Asal-usul Rantis Flyer Kopassus

ad-flyer-01

Dahulu pada medio awal tahun 2000, Kopassus banyak mengandalkan kemampuan gerak cepatnya pada kendaraan taktis model buggy Flyer. Saat ini sih Flyer sudah tidak pernah kelihatan, entah karena sudah tua, atau suku cadangnya sudah tidak ada. Apabila pembaca beruntung melihat rantis serbu 4×4 Flyer yang dimiliki Kopassus, coba tanyakan buatan negara mana kendaraan tersebut. Jawaban personel yang menjaga pasti jelas dan tegas: Australia. Padahal kalau dilihat-lihat, bentuknya mirip, atau bahkan sama persis dengan ST Kinetics Flyer.Berdasarkan penelusuran ADI tidak pernah melakukan produksi massal rantis serbu Flyer. Lalu datang darimana rantis ini? Jawabannya ada pada Proyek khusus AD Australia bersandi Project Mulgara.

Proyek yang diinisiasi tahun 1994 ini berupaya mencari bentuk sempurna dari LSRV (Light Surveillance and Reconnaissance Vehicle) 4×4 alias kendaraan intai untuk abad ke-21. Project Mulgara menggariskan bahwa LSRV harus memiliki unladen weight (bobot kendaraan di atas permukaan tanah, tanpa penumpang atau barang) maksimal 1,5 ton, mampu mengangkut beban 1,2 ton. Sebagai gambaran, rantis standar AD Australia saat itu yaitu Land Rover Parentie 4×4 mampu mengangkut beban sesuai syarat tersebut, namun bobotnya sudah 2,2-2,4 ton. Syarat lainnya adalah ground clearance 350mm, sudut masuk maksimal bisa 75o dan sudut tanjak 50o, dan mampu mengatasi rintangan vertikal setinggi 450mm. Kemampuan akselerasinya harus mampu digeber dari 0-100 km/ jam, itu dengan catatan menggunakan mesin diesel. LSRV harus mampu mempertahankan kecepatan jelajah sebesar 90km/ jam. Soal proteksi, LSRV boleh dipasangi pelat anti peluru dengan catatan tidak lebih dari bobot 200kg. Artinya, daya angkut bersih dari LRSV hanya 1 ton setelah dikurangi proteksi. Dengan syarat sulit seperti itu, tidak heran bahwa peserta program rata-rata menawarkan form factor desert buggy 4×4 seperti Chenowth FAV.

Secara total ada 14 perusahaan yang ikut serta, rata-rata dengan produk jagoannya. Yang patut dipuji, Dephan Australia mewajibkan seluruh perusahaan menggandeng partner lokal sebagai pelaksana produksi dan pabrikasi. Beberapa yang terkenal adalah AM General dengan Humvee yang dipangkas di sana-sini, ASVS-Reumech Afrika Selatan, Tickford-Ford, Martin Marietta-Chenowth, dan terakhir adalah British Aerospace Australia (BAeA) dan Singapore Technologies Automotive. Lucunya, ADI yang di Indonesia disebut sebagai produsen Flyer sebenarnya menggandeng perusahaan Raceco-HSMV dari Amerika Serikat!

Tender dilaksanakan pada pertengahan 1996, dan pada 1997 sejumlah kandidat yang masuk dalam pilihan (shortlist) diminta menyajikan kendaraan produksinya untuk diuji mendalam. Pengujian direncanakan akan dilakukan pada 1998 dan bila semuanya lancar, pilihan akan dibuat pada 1999 dan sebanyak 500 kendaraan akan dibeli untuk AD Australia, suatu jumlah yang cukup menggiurkan untuk kendaraan kategori rantis serbu. Sayangnya, kenyataan tak seindah harapan untuk para peserta program LSRV ini. Pemilu Australia 1996 yang menghasilkan kekalahan telak bagi Partai Buruh yang sudah berkuasa selama 13 tahun menyebabkan terjadinya perubahan besar pada kebijakan pemerintah. Berbagai program pertahanan, termasuk LRSV, ditunda dan dievaluasi efektivitasnya.

Pada 3 Oktober 1997, Pemerintah Australia yang baru membatalkan proyek ini dan menggabungkan kebutuhan LRSV tersebut ke dalam program Bushranger yang kelak menghasilkan kendaraan antiranjau Bushmaster. Akan halnya kendaraan purwarupa yang sudah diproduksi, banyak diantaranya dijual ke negara ketiga. Beberapa literatur menyebutkan bahwa ada dua negara di Asia yang tercatat membeli LRSV buatan ST Automotive-BAeA, salah satunya Indonesia, dan yang lain adalah Singapura. Negara Singa tersebut nampaknya tak mau menyia-nyiakan purwarupa yang sudah dibuat oleh ST Automotive sehingga lisensinya pun dibeli. Kadung basah, nyebur sekalian, mungkin itu pikiran yang muncul di benak petinggi AD Singapura. Memang, Flyer kemudian masuk jajaran aktif AD Singapura pada 1998, selisih satu tahun dari dimatikannya program Mulgara. Sementara untuk Indonesia, inilah yang dijual kepada Kopassus melalui jalur BAeA. Apalagi pada tahun-tahun tersebut, Indonesia getol mengakuisisi alutsista buatan British Aerospace mulai dari pesawat latih lanjut sampai dengan tank.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *