Dari Singapura Mencengkeram Dunia

Pada tahun 2009, dalam sambutannya setelah PT Pindad melaporkan bahwa mereka telah berhasil memproduksi Panser Anoa, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) pernah menyebut bahwa Pindad telah berhasil menjadi industri panser terbaik di Asia Tenggara. Mungkin Pak Wapres belum terupdate atau tidak terinformasikan, karena faktanya sangatlah jauh panggang dari api. tidak ada industri pertahanan Asia Tenggara bisa mendekati, teknologi, kemampuan, dan strategi bisnis dari Singapore Technologies Kinetics (STK), perusahaan holding pembuat teknologi alutsista dari Singapura yang pada tahun itu sudah siap lepas landas dengan bisnis yang menggurita. Negeri yang kerap dianggap sebelah mata dan pernah disebut the little red dot oleh Presiden B. J. Habibie tersebut ternyata memiliki industri pembuatan panser dalam skala dunia.

Dikutip dari websitenya, ST Kinetics sebagai holding sebenarnya terdiri dari dua grup bisnis besar. Yang pertama, Defence Business Group dan yang kedua adalah Commercial Business Group. ST Kinetics memiliki bisnis di 40 negara dengan total 6.500 karyawan, dengan penghasilan sebesar US$ 1,4 Miliar di tahun 2014 saja. Awalnya dikenal sebagai Chartered Industries of Singapore atau CIS, pada 1980an CIS merupakan pabrik sistem pertahanan seperti senapan serbu dan sistem pertahanan lainnya, dengan tujuan untuk memasok kebutuhan SAF (Singapore Armed Forces) demi mewujudkan kemandirian pertahanan Sang Negara Singa.

CIS kemudian dicaplok oleh ST Engineering melalui anak perusahaannya ST Automotive, sehingga terbentuklah ST Kinetics. ST Kinetics kemudian memfokuskan dirinya pada pembangunan peralatan militer seperti panser dan juga peralatan berat komersial seperti traktor, ekskavator, backhoe, dan perlengkapan elektronik yang dibutuhkan berbagai perusahaan seperti sistem parkir, perangkat keamanan, dan sebagainya. Bisnis senjata diawali dengan melakukan MRO (Maintenance, Repair, dan Overhaul), awalnya pada armada V200, AMX-13, dan M113 milik AD Singapura, lalu mereka lepas landas dengan ranpur Bionix dan kendaraan angkut pasukan Terrex yang tidak hanya inovatif, tetapi juga dibangun dengan menyesuaikan pada kondisi setempat.

AV81 Terrex yang digunakan oleh AD Singapura
AV81 Terrex yang digunakan oleh AD Singapura

Mungkin tidak banyak yang tahu, kalau Bionix dan Terrex dibangun dengan spesifikasi dimensi kendaraan yang harus mampu melewati jembatan paling sempit yang ada di Singapura. Ini merupakan detil kecil, tetapi menggambarkan seberapa peduli militer Singapura dengan industri yang membuat produk yang akan digunakannya kelak. ST Kinetics pun sudah bermitra dengan pemerintah dan riset perguruan tinggi, sehingga dapat diperoleh solusi produk yang sesuai kebutuhan dan sesuai dengan budget yang telah ditentukan.

Dengan tetap menerapkan prinsip rendah hati dalam berbisnis, ST Kinetics telah menjadi pemain berskala internasional dalam bidang persenjataan. Tidak ada cerita jadi jagoan kampung yang hanya berani gagah di negeri sendiri. Nilai backlog kontrak mereka sudah mencapai US$4,96 Miliar untuk beberapa tahun ke depan. Tidak hanya sekedar jagoan kampung, kontrak bisnis ST Kinetics bahkan telah meliputi empat benua minus Afrika. Di Asia dan Australia, ST Kinetics telah memberikan pendampingan kepada DTI Thailand dalam menyelesaikan produk panser 8×8 Black Widow, dan di Australia saat ini ST Kinetics sedang menyertakan panser 8×8 Sentinel 2 dalam kompetisi LAND 400 yang berniat menggantikan ASLAV (LAV-25).

Sentinel 2, produk yang dijagokan ST Kinetics - Elbit Australia dalam kompetisi LAND 400
Sentinel 2, produk yang dijagokan ST Kinetics – Elbit Australia dalam kompetisi LAND 400

Di Benua Eropa produk mereka Terrex telah dilisensi Otokar sebagai Yavuz. Inggris bahkan memakai produk Warthog untuk pasukannya yang ditugaskan di Afghanistan khususnya di propinsi Helmand yang terkenal ganas. Baru-baru ini STK yang berpartner dengan SAIC memenangkan kontrak ACV 1.1 Fase 1 untuk Korp Marinir Amerika Serikat, dimana 16 Terrex 2 sudah dipesan dengan nilai kontrak mencapai US$ 121,5 Juta. Pembaca bisa bayangkan, sebuah perusahaan ranpur dari Asia, bersaing dengan pabrikan jawara dunia seperti General Dynamics Land System atau British Aerospace, dan ternyata memenangkan persaingan. Bersaing dengan British Aerospace, SAIC dan STK akan memperebutkan kontrak akhir untuk memproduksi 204 ranpur dengan nilai kontrak US$1,1 Miliar. ST Kinetics memperoleh pengakuan kelas dunia tanpa harus tepuk dada dan membuktikan dengan karya. Tak hanya Amerika Serikat, turun sedikit ke bawah, ST Kinetics melalui anak perusahaan lokal Technicae Projetos e Servicos Automativos Ltda telah memenangkan kontrak modernisasi EE-11 Urutu, ranpur asli buatan Brasil.

Warthog, varian modifikasi dari Bronco yang digunakan AD Inggris
Warthog, varian modifikasi dari Bronco yang digunakan AD Inggris
Otokar Yavuz, versi Turki dari AV81 Terrex
Otokar Yavuz, versi Turki dari AV81 Terrex

Rahasia keberhasilan ST Kinetics adalah keterbukaan perusahaan untuk berbagi ilmu, dan menyesuaikan kondisi dengan prasyarat industri pertahanan lokal. Saat kehadiran industri komponen lokal dan transfer teknologi diwajibkan, ST Kinetics tidak segan berpartner dengan perusahaan setempat. Di Amerika Serikat ada perusahaan Science Applications International Corporation, di Australia STK menggandeng Elbit Systems Australia. Syarat untuk memproduksi di negara pembeli bahkan tidak menjadi penghambat, seperti misalnya, syarat kandungan lokal yang harus mencapai 70% untuk proyek LAND 400. Asal hitungan bisnisnya oke, ayo saja.

EE-11 Urutu yang direfurbish oleh ST Kinetics di Brazil
EE-11 Urutu yang direfurbish oleh ST Kinetics di Brazil

Seperti dikatakan ST Kinetics Executive Vice President Mr Patrick Choy dalam wawancaranya dengan The Straits Times, ST Kinetics terbuka untuk melisensikan produk mereka ke industri pertahanan setempat yang dimiliki oleh negara pembeli. Kalau tidak lisensi, partnership atau kerjasama pun boleh. ST Kinetics pun mau dengan skema menjual produk sesuai pesanan perusahaan pertahanan di negara lain, yang kemudian pada gilirannya akan memodifikasinya dan menjual kembali ke perusahaan lain. Buat ST Kinetics hal ini merupakan sesuatu yang logis, karena keterbatasan ruang untuk menambah fasilitas produksi mereka di Boon Lay, ditambah dengan fakta Singapura yang tidak memiliki sumber daya alam. Dibandingkan dengan mengimpor baja, memproduksinya di Singapura, lalu mengapalkannya lagi, biayanya akan lebih mahal dibandingkan jika membuat produk ranpur tersebut langsung di negara pembeli. Singapura mungkin hanya negara kecil yang kerap terabaikan dalam panggung politik kawasan, namun dengan sumber daya manusia yang andal, teknologi dan know how yang bisa ditawarkan dapat membantu mewujudkan keinginan dan kemandirian pertahanan negara lain, yang siap dan mau bekerjasama dengan Singapura.

Atas pencapaian tersebut, tim IndoMIL akan mengupas berbagai kisah sejarah, perjalanan dari perusahaan ST Kinetics, kemudian mengupas satu-persatu ranpur berteknologi tinggi yang dilahirkan oleh ST Kinetics untuk setiap negara pembeli, dan bagaimana resep rahasia ST Kinetics untuk dapat mengubah-ubah satu platform dan menyesuaikannya dengan keinginan pembeli. Nantikan kelanjutannya!

Comments

comments

One thought on “Dari Singapura Mencengkeram Dunia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *