Krisis Penyanderaan Beslan, Jangan Pernah Terjadi Lagi

Amerika berhadapan dengan wajah terror pada 11 September 2001. Pada hari laknat itu, dua menara kembar WTC, diluluhlantakkan oleh 2 pesawat yang dengan sengaja ditabrakkan oleh teroris binaan Al Qaeda.

Lokasi Beslan di Ossetia Utara
Lokasi Beslan di Ossetia Utara

Tiga tahun kurang sepuluh hari kemudian, Rusia menghadapi serangan teror. Kejadian penyanderaan di sekolah No.1 di Beslan memang bukan yang pertama, juga jelas bukan yang terakhir. Namun even yang diliput secara luas oleh wartawan dan kantor berita diseluruh dunia ini sanggup mendirikan bulu kuduk dan membuat merinding. Serangan 11 September 2001, walau menewaskan lebih banyak korban jiwa, terasa jauh karena imaji yang tersaji hanya menara WTC yang runtuh seperti menara Uno. Pada kejadian penyanderaan Beslan, yang kita saksikan adalah wajah teror yang sebenarnya, clear and present danger. Darah yang bercucuran dari sandera, pembunuhan dengan sengaja, dan operasi antiteror yang gagal total. Apa yang sebenarnya terjadi, tidak ada yang pernah tahu dengan pasti. Cerita yang tersaji di sini merupakan kulminasi dari berbagai versi, yang mencoba mencari jalan tengah dari tragedi yang berlangsung selama tiga hari tersebut.

1 September dirayakan sebagai hari ilmu pengetahuan di Rusia, dimana siswa-siswa yang baru masuk sekolah akan datang dengan ditemani orangtuanya, dan akan diberikan orientasi oleh siswa-siswa di tahun terakhirnya yang sebentar lagi akan lulus. 1 September 2004 juga dirayakan seperti tahun-tahun sebelumnya oleh para siswa dari sekolah menengah No.1 Beslan. Sekolah ini terletak persis di jalan Comintern, yang merupakan salah satu jalan utama di North Ossetia. Gedung sekolah No. 1 terdiri dari hall utama yang memiliki 2 sayap. Sayap kiri dan kanan terdiri dari ruang-ruang kelas, sementara bangunan tengah, tepat setelah hall utama, adalah gymnasium atau tempat olahraga, yang dalam tiga hari akan menjadi tempat penuh teror.

Denah Sekolah No. 1 Beslan (Credit: BBC)
Denah Sekolah No. 1 Beslan (Credit: BBC)

Pada pukul 09.30, dua buah kendaraan meluncur mendekati lokasi sekolah, satu van GAZel dan satu truk GAZ-66. Isi penumpangnya, 30an pria dan wanita yang bertampang tegang. Sesampainya didepan sekolah, penumpang kedua kendaraan tersebut berlompatan keluar, menyandang AK-47 dan mengenakan balaclava. Lima polisi lokal yang melihat kejadian tersebut mendekat dan mencoba menghentikan mereka. Terjadi kontak tembak singkat, berujung pada tewasnya lima polisi dan satu penyerang. Tanpa adanya pihak lain yang menghalangi, para teroris leluasa memasuki halaman sekolah, menyerbu masuk kedalam aula, dan menggiring para siswa dan orangtuanya-nyaris 1,500 pria dan wanita, mulai dari kakek-nenek sampai bayi yang ada dalam dekapan ibunya, semua dikumpulkan di gymnasium. Para teroris, yang terus mengenakan balaclavanya, menggantungkan untaian bom di rangka baja langit-langit gymnasium. Para wanita teroris mengenakan rompi bom, siap meledakkannya demi apapun yang mereka percayai. Jendela-jendela dengan segera dipasangi kawat jebakan bom, pintu-pintu segera dipalang untuk mencegah orang lain masuk. Anak-anak dipaksa untuk melepaskan pakaian mereka, hanya mengenakan cawat ditengah suhu ruangan yang dengan segera naik karena begitu banyaknya orang yang dikumpulkan di gym. Sebagian anak didekatkan ke jendela sebagai perisai hidup, mencegah dilancarkannya operasi pembebasan. Sebagian dari teroris naik keatas loteng, mencari tempat strategis untuk memposisikan sniper.

Cuplikan video menggambarkan teroris yang mengumpulkan anak sekolah sebagai sandera (credit: rt.com)
Cuplikan video menggambarkan teroris yang mengumpulkan anak sekolah sebagai sandera (credit: rt.com)

Dalam sekejap, berita siang di Rusia segera menyiarkan pemberitaan mengenai penyanderaan di Beslan, walaupun hanya secara sekilas karena arahan Kremlin. Truk-truk berita dan wartawan menyerbu kota kecil di Propinsi Ossetia Utara tersebut. Para teroris, yang ternyata adalah gerilyawan Chechnya, mengeluarkan ancaman: limapuluh nyawa sandera untuk tiap nyawa salahsatu dari teroris Chechnya tersebut. Ingatan orang-orang di Moskow segera melayang ke kejadian dua tahun sebelumnya, penyanderaan di gedung teater Moskow, atau yang dikenal sebagai insiden Nord-Ost. Penyanderaan tersebut berujung tragedi, dengan tewasnya 129 sandera akibat menghirup gas beracun yang dipompakan pasukan khusus kedalam sistem ventilasi teater. Pelakunya, orang-orang Chechnya yang menuntut kemerdekaan, kembali mendalangi aksi di sekolah Beslan ini. Siaran televisi yang menyiarkan penyanderaan Beslan dengan segera membuat panik para orangtua murid, yang sebagian masih tinggal di rumah. Dengan segera mereka menuju sekolah, dimana para prianya menenteng senjata berburu mereka masing-masing. Yang tidak punya senapan api, membawa pisau, garpu tanah, atau senjata tajam apapun yang dapat mereka temui. Tampaknya mereka siap untuk melakukan perlawanan untuk membebaskan putra-putrinya.

Milisi lokal sebagai perespon pertama yang datang ke lokasi
Milisi lokal sebagai perespon pertama yang datang ke lokasi

Otoritas Rusia sendiri tidak mampu menyediakan penanganan yang cepat dan efektif. Juru bicara pemerintah menyatakan, jumlah sandera hanya sekitar 354, padahal nyata-nyata di Beslan angkanya 3 kali lipat dari jumlah tersebut. Rencana kontijensi penanganan teror di dalam negeri yang jatuh ke tangan FSB (Federal’naya sluzhba bezopasnosti Rossiyskoy Federatsii) juga tidak jalan. Berdasarkan pengalaman, FSB memiliki rencana operasional-taktis yang disebut Nabat. Dalam rencana strategis ini, tiap ada kejadian terror atau penyanderaan, kepala divisi regional kantor FSB setempat yang harusnya segera mengambil inisiatif dan memegang kendali atas operasi pengamanan dan penyelamatan, sebelum bantuan datang. Masalahnya, Jendral Andreyev yang memegang biro Ossetia, tidak punya asset dan dukungan dari pusat. Orang-orang FSB dari direktorat anti teror pusat memilih ‘cuci tangan’ dan melempar tanggungjawab kepada Andreyev. Hal ini mengingat situasi penyanderaan merupakan kondisi yang pelik, apalagi jika dilakukan oleh orang-orang Chechen. Setelah kasus Nord-Ost,para Jendral FSB dan juga MVD (Kemetrian Dalam Negeri) lebih memilih menyelamatkan karirnya masing-masing.

Tapi ada satu hal benar yang dilakukan oleh FSB: mereka mengirimkan pasukan kontra-teror terbaik dari Moskow: Alfa dan Vympel. Dua kesatuan dengan kemampuan antiteror terbaik yang dimiliki Rusia. Dua tim ini pula yang mengakhiri situasi Nord-Ost. MVD juga mengirimkan pasukan antiteror mereka, Vityaz, yang juga bermarkas di Moskow. Ketika perintah datang, pasukan keluar dari barak-barak mereka dengan menenteng berbagai peralatan tempurnya, yang semua dimuat kedalam ranpur BTR-60. Perintahnya hanya pergi ke Beslan, jadi mereka memuat segala senjata berat yang mereka punya: pelontar granat GP-30, pelontar roket incendiary RSPO-A Shmel, dan RPG-29. Iring-iringan BTR-60 menuju ke pangkalan udara Zhukovsky, dimana tiap kendaraan segera diparkir dan dikunci didalam perut Il-76 Candid yang membawa mereka ke Ossetia. Saat perintah datang, hanya sedikit anggota yang menonton televisi. Mereka juga belum menerima briefing apapun.

Pasukan Komando Rusia berjaga di perimeter
Pasukan Komando Rusia berjaga di perimeter

Sementara itu, situasi di Beslan tidak menunjukkan perkembangan berarti. Unit-unit paramiliter setempat gagal melakukan sterilisasi perimeter yang dipasang 225 meter dari gedung sekolah, orangtua murid yang kuatir, penonton, dan milisi bersenjata bersenjata bisa mendekat sampai di seberang jalan sekolah No.1, hanya berselisih 30 meter dari gerbang depan dan sebagian berkumpul di samping. Hal ini menyebabkan teroris menjadi tegang, dan menembak ke sembarang arah untuk mencegah orang mendekat. 20 pria orangtua murid juga dieksekusi secara biadab, mayatnya dilempar begitu saja keluar pintu. Hari pertama berakhir tanpa kemajuan apa-apa, kecuali tuntutan para teroris untuk mendatangkan Leonid Roshal, dokter anak yang pada insiden Nord-Ost menjadi negosiator bagi pemerintah Rusia. Tim Alfa dan Vympel yang sudah tiba, segera menempati gedung bekas institut radio yang terletak 100 meter sekolah untuk dijadikan pos observasi dan pusat kendali. Penempatan Alfa dan Vympel disini sebenarnya kurang ideal; para teroris Chechen bisa melihat pergerakan para personil dan bahkan menembaki para pasukan elit Rusia ini. Tidak heran, pada tengah malam, Alfa dan Vympel ditarik ke pusat kota.

Hari kedua 2 September, negosiasi yang dilakukan oleh dr. Roshal tak membuahkan hasil. Para pelaku di Beslan jauh lebih irasional dibanding di Nord-Ost. Baru ketika mantan Presiden Ingushetia, Ruslan Aushev datang, para teroris Chechen ini setuju untuk melepaskan 26 bayi dan ibunya. Kemajuan yang dicapai hanya itu, para teroris tetap tak mengijinkan pengiriman air, makanan, atau pakaian ganti. Situasi didalam gym tentu semakin tak mengenakkan. Bau menyengat kotoran manusia, keringat, dan muntahan menjadi satu. Para teroris tak mengijinkan satupun pergi ke kamar mandi. Setiap terdengar isak tangis, langsung didiamkan teroris dengan menembakkan senjatanya ke udara. Tanpa akses kedalam, orang diluar hanya bisa menduga-duga apa yang terjadi di dalam, tembakan peringatan, ataukah eksekusi?. Sementara itu, pandangan terbatas bisa didapat dari para penembak runduk Alfa dan Vympel yang menempatkan diri mereka di apartemen berlantai lima yang berselisih beberapa rumah dari lokasi sekolah. Dengan peralatan terbatas, mereka mendirikan sniper hide diatas meja-meja didalam ruangan. Senapan runduk standar mereka, VSS Vintorez, jauh lebih baik dari Dragunov yang dibawa oleh unit paramiliter. Jauh lebih senyap dan akurat, Vintorez lebih sesuai untuk situasi urban yang mereka hadapi.

Sebagian anggota lainnya mulai melakukan gladi operasi penyerbuan menggunakan mock up sekolah lain yang cetak birunya nyaris serupa dengan sekolah No.1. Sementara itu di Moskow, pemerintah Rusia menegaskan mereka tak punya opsi operasi serbuan taktis, segala situasi akan diselesaikan dengan negosiasi karena tidak stabilnya kondisi mental para teroris. Tapi para pemirsa televisi yang menyaksikan siaran pemerintah tak percaya begitu saja. Presiden Vladimir Putin, dirinya sendiri adalah ex agen KGB, adalah orang yang macho dan keras. Ia tak akan begitu saja member konsesi pada para teroris.

Pada hari ketiga, teroris mulai melunak. Karena kondisi yang semakin tak kondusif, ditambah bau mayat yang mulai membusuk karena udara hangat awal musim semi, para teroris mengijinkan ambulan untuk datang dan mengantarkan obat dan pakaian. Pukul 7 pagi, terdengar perintah di radio: “Status cadangan kalian dicabut, bersiaplah!” Pemerintah Rusia, yang walau secara resmi menempuh jalur negosiasi, ternyata menyiagakan Alfa dan Vympel sejak pagi hari. Tim-tim serbu dari Alfa dan Vympel mulai bergerak ke lokasi, ada yang naik BTR-60, ada yang berjalan kaki. 30 prajurit total, bergerak mengendap menuju sasaran. Sebagian lainnya naik ke lantai empat apartemen yang sehari sebelumnya dijadikan tempat mengintai. Sniper tambahan, penembak senapan mesin yang membawa PKM, dan penembak roket Shmel. Satuan Vityaz dari MVD menjadi pelapis di ring kedua, siaga dengan BTRnya. Cuaca hari itu berkabut, jarak pandang hanya 100-150 meter, sangat ideal untuk melancarkan pendadakan.

Sebagian mengepung sekolah dari sisi kiri, bersembunyi diantara bangunan-bangunan. Sementara itu, sebagian lagi menunggu di sisi kanan sekolah, berlindung dibalik tiang pagar. Para pasukan antiteror Rusia ini, yang mengenakan helm K6-3 Antlyn dan seragam kamuflase Flectarn-D yang tertutup rompi anti peluru 6B13 atau kamuflase flora dengan helm Sphera yang lebih baru, jelas terlihat berbeda dibanding unit-unit lokal yang seragamnya saja sudah compang-camping. Mereka dengan segera dihujani tembakan, dan beberapa terluka. Tapi mereka terus bergerak dan tak menembak balik.

beslan

Pada tengah hari, ambulan datang melalui pintu belakang pertama (ada dua pintu masuk belakang), dan langsung menuju pintu samping gym. Jururawat mulai menurunkan makanan, yang diangsurkan kedepan pintu. Sebagian mulai menjajarkan mayat untuk persiapan pemindahan. Tiba-tiba, terdengar ledakan sangat keras, atap gym runtuh dibuatnya. Penyebab ledakan ini simpang siur hingga sekarang. Ada yang menduga bom yang digantungkan jatuh ke lantai dan meledak, tapi ada pula yang menduga, salah satu penembak runduk Alfa menembak seorang teroris yang posisi kakinya menginjak picu bom.

Provokasi ini berakibat fatal. Dikagetkan oleh ledakan keras, semua sipil bersenjata langsung trigger happy. Mereka menembak kearah sekolah. Korban pertama adalah jururawat ambulan yang sedang berada di halaman. Marah karena merasa ditipu, para teroris yang berdiri di pintu mulai menembaki juru rawat yang kabur kocar-kacir. Sayang, 2 ambruk bersimbah darah. Namun disisi lain, ledakan tersebut juga membuka jalan, memecahkan barikade kaca jendela. Beberapa anak yang melihat kesempatan, memanjat jendela dan berlari keluar, dalam keadaan hanya mengenakan celana dalam, langsung masuk ke dekapan para pasukan khusus yang menunggu.

Anak-nak yang beruntung karena dapat keluar dan segera diselamatkan
Anak-nak yang beruntung karena dapat keluar dan segera diselamatkan

Beberapa yang melihat kawan-kawannya berlari menuju kebebasan mulai menyusul, sebelum teroris mulai menembaki mereka. Sekuensial kejadian ini terekam kamera televisi dan menjadi video dramatis yang disiarkan keseluruh dunia. Beberapa Alfa dan Vympel yang ada di sisi kanan bangunan bergerak mendekat, kali ini mereka menghajar teroris diatas dengan tembakan pelontar granat GP-30 yang dengan segera menemukan sasarannya. Peledak segera ditempelkan ke tembok, dan segera diledakkan, menciptakan lubang besar menganga. Sebagian personil Alfa dan Vympel langsung menerjang masuk, menerjang hujan peluru dan langsung balas menembak. Dalam kekacauan, para sandera yang tiba-tiba menemukan secercah harapan, langsung bergerak lari keluar. Para teroris yang kalah jumlah, mulai melarikan diri, bahkan dalam kekacauan tersebut, beberapa secara pengecut menyelamatkan diri dengan berbaur bersama sandera. Tapi yang lainnya tetap melawan, menemukan para personil Alfa dan Vympel yang berusaha keras melindungi sandera dengan tubuh mereka sendiri sebagai sasaran empuk. Dalam penyerbuan awal ini, tak kurang dari pemimpin regu Alfa gugur diterjang timah panas. Para personil Alfa dan Vympel yang kesulitan membidik antara sandera yang berlarian dan teroris berteriak-teriak via radio meminta bantuan.

Anak-anak yang berhasil menyelamatkan diri segera ditangani oleh pasukan Rusia
Anak-anak yang berhasil menyelamatkan diri segera ditangani oleh pasukan Rusia

Dari sinilah semuanya berakhir dengan kekacauan. Para Komandan lapangan, yang tidak disebutkan namanya, memerintahkan penggunaan senjata berat, walaupun evakuasi sandera belum benar-benar selesai. Satu BTR-60 milik MVD digerakkan mendekat dan diperintahkan menembaki jendela-jendela di lantai dua dengan kanon 14,5mm KPVT yang digunakannya. Seakan belum cukup, dua tank T-72 milik 58th Army yang disiagakan sejak 2 September, ikut menghujani bangunan dengan meriam 125mmnya, menembakkan peluru HE/AP (High Explosive/ Anti Personnel). Para personel Alfa yang bertempat di apartemen, juga menembak dengan senapan mesin maupun senapan runduk. Bahkan tercatat tiga kali Shmel ditembakkan ke lantai dua sekolah, yang pastinya membakar siapapun yang berada di balik jendela.

Akibat dari tembakan tersebut buat bangunan Sekolah No.1 yang hanya terbuat dari bata, rontok susul-menyusul. Atap yang sudah goyah karena ledakan pertama, akhirnya rontok dan runtuh setelah tak kuat menahan getaran, mengubur para sandera luka yang tak bisa bangun dan menyelamatkan diri. Para personil pasukan khusus Rusia melanjutkan pengejarannya ke lantai-lantai atas yang sudah dihujani tembakan tank. Karena terdiri dari ruang-ruang kelas, musuh banyak bersembunyi di dalamnya, pertempuran berubah menjadi pertempuran jarak dekat yang menguras energi dan meningkatkan ketegangan. Tak sedikit anggota Alfa dan Vympel yang kembali terluka. Karena kontak tembak tak kunjung usai, akhirnya diputuskan untuk menghabisi sniper yang bersembunyi diatas dengan tembakan meriam tank. 3 kali tembakan memungkasi pertempuran malam itu.

Sementara itu diluar, situasi krisis berkembang dalam bentuk lain. Paramedis dan pemadam kebakaran telat datang, menyebabkan banyak korban luka dan dehidrasi tak mendapatkan pertolongan secepatnya. Sebagian besar penduduk yang menonton memberikan air minum yang mereka punya; tentara menggendong bayi-bayi yang terpisah dari ibunya, atau ibunya meninggal dalam ledakan. Untuk sementara, situasi amat sangat kacau, seorang teroris yang berhasil diidentifikasi dan bernama Nur Pashi Kulayev ramai-ramai dipukuli oleh massa yang marah. Nyaris tidak ada penegakan aturan, milisi dan paramiliter reguler sudah lama lari saat pertempuran pecah.

Nur Pashi Kulayev, yang berhasil ditangkap hidup-hidup dan akhirnya dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya
Nur Pashi Kulayev, yang berhasil ditangkap hidup-hidup dan akhirnya dipenjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya

Bagi Alfa dan Vympel yang kelelahan setelah baku tembak, kondisi moral mereka jatuh ke titik terbawah. Komandan regu mereka gugur; nyaris semuanya terluka karena rikoset peluru atau pecahan granat. Keluar dari bangunan pada pukul 9 malam setelah bertempur selama tiga jam, nafas mereka sesak karena terlalu banyak menghirup asap. Tapi mereka harus mengumpulkan niat dan keberaniannya karena perintah selanjutnya datang: Menghabisi sisa teroris yang melarikan diri dan berkumpul di safe house. Setelah membebat luka-luka mereka dengan perban, mengisi ulang amunisi dan cadangan magasen, mereka bergerak lagi kearah safe house milik para teroris. Operasi pembersihan sarang teroris tersebut untungnya tidak makan waktu lama, karena sudah dihujani terlebih dahulu dengan senapan mesin, Shmel, dan RPG-18. Tepat pukul 24.00, operasi pembebasan yang makan 380 korban tewas ini berakhir. 31 teroris dari total 32 berhasil ditewaskan, 1 yang selamat bisa ditangkap. Para anggota Alfa dan Vympel, yang hari itu kehilangan 11 orang anggotanya yang gugur, mengakhiri operasi dengan toast vodka dalam sunyi, merayakan rekan-rekan mereka yang mengorbankan jiwanya untuk Ibu Pertiwi hari itu…

Para siswa yang selamat dengan latar belakang foto mereka yang meninggal dunia di tangan teroris (Credit: BBC)
Para siswa yang selamat dengan latar belakang foto mereka yang meninggal dunia di tangan teroris (Credit: BBC)

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *