo Mk46 atau Mk54 yang dapat dipasang pada pylon di bawah sayap. Alternatifnya bila tidak menggunakan torpedo adalah dengan menjatuhkan depth charge.

CN-235 Meltem II menjatuhkan Mk46 torpedo dari pylon di bawah sayap
CN-235 Meltem II menjatuhkan Mk46 torpedo dari pylon di bawah sayap

Untuk keselamatan awak dari CN-235 Meltem II, Marinex menyediakan perangkat parasut dan survival untuk seluruh kru, perahu karet, sistem pembuangan bahan bakar, pemadam api otomatis, dan tandu. Sistem pelontar perahu karet yang dikemas dalam bentuk silinder melalui pintu rampa belakang juga disiapkan. Untuk operasi SAR terhadap pilot yang jatuh di laut, CN-235 Meltem II juga dilengkapi dengan PRC-434 pilot search and rescue manual radio. Untuk operasi jarak jauh berdurasi panjang Marinex juga menyediakan sistem OBOGS (On Board Oxygen Geerating System) sehingga awaknya tidak mudah lelah.

Sebagai gambaran, CN-235100 Meltem II milik AL Turki/ Coast Guard Turki ini jauh lebih lengkap dan lebih sempurna dibandingkan dengan CN-235 MPA yang digunakan oleh TNI AL. CN-235 MPA milik TNI AL tidak hanya terbatas pada sistem sensor yang digunakan, melainkan juga tidak mampu melakukan penindakan apabila menghadapi kapal perang asing atau kapal selam lawan yang memasuki wilayah kedaulatan Republik Indonesia. Kemampuannya masih sebatas menemukan dan mengidentifikasi kapal yang ada di permukaan.

Credit: Turkishnavy.net, TAI, Aselsan

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *