Chengdu/ PAC JF-17 Thunder, Penerus Legenda MiG-21

Selama bertahun-tahun, masyarakat pecinta kedirgantaraan terbiasa melihat sosok MiG-21, pesawat yang awalnya didesain sebagai pencegat. Selama bertahun-tahun pesawat tempur berbentuk lisong tersebut diupdate, diupgrade, dan bahkan dimodifikasi oleh penggunanya sehingga dapat terus terbang dan relevan, hingga saat ini.

JF-17sd

Tiongkok sendiri menyadari betapa besarnya potensi MiG-21, dan mereka melakukan reverse engineering terhadap pesawat legendaris tersebut yang kemudian menjadi J-7/F-7. Pakistan sendiri merupakan pengguna varian F-7P terbesar di luar Tiongkok. Chengdu Aircraft Industry Corporation (CAC) dan Pakistan Aeronautical Complex (PAC) di Kamra akhirnya bekerjasama untuk menghadirkan penerusnya dalam program berjudul Super-7. Kedua negara pada 1988 sepakat berbagi biaya yang sama untuk mengembangkan Super-7 yang kemudian diganti lagi menjadi FC-1 (Fighter China ke-1).

Disebut JF-17, pesawat tempur di kelas 10 ton ini tampil pertama kali pada pameran kedirgantaraan Farnborough 2010, dengan sosok yang sudah berbeda jauh dengan MiG-21. Sepintas kaca kokpit dan hidungnya menyerupai Mirage series, sementara lubang inlet untuk mesin diposisikan agak ke bawah. Untuk mesin dipesan dari pabrik Klimov Rusia dengan kode RD-93, yang diadaptasi dari mesin RD-33 milik MiG-29. RD-93 menggunakan gearbox yang dipasang di bawah mesin dan memiliki sistem kontrol yang ditingkatkan dibandingkan RD-33. Mesin RD-93 pertama dikirimkan pada 2002 ke pabrik Chengdu.

JF-17

Pengembangan FC-1 dilanjutkan dengan pembuatan enam purwarupa, dua uji statik dan empat untuk uji terbang. Purwarupa pertama yaitu PT-1 sudah selesai pada musim panas 2003 dan terbang perdana pada tanggal 25 Agustus di balik kendali pilot uji Wang Wenjian. Pada tanggal yang sama Pakistan mengumumkan nama JF-17 untuk produk kerjasamanya, dimana JF sendiri merupakan singkatan dari Joint Fighter. Angka 17 sendiri menyimbolkan nomor paling terkini, tercanggih di antara jajaran pesawat tempur Pakistan yang saat itu hanya memiliki F-16 Fighting Falcon.

Pengujian secara intensif berlangsung selama lima tahun di fasilitas uji CAC di CFTE Flight Research Centre di Yanlian dan dipinjamkan ke unit garis depan PLAAF. Pilot-pilot uji Pakistan dikirimkan ke Tiongkok untuk mengawaki empat purwarupa uji terbang tersebut. Secara dimensi antara FC-1 dan MiG-21 memiliki kesamaan, walaupun secara bentuk berbeda total. Sistem persenjataan pada JF-17/ FC-1 adalah kanon 23mm. Karena intake sudah berpindah ke samping, JF-17/ FC-1 dapat menggunakan radar yang lebih baik, yaitu NRIET KLJ-7 buatan Tiongkok yang merupakan radar multimode pulse-doppler yang mampu menjejak beberapa sasaran secara simultan. Kokpit pada JF-17/ FC-1 pun sudah menggunakan tiga Multi Function Display menggantikan indikator jarum, sehingga memudahkan pilot. Sistem HOTAS (Hands on Throttle and Stick) sudah jadi standar pula.

Sistem pengendalian pada JF-17/ FC-1 masih menggunakan sistem gabungan antara fly by wire dan kontrol mekanikal. Untuk flaps dan leading edge slat sudah dikendalikan secara otomatis untuk membantu manuver terutama pada angle of attack yang besar. Kontrol FBW disediakan hanya untuk pitch, sementara sisanya dikendalikan secara mekanik. Pakistan menerima JF-17 batch pertama mulai bulan Februari 2007, sisanya dirakit di pabrik PAC di Kamra. Penerbangan perdana dua JF-17 yang dilakukan pada 23 Maret 2007 untuk merayakan hari jadi Angkatan Bersenjata Pakistan. Lini pembuatan JF-17 diresmikan pada 22 Januari 2009, dan JF-17 pertama made in Pakistan keluar dari fasilitas di Kamra pada 23 November 2009, pesawat nomor seri 09-111 yang dikelir hijau warna bendera negara Pakistan.

JF-17 dengan rudal captive PL-5 di ujung sayap dan SD-10A di bawah sayap plus rudal anti kapal di sayap kanan
JF-17 dengan rudal captive PL-5 di ujung sayap dan SD-10A di bawah sayap plus rudal anti kapal di sayap kanan

Mengenai persenjataan, JF-17 tidak terlalu muluk-muluk. Kemampuan gotong senjatanya juga tidak terlalu besar, hanya bersandar pada tujuh hardpoint. JF-17 dapat membawa rudal PL-5EII yang merupakan rudal udara-udara pencari panas, yang disadur dari AIM-9 Sidewinder dengan jarak efektif mencapai 18 kilometer. Untuk sasaran BVR, tersedia rudal SD-10A (PL-12) dengan pemandu radar aktif sampai jarak 70km. JF-17 juga memiliki kemampuan anti kapal permukaan dengan kemampuan menggotong rudal C802A. Untuk sasaran darat, JF-17 dapat menjatuhkan bom berpengendali laser dengan sistem pod targeting WMD-7 buatan Tiongkok. Pakistan sendiri sangat puas dengan kinerja JF-17 sehingga mereka membeli hak produksi 150 unit JF-17 dengan 100 opsi lainnya. Untuk produksi JF-17 batch kedua dan kemudian ketiga, Pakistan dilaporkan tengah mengincar sistem avionik, mesin, elektro optik dan persenjataan buatan Barat khususnya buatan Perancis, walau India melakukan pendekatan kepada Perancis untuk tidak menjual sistem avionik buatan Thales kepada Pakistan.

JF17 mission load

SPEK JF-17
Pilot : 1
Panjang : 14 meter
Bentang sayap : 8,5 meter
Wing area : 24m2
Bobot kosong : 6.450kg
MTOW : 12.400kg
Kecepatan : Mach 1,6
Radius tempur : 1.800km

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *