Catalina Affair, Saat Swedia yang Mengaku Netral ternyata Berpihak

Layaknya negara-negara Skandinavia, Swedia juga menyatakan diri negara netral. Panasnya suhu politik akibat perang dingin AS-Uni Soviet seakan tidak mempengaruhi pendirian negara-negara Skandinavia, walaupun batas wilayah mereka memang berbatasan dengan Uni Soviet.

Bahkan sikap netral ini juga terasa sampai ke kemandirian angkatan bersenjata Swedia. Siapa yang tidak tahu, pesawat tempur hebat macam Saab AJ.35 Draken, AJ.37 Viggen, dan terakhir JAS-39 Gripen, yang menjamin agar Swedia tidak akan perlu menggantungkan diri ke negara manapun. Soal penjualan, setali tiga uang. Pada era perang dingin, Swedia hanya akan mau menjual pesawatnya ke negara yang netral, itupun juga masih disertai berbagai syarat yang menyulitkan, termasuk di dalamnya soal Hak Asasi Manusia (HAM).

TNI-AU juga pernah mencicipi alotnya negosiasi pembelian alutsista dengan Swedia. Saat ada program perkuatan alutsista tahun 1997, JAS-39 Gripen memang pernah dipertimbangkan sebagai salah satu kandidat, bersama Mirage 2000 dan Su-27/30. Terlalu banyak syarat dan sulitnya minta ijin ke 3 negara (Swedia sebagai pembuat mesin, AS sebagai penyuplai avionik dan persenjataan, serta Inggris sebagai agen penjualan) membuat niatan tersebut urung dilaksanakan. Namun, benarkah Swedia memang bersikap netral? Bukankah letaknya yang strategis, dekat dengan Rusia, Latvia, dan Estonia menjadi suatu titik yang dapat dimanfaatkan AS sebagai pusat pengintaian? Jawaban tersebut terungkap ketika perang dingin sudah berakhir.

Awal mula kejadian
Untuk menjaga alur lautnya dari penyusupan kapal selam Soviet yang kala itu memang sering hilir-mudik di perairannya, Swedia merasa berkepentingan untuk memiliki pesawat dengan kemampuan elektronik dan pendeteksi kapal selam. Untuk itu, Swedia membeli 8 buah DC-3A-360/C-47 eks AU AS, yang kemudian diberi designasi lokal Tp 79. Dua diantaranya dimodifikasi secara ekstensif pada musim dingin 1951 oleh bengkel kerja AU Swedia di Västerås (CVV). Modifikasi meliputi pemasangan ELINT (Electronic Intelligence) suite, radio komunikasi jarak jauh, dan sonar. Pekerjaan kemudian berhasil diselesaikan pada musim semi 1951, dan kedua pesawat diberikan nomor seri 79001 dan 79002. 79001 merupakan eks C-47-DL USAF nomor seri 46-5294, sementara 79002 adalah eks C-47-DL nomor seri 42-3877. Uniknya, 79001 sebelum digunakan Flygvapnet pernah digunakan oleh maskapai penerbangan SAS (Scandinavian Air Service) dengan registrasi sipil SE-APZ.

Kedua Tp 97 ini digunakan secara rutin dalam misi patroli laut dengan awak yang diambil dari FRA (Försvarets Radioanstalt = Jawatan Radio Pertahanan Nasional). Misi meliputi pengamatan alur laut, deteksi kapal selam, dan latihan bareng AL Swedia. Pada 13 Juni 1952, Tp 79 79001 mendapat tugas patroli rutin laut. Kali ini 79001 diawaki oleh pilot kapten Alvar Älmeberg dengan navigator Gösta Bladh. Dalam penerbangan turut pula Einar Jonsson, Bengt Book, Ivar Svensson, Erik Carlsson, Börge Nilsson, dan Herbert Mattson. Keenamnya adalah operator sinyal dan radio telegrafis dari FRA. Ketika tiba di sekitar timur pulau Gotland, Tp 97 97001 tiba-tiba menghilang dari layar radar. Tower pangkalan sama sekali tidak memperoleh distress call ataupun peringatan darurat yang diberikan oleh awak pesawat. Cuaca saat itu di sekitar Gotland memang sedang buruk, sehingga tower memperkirakan 79001 jatuh akibat disorientasi atau kehabisan bahan bakar.

awak catalina

Catalina Affair
Karena tidak kunjung ada berita dari awak 79001, sebuah operasi penyelamatan pun segera dilakukan. 2 buah PBY-5A Catalina (designasi AU Swedia Tp 47) diterbangkan untuk melakukan operasi Search and Rescue. Sore hari 13 Juni, kedua Tp 47 itu terbang ke lokasi kontak terakhir dengan 70091, namun di sepanjang perjalanan dihadang angin badai dan cuaca buruk. Karena kesulitan menemukan arah, salah satu Catalina justru memasuki wilayah kepulauan Dag ö (Hiiumaa), yang merupakan wilayah Estonia. Pilot Catalina yang akhirnya sadar bahwa ia memasuki wilayah udara Pakta Warsawa, segera mengidentifikasi diri ke otoritas Soviet, dan terbang keluar kembali ke Swedia.

PBY-5 Catalina yang digunakan AU Swedia
PBY-5 Catalina yang digunakan AU Swedia

Cuaca terus memburuk pada hari-hari berikutnya, sehingga upaya pencarian sempat terhenti 2 hari. Baru pada 16 juni, Catalina kembali melakukan pencarian. Yang mendapat giliran kali ini adalah Tp 47 seri 47002, dari F2 Hägernäs, Roslagens flygflottilj (wing 2, skwadron amfibi). Misi pencarian dikonsentrasikan di antara Gotland dan pantai Estonia. Untuk mencegah provokasi, pilot diinstruksikan untuk tidak terbang lebih dekat dari 55 km diluar garis pantai Estonia. Sayangnya, ketika Catalina berada di perairan internasional, kira-kira barat laut Dag ö, tiba-tiba muncul 2 MiG-15 Fagot AU Soviet yang berpangkalan di Estonia. Untuk menunjukkan maksud baik, pilot Catalina melakukan rocking wing, dan mulai berputar ke arah barat, kembali ke Swedia. MiG-15 sempat terbang bersisian dan membayang-bayangi Catalina, namun tiba-tiba kedua MiG menjaga jarak dan mulai bermanuver di posisi jam 6. Pilot yang yang diperingatkan oleh salah satu observer di belakang tersadar, kalau kedua MiG mulai melakukan attack run. Benar saja, kedua MiG mulai membuka serangan dengan kanon 20mmnya. Untungnya, Catalina terhitung pesawat yang sangat lambat, sehingga MiG yang bermesin jet sukar mengimbangi Catalina. 2 kali attack run gagal menyarangkan satupun peluru di tubuh Catalina.

MiG-15 di museum AU Swedia (Flygvapenmuseum) di Linkoping
MiG-15 di museum AU Swedia (Flygvapenmuseum) di Linkoping

Pukul 16.09, pilot melaporkan “Menghindari serangan dari 2 MiG!” 2 menit kemudian, muncul pesan tambahan “Kami ditembaki dengan tracer, 20 mm, namun meleset ke kanan.” Pilot menurunkan ketinggian dan terbang sangat rendah, dengan harapan agar MiG pergi. Sayangnya, ternyata MiG-15 justru kembali untuk serangan ketiga. Karena Catalina terbang sangat rendah, peluru 20 mm yang mengenai permukaan laut memantul (ricochet) dan mengenai fuselage Catalina. Serangan keempat mengenai sayap kiri, sementara serangan berikutnya berturut-turut mengenai sayap kiri, elevator, dan mesin kiri. Mulai kehilangan tenaga pesawat dan kesulitan mengontrol arah pesawat karena rusaknya elevator, pilot mengirimkan pesan terakhir pada pukul 16.15, “Saya ditembaki, pesawat terkena dan rusak hebat!” Tidak punya pilihan, pilot kemudian menstabilkan pesawat, menurunkan pelampung sayap, mengeset flaps, dan memulai prosedur ditching di laut.

Proses evakuasi PBY-5 Catalina 'Gustav Bertil' yang difoto dari kapal Jerman yang berhenti untuk menolong
Proses evakuasi PBY-5 Catalina ‘Gustav Bertil’ yang difoto dari kapal Jerman yang berhenti untuk menolong

Keberuntungan berpihak pada para awak Catalina. Laut sedang tenang, dan sejauh mata memandang, tidak ada gumpalan es ataupun penghalang lain yang mungkin mengganggu upaya ditching. Akhirnya, Catalina yang memang pada dasarnya pesawat amfibi berhasil meluncur mulus di permukaan air. Semua awak kemudian mengeluarkan dinghy dan mendayung menjauhi Catalina yang terbakar. Kedua MiG ternyata kembali, dan dalam serangannya yang ketujuh dan yang terakhir ini, benar-benar meledakkan Catalina. Para awak Catalina sendiri hanya bisa melihat dengan pasrah, menyaksikan kedua MiG kembali ke arah Estonia. Tak lama kemudian, lewat kapal kargo berbendera Jerman, MV Münsterland. Semua awak Catalina dinaikkan ke atas kapal. Atas perintah kapten, kapal yang tadinya berlayar ke Jerman ini putar haluan menuju Swedia untuk menurunkan para awak.

Atas kejadian ini, pemerintah Swedia kemudian menyampaikan protes diplomatik ke pemerintah Uni Soviet. Namun apa jawaban Soviet? Pemerintah Soviet secara resmi menyangkal bahwa pilot MiG adalah pihak yang pertama melepaskan tembakan. Justru mereka mengklaim bahwa rear gunner Catalinalah yang memprovokasi dengan menembaki MiG, namun klaim ini bisa ditepis dengan mudah. Pihak Soviet tidak tahu, PBY-5A Catalina yang dimiliki AU Swedia adalah versi yang tidak dilengkapi dengan jendela observer belakang, sehingga tidak mungkin ada rear gunner. Ditambah dengan fakta bahwa Catalina ditembak jatuh di perairan internasional, rakyat Swedia marah dan menuntut kebenaran. Banyak pula yang yakin kalau 79001 juga ditembak jatuh oleh Uni Soviet.

Namun anehnya, pemerintah Swedia tidak melakukan langkah apapun selain mengirimkan nota protes. Pencarian Tp 79 secara resmi dihentikan, dan pemerintah Swedia kemudian bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Teori konspirasi bermunculan, apalagi seminggu berselang, ditemukan dinghy yang terapung-apung di lautan. Dari nomor serinya, ketahuan bahwa dinghy tersebut adalah milik 79001. Di dalamnya ditemukan pula pecahan selongsong peluru kaliber 20 mm milik MiG-15. Hal ini tentu menimbulkan ketidakpuasan dan kesedihan mendalam bagi para keluarga korban awak 70091, diantaranya Karin Jonsson yang baru sebulan menikah dengan Einar Jonnson. Mengapa pemerintah Swedia tidak melakukan investigasi langsung? Karena tidak kunjung menemukan kebenaran, seluruh insiden ini dirangkum menjadi apa yang dikenal dengan Catalina affair.

Kebenaran terungkap
Perlahan-lahan, potongan-potongan petunjuk mulai bermunculan. Dalam pertemuan bilateral Swedia-Uni Soviet tahun 1961, Nikita Khrushchev memberikan pengakuan pada PM Swedia Tage Erlander, bahwa memang benar MiG-15 Soviet menembak jatuh Tp 47 70091. Dalam pertemuan yang sama Khrushchev juga meminta agar pengakuan ini dirahasiakan. Dan memang, sejarah akhirnya mengingat bahwa Soviet adalah pihak yang paling bertanggungjawab dalam Catalina affair ini.

Sisa-sisa DC-3 yang berhasil diangkat dari dasar samudera
Sisa-sisa DC-3 yang berhasil diangkat dari dasar samudera

Puluhan tahun berlalu, dan perang dingin pun berakhir. Pada 1991, tak lama setelah Uni Soviet runtuh, Pemerintah Swedia secara resmi membuka seluruh dokumen Catalina affair. Muncul pengakuan lain yang lebih mengejutkan: ternyata Tp 47 70091 saat menghilang sedang melakukan misi pengumpulan data intelijen bagi CIA (Central Intelligence Agency) dan juga intelijen Inggris. Amerika saat itu memang berkepentingan untuk melacak pergerakan kapal selam nuklir Uni Soviet yang melewati perairan Swedia.

Pengungkapan ini mengejutkan banyak kalangan di Swedia, karena seandainya dokumen ini langsung dibuka pada tahun 1960-an, tentu implikasinya sangat luas. Bukan hanya pemerintahan PM Tage Erlander akan rontok akibat skandal ini, namun kredibilitas Swedia yang dikenal sebagai negara netral tentu akan ambruk. Lebih buruk lagi, Swedia justru mau-maunya menjadi mata-mata bagi negara lain, yang notabene sebenarnya tidak punya kaitan sejarah maupun budaya dengan Swedia. Jelas, insiden ini harus disimpan rapat-rapat. Seandainya saja Uni Soviet tidak runtuh, tentu kebenaran Catalina Affair tidak akan pernah terungkap.

Peristirahatan terakhir
Berbekal informasi baru ini, parlemen Swedia kemudian menugaskan sebuah perusahaan spesialis pencari bangkai kapal (sea salvage) untuk mencari dan mengangkat reruntuhan 79001. Setelah 5 tahun pencarian, pada tahun 2003 tim eksplorasi berhasil menemukan reruntukan 70091, terkubur 122 meter di bawah permukaan laut. Suhu laut utara yang dingin membantu menjaga kondisi Tp 47, beserta 5 jenazah kru yang masih tertinggal di dalamnya. Dari jam yang ditemukan di kokpit, diketahui bahwa pesawat jatuh pada pukul 11:28:40 CET (waktu lokal Swedia). Menyusul kemudian reruntukan Catalina, yang ditemukan 22 kilometer dari posisi resmi yang dicatat oleh para awaknya yang selamat. Kelima jenazah awak 70091 dimakamkan dengan upacara militer penuh, suatu keterlambatan 50 tahun yang seharusnya dicegah.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *