Aksi Heroik Gurkha Melibas Pasukan Indonesia dalam Dwikora

article-2590102-003E745C00000258-572_316x397

Akhir tahun 1964 menjadi awal berbaliknya kebijakan Inggris menghadapi aksi penyusupan sukarelawan Indonesia dalam kampanye Dwikora. PM Harold Wilson yang memegang kendali pemerintahan setelah memenangi pemilu, adalah pendukung berat persemakmuran dan cenderung hawkish. Wilson mengijinkan rencana Walter Walker untuk membuat Indonesia menelan pil pahitnya sendiri, dengan melakukan serangan melintasi perbatasan dan masuk ke wilayah Indonesia. Sandi operasi ini adalah Claret, yang belum semua informasinya boleh dibuka sampai dengan saat ini.

Biarpun Claret lebih ditujukan bagi SAS untuk melakukan inkursi dan sabotase di wilayah Indonesia, Gurkha ternyata juga dilibatkan dalam operasi yang membutuhkan banyak pasukan. Pada awalnya Claret hanya diotorisasi sejauh 3km dari garis perbatasan, lalu diperluas menjadi 10km, semua dilakukan tanpa pemberitahuan formal ke parlemen Inggris. Serbuan lintas batas Gurkha dilakukan pada Agustus 1964 dalam suatu serangan ke Nantakor, selatan Pensiangan. Dalam serangan yang dilakukan kompi A, 1/2nd Gurkha dibawah pimpinan Mayor Digby Willoughby berhasil menewaskan enam prajurit Indonesia dari Batalion 518. Inilah pertamakalinya dalam 20 tahun Gurkha kembali bertempur di tanah Indonesia. Pada Januari 1965, inkursi oleh pasukan Gurkha semakin berani.2/10th Gurkha melakukan pengintaian di desa Sadjingan yang dihuni oleh 100 jiwa. Lokasinya lebih kurang 5 km dari Biawak. Data intelijen awal menyebutkan bahwa ada 50 prajurit dari Batalion 428 Raider mendirikan bivak di desa tersebut, yang lokasinya terpisah dari rumah penduduk. Maka dilancarkanlah operasi Super Shell, serbuan 2/10th menyebabkan Indonesia kehilangan rute logistik melalui Sungai Koemba.

Tahun 1965 juga menandai perubahan peruntungan bagi Gurkha. Seiring dengan meningkatnya ancaman yang ditebar Indonesia, Inggris akhirnya memberikan perhatian penuh pada operasi mereka di Borneo. Setelah kunjungan Lord Louis Mountbatten yang merupakan Chief Defence Staff, Gurkha mendapatkan berbagai macam peralatan tempur baru. L1A1 SLR yang berat, panjang dan tidak sesuai dengan fisik mereka yang pendek dan gempal, digantikan dengan Armalite AR-15 5,56x45mm yang merupakan pendahulu dari M16. Senapan serbu alumunium ini begitu ringan, kurang dari 4kg sehingga lebih bersahabat dengan postur prajurit Gurkha. Senjata baru seperti pelontar granat M-79 ‘thumper’ juga diperkenalkan, termasuk ranjau antipersonil M18A1 Claymore yang sangat bermanfaat untuk menghambat kejaran pasukan lawan saat kembali ke wilayah Malaysia.

Peralatan baru ini dipergunakan dengan baik pada 21 November 1965, menjelang akhir-akhir masa konfrontasi. Pada hari itu, 2/10th Gurkha Rifle dibawah pimpinan Kapten ‘Kit’ Maunsell merencanakan operasi Timekeeper, yang didukung oleh kompi intai markas dan peleton pionir serang. Sasarannya adalah markas peleton tentara Indonesia –tidak ada keterangan dari unit apa, tapi kemungkinan dari Divisi Diponegoro-di Gunong Tepoi, 4km dari perbatasan. Lokasi markas tentara Indonesia di Gunong Tepoi terletak diatas bukit yang memiliki tiga tebing, dengan lembah disekitarnya masih tertutupi hutan primer yang lebat.

Lokasi Gunong Tepoi ditemukan oleh Letnan Ranjit Rai dari 7th Platoon, yang dengan segera dilaporkan dan diperiksa sendiri oleh Kapten Maunsell dan Letnan Bhagat Bahadur Rai. Kamp yang dibangun di Gunong Tepoi masih setengah jadi, puluhan orang terlihat tengah bekerja membangun rumah induk dari bahan kayu. Di bawah bukit tersebut ada desa kecil bernama Babang, 500 meter jaraknya dari posisi kamp. Kapten Maunsell melihat bahwa di Babang terdapat sejumlah bivak pasukan Indonesia, adapula mortir 60mm yang jadi ancaman bila Gurkha nanti mengundurkan diri.

Memanfaatkan situasi pasukan Indonesia yang kurang waspada, Kapten Maunsell memimpin Gurkhanya melancarkan serbuan pada pagi itu juga. Kompi bergerak kearah Barat, dengan iring-iringan Peleton ke 7, 8, Recce, dan 9 bergerak lincah namun tetap tenang. 800 meter dari sasaran, semuanya menyantap sarapan pagi dingin mereka, semua makan dengan tenang tanpa berbicara sepatah katapun. Kapten Maunsell yang memimpin di depan bersama tiga Gurkha membuka jalan menembus vegetasi hutan yang lebat. Mereka tidak menggunakan kukri atau parang; suara ayunannya akan terlalu menarik perhatian. Sebagai gantinya, mereka menggunakan gunting tanaman (secateurs), dari jenis yang sama dengan yang digunakan pembaca untuk memotong ranting tanaman di taman rumah. Menggunakan gunting tanaman tentu makan waktu lama, tapi senyap. Mereka membuka jalan sejauh 400 meter, sebelum akhirnya tiba di ujung hutan yang menghadap tebing selatan tepat pukul 13.30. Mereka merayap keatas bukit, dan hampir sampai di atas ketika seorang prajurit Indonesia muncul, mata bertemu mata, semua sama terkejutnya. Si prajurit Indonesia sibuk melepas tali sandang AK-47nya, ia pasti menyesali ketidaksigapannya saat timah panas dari AR-15 seorang Gurkha menembus tubuhnya dan menewaskannya. Tak ada gunanya lagi bersembunyi, Gurkha menerjang maju kedepan, empat-empat menaiki tebing yang landai itu. Peleton ketujuh melambung ke kiri; peleton kedelapan ke kanan dipimpin oleh Letnan Bhagat yang sukses mencapai parit pertahanan pertama. Letnan Ranjit melemparkan mills bomb alias granat ke satu pos senapan mesin yang sudah mulai menembak dengan gencar. Sementara itu, Kapten Maunsell merayap kedepan untuk mengevakuasi seorang Gurkha yang terkena tembakan.

Di sayap kiri, Lance Corporal Rambahadur Limbu menyelempangkan AR-15 dan mengambil alih Bren dari rekannya yang terluka. Ia berlari kencang menaiki bukit yang terbuka itu dan menggranat satu posisi lawan. Kedua rekannya yang luka tak bisa kemana-mana, hanya mampu bersandar dibawah sebatang pohon. LCpl Rambahadur Limbu secara perlahan merayap menuju ke posisi rekannya yang terluka dibawah siraman tembakan senapan mesin lawan, namun kemudian ia menyadari, hanya kecepatan yang bisa mengalahkan tembakan lawan. LCpl Limbu berlari bak kancil sejauh 70 meter untuk kemudian memanggul satu rekannya yang terluka di tengah terjangan timah panas lawan walaupun bebannya sendiri sudah berat. Waktu 20 menit dihabiskan untuk mengevakuasi kedua rekannya ke tepian hutan dimana mereka bisa beristirahat, namun sayangnya LCpl Limbu mendapati kedua rekannya sudah tewas kehabisan darah begitu sampai ke tepian hutan.

Dipenuhi amarah, Limbu berlari lagi ke arah atas, mendekati lokasi pasukan Indonesia. Tiba di parit , ia memastikan Bren yang ia ambil bisa ditembakkan, lalu maju menerjang dua posisi senapan mesin lawan, diikuti oleh rekan-rekannya. Limbu menghabisi empat prajurit Indonesia dari jarak dekat dengan Bren yang ia bawa, sampai akhirnya rekan-rekannya bisa mencapai puncak bukit. Kapten Maunsell memerintahkan para Gurkhanya untuk waspada, lawan dari desa Babang pasti mencoba menyerang balik. Serangan balik datang dengan lemah kearah pasukan dari peleton 9. Tembakan senjata ringan itu kentara arah datangnya dari asap mesiu yang melayang tipis. Kopral Krishnabahadur Rai kemudian melayaninya dengan tembakan balasan dari FN MAG GPMGnya, 150 butir peluru dihabiskan kearah datangnya tembakan lawan sampai tidak ada lagi balasan.

Sementara itu, Letnan Bhuwansing Limbu yang memimpin peleton intai memposisikan regunya menghadap ke tebing yang diduduki peleton 9. Benar saja, dua tentara Indonesia muncul, diikuti tiga lainnya, yang segera disapu habis oleh tembakan dari peleton intai. Serangan berikutnya datang dari tembakan mortir, namun itu juga dengan cepat dibalas oleh mortir 2in. yang dibawa oleh Gurkha, yang tepat mengenai tim mortir lawan karena kemudian tembakan balasan berhenti. Tiga orang prajurit Indonesia yang mencoba peruntungannya ternyata juga sial karena gugur bersimbah darah dihajar tembakan Gurkha. Kapten Maunsell yang mengamati situasi tidak mau mengambil resiko, dan memutuskan memanggil artileri untuk menghabisi desa Babang. Diluar perkiraan, perwira forward observernya salah mengkalkulasi koordinat sehingga tembakan pertama jatuh nyaris menimpa posisi Kapten Maunsell, pecahannya menancap ke pohon, hanya beberapa meter dari tempat berdiri Kapten Maunsell. FOOnya segera mengoreksi koordinat, dan sembilan tembakan berikutnya jatuh tepat di seluruh Desa Babang. Setelah keadaan tenang dan dipastikan tidak ada pergerakan lawan, Kapten Maunsell menarik mundur seluruh Gurkhanya, dan memanggil artileri sekali lagi untuk menghujani posisi diatas Gunung Tepoi tersebut. Dalam serangan brilyan ini, 2/10th kehilangan 3 prajuritnya, Rfn. Motilal Rai, Rfn. Bijuliprasad Limbu, dan Rfn. Kharkabahadur Limbu. Korban di pihak Indonesia menurut catatan Kapten Maunsell, sebanyak 24 orang. Atas keberaniannya, LCpl. Rambahadur Limbu direkomendasikan oleh Kapten Maunsell untuk dianugerahi Victoria Cross, medali penghargaan tertinggi untuk seorang prajurit ketentaraan Inggris. Kapten Maunsell sendiri, bersama Letnan Ranjit Rai, dianugerahi Military Cross. Dengan penganugerahan VC, LCpl. Rambahadur Limbu selama 40 tahun menjadi penerima VC terakhir yang menerimanya dalam keadaan hidup.

Pasca serangan besar tersebut, keterlibatan Gurkha dalam Claret mulai menurun, seiring mencairnya kebekuan hubungan Indonesia-Malaysia. Presiden Soekarno mulai goyah akibat Peristiwa 30 September. Front Borneo pun mulai tenang, kecuali beberapa operasi kecil seperti yang dilancarkan 1/10th Gurkha Rifles di Sungai Koemba pada Februari 1966, menewaskan 37 infiltran. Tanggal 25 Maret menjadi penanda operasi lintas batas terakhir Gurkha, ketika lima kompi dari 1/10th sudah ada disekitar markas tentara Indonesia dan tiba-tiba diperintahkan untuk mundur. Faktanya, dua minggu sebelumnya kekuasaan Presiden Soekarno secara de facto sudah jatuh ke tangan Mayjend. Soeharto, yang tidak menginginkan dilanjutkannya konfrontasi. Dari segi operasional, kampanye Konfrontasi merupakan puncak kejayaan Gurkha, mereka dimekarkan sampai setara Divisi dan mampu membuktikan dirinya sebagai pejuang rimba yang tangguh, walau notabene mereka lahir di kaki gunung Himalaya yang terletak di dataran tinggi. Gurkha menderita 40 prajurit gugur dan 83 terluka, suatu catatan prestasi tersendiri jika dibandingkan dengan jumlah lawan yang dapat mereka tewaskan (catatan resmi Inggris menyebutkan 590 tewas, 222 luka dan 771 tertangkap, Indonesia sendiri tidak memiliki catatan resmi mengenai jumlah infiltran dan prajurit TNI yang gugur dalam kampanye Dwikora). Ironisnya, pasca Konfrontasi kekuatan Gurkha justru semakin diperkecil, dan mereka tidak pernah dilibatkan kembali dalam konflik dengan skala dan intensitas yang sama seperti yang mereka hadapi di Borneo.

Rambahadur Limbu dilahirkan pada 8 Juli 1939 di desa Chyanthapu, wilayah Yangrop Thum, Limbuwan di Nepal Timur. Pengabdiannya dan kegigihannya untuk menyelamatkan rekan-rekannya yang terluka adalah tipikal seorang Gurkha, yang melakukannya tanpa pamrih. Jadi ketika Ratu Elizabeth II menganugerahinya Victoria Cross di Istana Buckingham, LCpl Rambahadur Limbu justru terkejut menyaksikan sambutan publik Inggris yang begitu meriah pada pahlawannya. Saat ia dibawa berkunjung ke London Stock Exchange pada jam pembukaan perdagangan, seluruh pialang disana menyambutnya dengan standing ovation selama tiga menit penuh dan tiga cheers. Sayangnya, dibalik seluruh kegembiraan itu tersimpan kesedihan pribadi. Tepat di hari penganugerahan medali VC, istri Rambahadur Limbu meninggal dunia karena sakit. Pada saat Rambahadur Limbu pulang ke Nepal untuk menghadiri upacara kremasi istrinya, medali VCnya yang tersimpan di tas malah dicuri saat perjalanan di kereta. Untunglah Inggris mau memberikan medali pengganti. LCpl. Rambahadur Limbu melanjutkan karirnya di AD Inggris sampai pensiun dengan pangkat kehormatan Kapten. Putranya melanjutkan tradisi pengabdian dalam gurkha, dan sekarang menjabat sebagai sersan di Gurkha Regiment.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *