Kisah Awal Mula Kehadiran F-5 di Bumi Pertiwi

F-5 TNI

Kiprah macan sangar F-5E/F Tiger II di dalam TNI AU mungkin sudah berakhir, meninggalkan jejak gemilang pengabdian selama lebih dari tiga dekade.

Yang tertinggal hanya kenangan kalau F-5E/F Tiger II pernah begitu perkasa dalam mengawal wilayah udara tanah air, dari Sabang sampai Merauke. Yang ditunggu adalah realisasi pesawat tempur pengganti yang layak mengemban tugas-tugas yang ditinggalkan sang macan, yang sayangnya hingga saat ini masih boleh dibilang maju mundur.

Namun dibanding berdebat mengenai apa keputusan pemerintah terkait pengganti F-5, bagaimana kalau kita membahas mengenai sejarah awal pembelian F-5? Apabila ditanyakan kepada para mantan penerbangnya, mungkin tidak banyak yang mengetahui bagaimana Republik Indonesia bisa mengakuisisi macan tempur buatan Amerika Serikat ini.

Bahkan kalau pembaca sekalian pun ditanya mengenai sandi program pengadaan F-5E/F dari Amerika Serikat untuk TNI AU, apa coba jawabannya?  Pernah mendengar Peace Komodo? Mungkin ini baru pertama kali terdengar oleh para pembaca sekalian dalam tulisan ini. Hayo ngaku!

Tak usah berpanjang-panjang, kisah pembelian F-5 diawali dengan keprihatinan TNI AU akan kesiapan F-86 Avon Sabre yang dihibahkan oleh Australia melalui tangan Malaysia pada pertengahan 1970an. Kesulitan suku cadang dan teknologi yang kuno dibandingkan dengan generasi MiG yang pernah dimiliki TNI AU tentu membuat pamor dan kesiapan ABRI menurun.

Bahkan setahun sesudah Indonesia menerima Sabre, para petinggi militer Indonesia sudah mengungkapkan keinginannya untuk membeli jet tempur supersonik terbaru dalam kunjungannya ke Amerika Serikat pada 1975. Dalam pertemuan dengan pihak AS, Indonesia menyatakan keinginan untuk membeli empat sampai enam unit F-5 Tiger.

Melobi Paman Sam

Dua tahun berlalu tanpa hasil, para pejabat militer yang dipimpin oleh Benny Moerdani memanfaatkan kunjungan Deputi Menteri Luar Negeri AS untuk urusan Asia Timur dan Pasifik Robert Oakley ke Indonesia. Dalam pertemuan di bulan Januari 1977 itu, kepada Oakley para Jenderal menyatakan minat Indonesia untuk membeli F-5.

F-5-Tiger-TNI-AU2 (1)

Letjend Hasnan Habib, Kepala Staf Administrasi Hankam bahkan buka-bukaan dan mengatakan kalau F-86 akan dipensiunkan paling lambat tahun 1978. Pembelian F-5 adalah keniscayaan, kalau tidak mau melihat Indonesia terancam oleh konflik dalam dan luar negeri. Apakah AS rela melihat destabilisasi kawasan hanya karena Indonesia tidak memiliki alutsista yang dibutuhkannya?

Permasalahannya, Amerika Serikat saat itu enggan untuk menawarkan F-5 ke Indonesia. Bukan apa-apa, Perang Vietnam yang baru berakhir menguras kocek Amerika Serikat, dan sebagai akibatnya program bantuan ke negara sahabat pun terpaksa diirit dan dipangkas. Di sisi lain, pihak Indonesia pun mengaku kalau Indonesia juga dalam kondisi yang sulit keuangannya. Tanpa termin kredit yang lunak, mustahil Indonesia bisa mendapatkan F-5 yang mereka inginkan.

Lobi gencar pun dilakukan. Menhan M. Jusuf secara khusus memanggil Dubes AS untuk Indonesia Edward Masters ke kantornya. Dalam pembicaraan empat mata, Menteri Jusuf menyampaikan pesan Presiden Soeharto bahwa Indonesia membutuhkan jet tempur untuk mempertahankan kedaulatan. Yang diinginkan Indonesia adalah F-5 Tiger dan A-4 Skyhawk. Kunjungan Benny Moerdani ke Amerika Serikat pada pertengahan 1977 pun dimanfaatkan betul untuk menyuarakan kebutuhan jet tempur baru untuk Indonesia.

Indonesia pun melancarkan counter move untuk menekan Amerika Serikat. Kunjungan Menlu Perancis Louis De Guiringaud pada September 1977 dimanfaatkan untuk mencari informasi mengenai pesawat tempur Mirage F1. Pada bulan September satu kontingen dari ABRI dikirimkan ke Perancis untuk mempelajari kemungkinan pembelian persenjataan, apalagi kabarnya Perancis menyediakan Kredit Ekspor senilai US$200 juta untuk mendanai pembelian peralatan militer tersebut.

Dihadapkan pada persaingan, AS pun akhirnya luluh, walaupun mereka sempat berhitung-hitung mengenai besarnya bantuan yang diberikan ke Indonesia, termasuk program pembelian beras PL-480. Pada kenyataannya, walaupun Perancis mengiming-imingi kredit lunak, tawaran Mirage sebenarnya tidak terlalu dianggap karena kompatibilitas sistemnya dengan milik Amerika Serikat yang rendah dan ….harganya yang mahal.

Walaupun persetujuan sudah diberikan AS, namun LoA malah sempat tak kunjung ditandatangani. AS sempat akan memasukkan pertimbangan Hak Asasi Manusia sebagai salah satu syarat penjualan, namun akhirnya dibatalkan setelah lobi-lobi di balik layar. Persetujuan Kongres AS pun diperoleh, dimana penjualan F-5 ke Indonesia merupakan salah satu penjualan alutsista yang dijalankan dengan prosedur baru yaitu melalui persetujuan Kongres. Pihak Indonesia menandatangani dokumen-dokumen pendukung pembelian pada akhir Maret 1978.

Indonesia akhirnya mendapatkan F-5 tersebut melalui skema FMS (Foreign Military Sales) dengan termin tujuh tahun masa kredit, dengan dua tahun pertama cukup membayar bunganya. Dalam hitungan bisnis sekalipun, deal ini termasuk bagus karena total biayanya jadi murah.

Hebatnya, transaksi penjualan ini secara khusus meniadakan komisi untuk agen (Agent fee) dalam salah satu klausul proyeknya. Artinya, para pejabat Indonesia saat itu masih punya idealisme dan patriotisme. Amerika Serikat sempat menawarkan F-5 tambahan dalam program Peace Komodo II sebanyak 4 unit F-5E pada bulan Juni 1978, tetapi ketiadaan dana membuat tawaran ini dibiarkan berlalu begitu saja.

Pemerintah Indonesia lebih memilih untuk berkonsentrasi mengadakan amunisi bagi macan-macan muda yang dibeli untuk TNI AU. Melalui kontrak pembelian terpisah pada 1979, sejumlah amunisi didatangkan seperti peluru 20mm untuk kanon internal F-5 sebanyak 350.000 butir lebih yang terdiri dari tipe High Explosive dan Armor Piercing, sistem pelepas bom, bom latih, bom Mk.82 250kg sebanyak 1.200 buah, dan tentu saja roket 2,75” FFAR beserta tabung roketnya.

Menyusul kemudian rudal udara-udara jarak pendek AIM-9P2 pada pertengahan dekade 1980an yang menambah tajam taring-taring sang macan. Dengan datangnya persenjataan tersebut, F-5 pun setia bertugas hingga ujung pengabdiannya saat ini.

Penulis: Aryo Nugroho

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *