Inggris Kelabakan di Kalabakan

mar

Harus diakui, dari sekian banyak kegagalan penyusupan sukarelawan Dwikora ke perbatasan, kesuksesan serbuan KKO ke Kalabakan merupakan suatu catatan gemilang bagi pihak Indonesia. Namun, ada sejumlah fakta menarik yang tak banyak diketahui publik, seperti dikisahkan sendiri oleh Mayjend Walter Walker dalam otobiografinya, “Fighting General. The Public and Private Campaigns of Sir General Walter Walker”. Alkisah, sesungguhnya pendadakan di Kalabakan tidak perlu terjadi, karena sudah ada peringatan dari Brigadir Jenderal Glennie, Deputy Director of Operations dari Mayjend Walker. Brigjend Glennie yang senang menyusuri anak sungai di Kalimantan dapat membaca, kalau Tawau yang memiliki banyak industry perkebunan dan 3/5 populasinya adalah TKI merupakan wilayah strategis yang dengan mudah dapat didadaki. 5 kompi KKO yang digelar Indonesia di Pulau Sebatik juga hanya sepelemparan tombak, dan reputasi serta keahlian tempur prajurit Indonesia menyebabkan Glennie memberikan peringatan waspada pada 3rd Batt., Royal Malay Regiment (RMA) dan satu kompi King’s Own Yorkshire Light Infantry yang menjaga Tawau. Karena Royal Navy memiliki fregat dan destroyer yang dilengkapi radar di lepas pantai Tawau, Brigjend Glennie bisa membaca bahwa arah serangan pasti bukan dari laut, tapi dari rawa-rawa yang sulit dijaga.

by Bassano, half-plate film negative, 20 September 1968
by Bassano, half-plate film negative, 20 September 1968

Sayangnya, 3rd RMA yang baru tiba di Tawau tidak mengikuti perintah Glennie. Saat 35 KKO dan 128 sukarelawan menyeberangi perbatasan, tujuan awal mereka memang menyerang Kalabakan, di sebelah Barat Tawau dan kemudian menunggu dukungan populer dari TKI yang bekerja disana untuk kemudian menguasai Tawau. Strategi popular uprising, yang merupakan gaya komunis ini didasarkan pada laporan intelijen yang terlalu berani dan cenderung mengarah ke ilusi. Setelah delapan hari melintasi rawa, pada 29 Desember pasukan KKO tiba di tepi hutan sekitar Kalabakan dan siap melancarkan serangan. Kalabakan sendiri hanya diperkuat di dua posisi, satu pos polisi di tepi sungai yang mengarah ke Cowie Harbour dan dua gubuk milik RMA. Pos polisi yang diperkuat barikade kawat duri dan kantung pasir dijaga oleh 15 personil, sementara RMA memiliki kekuatan satu peleton dan dua seksi. Bodohnya, gubuk-gubuk ini tidak diperkuat oleh karung-karung pasir yang setidaknya bisa menghentikan peluru.

Saat malam tiba, prajurit 3rd RMA juga tidak disiplin. Sebagian besar bersantai, ada yang sedang makan, membaca, mencuci baju, dan tidak ada prajurit tugas jaga. Tepat pukul 11 malam, para prajurit KKO yang bergerak dalam senyap mencabut pin granat dan melemparkannya melalui lubang jendela yang terbuka lebar, lalu menghujani kedua gubuk dengan tembakan dari AK-47 yang mereka bawa. Delapan prajurit Malaysia yang sama sekali tak sigap, terlambat beraksi dan tewas seketika, termasuk komandan kompi. Sembilan belas lainnya terluka sehingga tak bisa melawan. Kelompok lain yang menyerang pos polisi kurang beruntung, karena para polisi bisa mundur ke pos mereka yang memiliki pertahanan baik dan melawan dari dalam. Kelompok lain yang menyerang perusahaan kayu menemukan kantor dalam keadaan kosong, lalu menjarah apasaja yang ada di dalamnya, termasuk wiski. Sementara itu, sang manajer prusahaan lari ke markas 3rd RMA yang baru diserang, dan meminta para prajurit Malaysia untuk menyerang balik, tapi mereka terlalu takut dan memilih sembunyi. Tak sampai satu jam, seluruh penyerang undur diri ke rawa-rawa disekitar Kalabakan dan menunggu pergerakan rakyat Indonesia untuk merebut Tawau. Seandainya saja para penyerang terus maju ke Tawau, akhirnya pasti akan berbeda.

Mayjend Walter Walker dikabari pada pukul 2 malam, bahwa Tawau telah jatuh. Ia menginspeksi sendiri lokasi pertempuran di Kalabakan pada pagi harinya, dan memanggil 1/10th Gurkha untuk memperkuat Tawau. Walker juga dikabari, bahwa Tunku Abdul Rahman sudah mengetahui kejadian ini, tapi tidak detailnya, dan mengumumkan akan mengunjungi Sabah dan langsung ke Tawau untuk memeriksa bekas-bekas pertempuran terbuka pertama antara Malaysia-Indonesia. Mendengar hal ini, Mayjend. Walker langsung minta diterbangkan ke Kinabalu-saat itu bernama Jesselton-untuk menyambut Tunku. Disana ia bertemu Inspektur Jenderal Polisi Claude Fenner yang sudah tiba terlebih dahulu. Walker memberitahu Fenner segala sesuatunya mengenai Kalabakan, juga termasuk peringatan yang sudah diberikan Glennie jauh-jauh hari sebelumnya dan mengenai prajurit 3rd RMA yang payah. Walker memutuskan akan menceritakan segala fakta pada Tunku, tapi ditahan oleh Fenner. Fenner yang mengenal Tunku dengan baik, tahu bahwa Tunku memiliki rasa ego yang tinggi. Tunku pasti tidak percaya bahwa prajurit pribumi Melayunya yang hebat, dapat dikejutkan dan dikalahkan tanpa perlawanan.

gurkha-kko
Atas nasihat Fenner, Walker akhirnya memoles ceritanya. “Pasukan Indonesia melakukan gerakan merapat dengan sangat cerdik, memanfaatkan hutan di sekitar Kalabakan, dan melakukan penyerangan dalam jumlah yang sangat besar, kira-kira satu battalion, perlawanan pasukan Malaysia yang kalah jumlah berlangsung sampai titik darah penghabisan!” Dari sinilah disebutkan bahwa Kalabakan diserbu oleh satu battalion KKO, padahal faktanya para penyerang tidak lebih dari tiga regu. Tunku yang mendengar ini terharu dan tergerak hatinya, dan saat menjenguk prajurit yang selamat di Tawau, memberikan hadiah uang kepada masing-masing prajurit, serta memerintahkan pendirian monumen Kalabakan.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *