LMTV, Babi Perang Green Beret yang Banyak Jasanya

Jika selama ini pembaca mungkin lebih mengenal kapal induk milik Angkatan Laut Negara-negara maju, ternyata di darat pun ada pula kapal induk. Tetapi jangan bayangkan kapal raksasa melaju di permukaan tanah, kapal induk yang satu ini adalah kepunyaan pasukan khusus.

Sudah sifat asasinya sebagai pasukan khusus, operasi berani di garis belakang lawan bisa dilakukan tanpa suatu kepastian. Tidak pasti kapan berakhirnya karena bisa saja diperpanjang atau penjemputannya tertunda, dan tidak pasti pula kapan akan dilakukan resuplai. Padahal pasukan khusus yang menggunakan kendaraan patrol jarak jauh (LRPV-Long Range Patrol Vehicle) rata-rata sudah menganut kemampuan endurance antrara lima sampai sepuluh hari penuh. Akan tetapi, mengingat medan yang seringkali berat dan jauhnya jarak yang harus ditempuh menyebabkan durasi kapabilitas kendaraan menjadi jauh lebih pendek dari yang direncanakan.

Disinilah peran ‘kapal induk’ berupa truk pegang peranan. Truk-truk kelas medium seperti Unimog, Pinzgauer, dan M1078 MTLV (Medium Tactical Load Vehicle) dijadikan ‘kapal induk’, membawa perbekalan seperti bahan bakar, pelumas, ban cadangan, suku cadang, ransum, amunisi, dan sebagainya. Pendeknya truk-truk yang tadinya sekedar cargo hauler ini berubah menjadi bengkel dan gudang logistik berjalan. Truk taktis secara tidak langsung menjadi penentu kemenangan dalam pertempuran dengan dinamika tinggi.

United States Special Forces alias Green Beret adalah salah satu pemakai ‘kapal induk’ darat ini saat ditugaskan di Irak Barat. Mereka menyadari betul, daya tembak superior memenangkan pertempuran, tetapi logistik memenangkan perang. Mereka tidak bisa mondar-mandir mengisi perbekalan setiap saat, karena kurangnya pasukan kawan, dan juga momentum manuver maju yang harus dipertahankan. Kekurangan armada yang dapat menyuplai GMV (Ground Mobility Vehicle) yang mereka gunakan, USSF harus putar otak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Waktunya juga sangat pendek, 3rd dan 5th Special Forces Group sudah akan digelar dalam operasi Iraqi Freedom sebagai pembuka jalan. Mereka harus mencakup jalan yang jauh, menjalin kontak dengan orang-orang Kurdi untuk menggalang dukungan dalam menggulingkan Saddam Hussein. Maka, muncullah dengan apa yang disebut truk resuplai alias War Pig, babi perang.

war pig

Kebetulan, mereka memiliki M1078 LMTV (Light Medium Tactical Vehicle) yang dipakai di Bragg sebagai kendaraan kargo serbaguna. LMTV adalah varian 2,5 ton dari keluarga besar FMTV (Family of Medium Tactical Vehicle) yang diadopsi dari truk taktis Steyr 12M18. FMTV sendiri adalah keluarga besar truk sedang-ringan milik AD AS, dengan total 14 varian yang berbeda-beda. FMTV didesain dengan sasis standar – 80% komponen mulai dari mesin, transmisi, ban, sampai kabin dibuat serupa, hanya sasisnya saja yang berbeda sesuai dengan tonase yang dibutuhkan.

Pembuat FMTV yaitu Stewart & Stevenson Tactical Vehicle Systems Lp berhasil membuat produk jawara setelah start yang buruk: kendaraannya nyaman dikemudikan bahkan dalam jarak jauh, radius putarnya cukup kecil, perawatannya juga mudah karena seluruh komponen fast moving sudah ditaruh di bawah kabin utama dan mudah diakses. Varian LMTV yang ada di USSF dengan segera dipilih untuk dijadikan platform induk untuk GMV dan pickup yang digunakan operator di lapangan. Dengan kapasitas angkut 2,5 ton dan bahkan lebih setelah dilakukan modifikasi, tentu kendaraan ini jadi mampu digunakan untuk setidaknya mengisi perbekalan untuk tiga sampai empat kendaraan. Bahan bakar dan air mungkin bisa diatur, namun amunisi menjadi sangat vital karena kemungkinan kontak tembak yang sangat tinggi. Maklum, USSF seperti masuk tepat di tengah sarang tawon ganas.

Ubahan pertama pada LMTV dilakukan sepenuhnya di dalam bengkel milik USSF, dengan bahan-bahan seadanya. Sebagian konon dibeli dari Home Depot, toko supermarket bangunan yang banyak terdapat di Amerika Serikat. Bagian yang rawan seperti tangki bahan bakar dilapis dengan pelat baja untuk menjauhkannya dari peluru yang dapat memantik api. Kabin depan atapnya dipotong semua, benar-benar tanpa sisa. Jadi kalau anda duduk di dalam LMTV ini, yang anda bisa lihat hanya dashboard, selebihnya sudah dipapas habis pada bagian atas.

Seluruh instrumen seperti penunjuk kecepatan dan tachometer serta indikator bahan bakar dibiarkan sesuai aslinya, termasuk roda kemudi di sebelah kiri. Kursi untuk dua orang ditambahkan di dek tengah, dibuat berhadap-hadapan. Di sambungan dek dengan kabin dibuat sebagai tempat penyimpanan kotak amunisi 5,56mm, 7,62mm, dan 12,7mm. Lebih dari 60 kotak amunisi bisa dibawa, cukup untuk menyuplai GMV dan pasukan yang membutuhkan. Di bagian depan kabin tidak diisi dengan bullbar yang gagah, tetapi diganti dengan rak memanjang, lagi-lagi untuk diisi dengan jerigen bensin dan air minum.Sebanyak 12 jerigen kapasitas 20 liter bisa diangkut di rak depan tersebut.

Dek belakang dilapis ulang dengan alumunium matting dan berbagai macam rak. Dek ini didesain untuk dapat membawa 36-40 jerigen bahan bakar, 20-24 jerigen air minum, empat buah ban GMV cadangan, dan puluhan rak amunisi. Seluruh jerigen dan kotak amunisi ditaruh dalam rak yang memanjang di dek belakang, sehingga bagian tengahnya kosong dan dapat digunakan sebagai tempat duduk. Tabung-tabung peluncur roket seperti AT-4 dan javelin cukup ditumpuk sekenanya, sekedar diikat dengan strap. Di kiri-kanan dek diisi dengan cantelan untuk tandu, jarring kamuflase, ransel, dan perlengkapan lainnya, semakin tebal semakin baik karena diharapkan bisa menahan peluru.

Satu unit crane dipasang di sisi kiri dek belakang, dapat digunakan untuk menaikkan drum-drum bahan bakar kapasitas 55 galon ke atas dek. Setelah semua perbekalan ditempatkan, para personel USSF tinggal menempatkan sebilah papan di atas jerigen sebagai tempat duduk atau menaruh ransel, dan LMTV pun siap beraksi mengisi perbekalan tim ODA dari satu titik ke titik lainnya. Untuk mempermudah komunikasi, sistem radio satelit aman juga dipasang di War pig, supaya memudahkan komunikasi dengan ODA atau untuk menghubungi pesawat CAS (Close Air Support) apabila membutuhkan bantuan.

Satu War Pig didesain untuk dapat mencakup 2 ODA dan memperpanjang misi sampai 10 hari kedepan dengan perlengkapan yang memadai. Satu-satunya fitur ofensif yang dimiliki oleh LMTV hanyalah dudukan tiang pedestal untuk senapan mesin berat M2HB atau pelontar granat Mk19 Mod 0/1 tanpa perisai khusus di dek belakang. Satu dudukan senjata lagi disiapkan untuk komandan atau awak yang duduk disamping pengemudi, sehingga dapat membantu melindungi bagian depan kendaraan. Pokoknya, tim yang mengendarai War Pig ini harus betul-betul hati-hati. Tidak ada ceritanya melaju kencang sambil melepas tembakan. Kalau ada musuh ya sebisa mungkin melarikan diri, biar GMV yang ambil alih untuk menghantam lawan.

LMTV in Action

Setelah LMTV modifikasi ini jadi, kendaraan ini diberi nama GRV (Ground Resupply Vehicle). Nama ini tidak bertahan lama, karena personel Green Beret lebih suka menyebutnya War Pig, sesuai judul lagu legendaris dari grup metal Black Sabbath. War Pig atau sering juga disebut Mothership dioperasikan oleh Operational Detachment Bravo (ODB) dari 3rd Battalion/ 3rd SFG (3/3rd). yang bertugas menangani koordinasi lapangan (C&C- Command & Control) serta melakukan operasi resuplai pada pasukan di lapangan secara mobil, tak tergantung pangkalan aju yang saat itu tentu saja belum ada di Irak.

33grvoda394gmvdebeckapa

GRV ditaruh di bawah ODB 390 (“C” Company, 3/3rd SFG – The Roughnecks), yang harus mendukung empat ODA (Operational Detachment Alpha) 391, 392, 394, dan 395 yang kesemuanya total memiliki 16 GMV. Bukan hal yang mudah untuk memindahkan GRV, karena semuanya harus diangkut dengan C-17 Globemaster III. Dari Green Zone, ODB 390 bergerak ke Halabja, memadamkan aksi terorisme dari Ansar al Islam, lalu berpindah ke Irbil, dan akhirnya merebut ladang minyak Kirkuk.

War Pig dari ODB 390 berperan sangat vital dalam pertempuran Debecka Pass – pertempuran paling dahsyat yang dihadapi oleh USSF melawan konvoi tank dan ranpur Irak. Hanya dengan bermodalkan Javelin ATGM, operator dari ODA 394 dan 395 dengan gagah berani melawan pasukan yang jumlahnya sangat besar. GRV yang dipimpin oleh danki Mayor Curtis Hubbard pegang peranan paling vital, melintasi medan pertempuran yang dihujani mortir untuk mengisi ulang amunisi dan cadangan rudal Javelin untuk para operator di dalam GMVnya. Tercatat sebanyak dua kali War Pig melaksanakan pengisian amunisi ke GMV selama pertempuran yang berlangsung sepanjang siang tersebut, sehingga ODA 394 dan 395 berhasil menahan dan bahkan menghancurkan sejumlah T-55 dan sejumlah ranpur MT-LB milik Irak.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *