Il-476, Dilirik untuk Skadron Angkut Baru TNI AU?

Il-476 di lini perakitan Ilyushin (Credit: Gadget Freak)
Il-476 di lini perakitan Ilyushin (Credit: Gadget Freak)

Rencana pemerintah untuk memperkuat Wilayah Timur Indonesia semakin nampak dengan rencana pembentukan Divisi ketiga Kostrad di Makassar, menyusul rencana pembentukan Pasmar (Pasukan Marinir) 3 yang akan ditempatkan di Sorong, Papua. Untuk mendukung pemekaran TNI yang sejalan dengan program MEF II tersebut, TNI AU juga akan menambah kekuatannya dengan membentuk Skadron Angkut baru yang berpangkalan di Makassar. Bila menilik postur divisi yang akan dibentuk kelak, sudah pasti kebutuhan pesawat angkutnya adalah angkut berat, untuk mendukung pergerakan material, logistik, dan pasukan.

Rencana pembentukan skadron inipun tak pelak akan menimbulkan kebutuhan pesawat angkut baru, mengingat jumlah armada C-130 Hercules yang dimiliki oleh TNI AU tidak akan cukup apabila dipecah menjadi tiga skadron. Pada saat ini, TNI AU memang sudah dan akan menerima sejumlah C-130H+ eks RAAF (AU Australia) yang sudah diremajakan, tapi di sisi lain C-130B yang ada pun sudah dinyatakan akan diganti. Artinya tetap ada gap kebutuhan pesawat angkut untuk mengisi Skadron Angkut Berat baru di Makassar. TNI AU sendiri sudah menganggarkan kebutuhan untuk 3-5 pesawat untuk tahun depan, sesuai dengan kemampuan yang ada. Menhan sendiri bahkan sudah memberi sinyal untuk melirik A400M. Namun begitu, pintu masih terbuka lebar karena belum jelas pesawat apa yang akan dibeli. Bisa jadi karena harganya yang mahal dan beberapa kendala di pengguna yang terjadi, A400M bisa-bisa disalip di tikungan.

Salah satu kandidat yang layak dipertimbangkan adalah Il-476, atau yang awalnya dikenal sebagai Il-76/MD-90, dan kemudian Il-476 (Il-76, generasi ke-4). Proyek Il-76/MD-90 diawali dengan permintaan pemerintah Rusia untuk memproduksi dan memperbarui Il-76 yang merupakan tulang punggung angkut taktis AU Rusia, yang dimulai pada Desember 2006. Permintaan ini segera dikerjakan oleh pabrikan Aviastar dan dua purwarupa dapat diselesaikan pada musim semi 2011. Setelah sejumlah tes statik, akhirnya uji terbang dapat dimulai dengan penerbangan perdana pada Maret 2013 di Zhukovsky, dan berhasil menyelesaikan 38 sorti. Pemerintah Rusia juga meminta penambahan alat komunikasi modern dan sistem pertahanan.

Pada dasarnya, program Il-76/MD-90 sendiri merupakan program untuk menjawab kritisi atas kinerja Il-76 yang boros menenggak bahan bakar. Walaupun didesain sebagai pesawat angkut medium dan mampu mengangkut tonase yang cukup lumayan, jarak jangkau terbangnya kurang memadai. AU Rusia menginginkan agar program modernisasi ini juga dapat diretrofit ke Il-76 eksisting, sehingga tidak perlu seluruhnya diganti baru.

Kokpit Il-476 yang tampak modern
Kokpit Il-476 yang tampak modern

Biro desain Ilyuhsin Aviation Complex yang kini tergabung dalam UAC (United Aircraft Corporation) sendiri mendesain Il-76 dengan fokus pada sistem avionik glass cockpit yang lebih modern, desain sayap yang sepenuhnya baru dan lebih ringan, serta yang terpenting, mesin baru Perm PS-90A-76 yang jauh lebih efisien, mampu menghemat 13-17% bahan bakar. Sistem glass cockpit pada Il-76/MD-90A menggunakan tipe KSEIS-KN-76 yang memanfaatkan delapan layar LCD berwarna, menghilangkan panel indikator konvensional. Sistem navigasi juga diganti baru dengan Kupol-III-76M(A) yang kompatibel dengan satelit GLONASS, dan sudah sesuai dengan standar ICAO Kategori II.

Sistem pendaratan pada Il-76/MD-90A juga diperkuat, sehingga MTOW (Maximum Take Off and Weight) pada pesawat baru ini naik menjadi 210 ton, sementara kapasitas angkut beban maksimalnya menjadi 60 ton. Jarak tempuh pun naik menjadi 5.000km, dengan asumsi kargo seberat 52 ton di dalam perut pesawat. Semua peningkatan tersebut justru ditebus dengan panjang landasan yang lebih pendek untuk take off, dari yang tadinya 1.750 meter turun menjadi 1.600 meter. Dengan peningkatan performa yang drastis ini, Il-76/MD-90A memiliki kans di pasar pesawat angkut medium/ berat dimana AU Rusia membeli 38-40 pesawat baru dan mengupgrade 119 lainnya ke standar Il-76/MD-90A. Media Rusia Sputniknews yang mewawancara Direktur Pelaksana JSC Aviastar-SP Andrey Kapustin menyatakan bahwa ada sejumlah Negara Asia Tenggara yang menyatakan minat atau ingin lebih tahu lebih jauh mengenai Il-476. Apakah Indonesia salah satu di antaranya? Kita tunggu saja.

Nantikan: Komparasi jawara pesawat angkut medium/ berat!

Comments

comments

One thought on “Il-476, Dilirik untuk Skadron Angkut Baru TNI AU?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *