Adu tinju kelas berat Mi-26 vs CH-47 untuk TNI AD: Anda Pegang yang Mana?

Salah satu berita yang cukup menyedot perhatian adalah rencana pembelian helikopter berat untuk TNI AD. Jika tahun lalu santer diberitakan bahwa Indonesia akan mengakuisisi CH-47F Chinook sebanyak empat buah, sekarang giliran muncul berita soal rencana mengakuisisi Mi-26T/T2 Halo. Keduanya sama-sama merupakan heli kelas paling berat yang operasional di Blok Barat dan Blok Timur, luas penggunaannya, dan dikenal sangat bandel.

Jika diumpamakan tinju kelas berat, CH-47D/F itu layaknya tokoh film fiksi Rocky Balboa: Lincah, penuh teknik canggih, dan trengginas. Mi-26 ya seperti Ivan Drago: Sangat bertenaga, mengandalkan pada ukuran tubuhnya yang besar, dan tangguh. Lalu bagaimana kinerjanya di dunia nyata? Apakah keduanya memang sama dan sebanding? Yuk simak saja perbandingannya :

versus halo

Jika IndoMIL boleh bertanya dengan jujur, sebagian besar pembaca pasti condong untuk memenangkan Mi-26. Helikopter ini terbang lebih jauh, mengangkut beban yang lebih berat, dan semua sudah pasti pernah melihat foto ‘kemenangan’ Mi-26 atas CH-47 yang ini :

Mi-26 yang disewa untuk mengangkut CH-47 milik AD AS yang mengalami kerusakan di Afghanistan
Mi-26 yang disewa untuk mengangkut CH-47 milik AD AS yang mengalami kerusakan di Afghanistan

Otomatis Mi-26 menang bukan? Jawabannya adalah BELUM TENTU.

Sejujurnya, kedua helikopter ini dibangun dengan fokus dan tujuan yang berbeda. Mi-26 adalah helikopter dengan kemampuan angkut super berat, yang mungkin tidak selalu muncul kebutuhannya karena bisa ditangani oleh helikopter yang lebih kecil. Jarak terbang Mi-26 memang sangat mengagumkan, nyaris tiga kali CH-47 karena banyaknya bahan bakar yang bisa dibawa. Jika TNI AD ingin memindahkan alutista seperti tank AMX-13/105, rantis anti ranjau Bushmaster Kopassus, panser Anoa, Meriam artileri 155mm K-79, atau bahkan menggunakannya untuk terjun payung massal, Mi-26 adalah jawabannya, baik melalui ruang kargonya yang masif, atau tergantung pada sling yang bisa diawasi dengan CCTV dari dalam kabin.

Helikopter ini didesain untuk angkut beban berat dari titik A ke titik B, dan tidak lebih. Jangan mengharapkannya sebagai angkutan untuk pasukan khusus untuk misi insersi ke garis belakang lawan, atau menjemput pasukan kawan yang terjepit di garis depan. Heli ini terlalu besar dan berat, dan merupakan mangsa yang empuk untuk dihajar dengan kanon anti pesawat atau rudal pencari panas karena ukurannya yang masif. Namun begitu, harganya cukup murah. Harga satu unit CH-47 bisa digunakan untuk membeli 2 unit Mi-26.

Saat digunakan untuk operasi HA/DR (Humanitarian Assistance/ Disaster Relief) atau penanganan bencana, Mi-26 jelas sangat bermanfaat karena mampu mengangkat sebegitu banyak beban. Tapi saat sudah berada di dropping zone, pilot dan load master harus berhati-hati. Karena ukuran rotornya yang masif, downwash yang dihasilkan sangat besar, bahkan bisa mencapai 80 kilometer per jam. Ditambah lagi, Pilot juga harus piawai berhitung, karena Mi-26 sangatlah haus dalam menenggak bahan bakar. Mencari bahan bakar sebanyak 20 ribu liter di wilayah bencana bukan hal yang mudah, apalagi mengisikannya ke Mi-26 dengan menggunakan drum dan pompa tangan…

Sementara untuk CH-47, helikopter ini memang ukurannya lebih kecil, tetapi lebih lincah juga. Dengan konfigurasi rotor kontra rotasi, penempatan bobot dan perubahan titik gravitasi (misal, beban yang berayun pada sling karena angin dengan kecepatan tertentu), tidak terlalu mempengaruhi olah gerak helikopter. Downwash yang dihasilkan juga relatif pelan, karena efek yang saling men-cancel antar putaran baling-baling. CH-47 juga mampu mengapung di atas permukaan air selama beberapa waktu tertentu., dan mampu mengeksekusi manuver unik seperti Pinnacle yang hanya mengandalkan tumpuan pada roda belakang untuk berpijak di tanah dan memampukan pasukan kawan di darat untuk segera masuk dan CH-47 lepas landas kembali. Mi-26 tidak bisa mengeksekusi manuver semacam ini. Dari segi kemampuan angkut beban, skenario penggunaan CH-47 akan lebih sering digunakan dibandingkan saat kemampuan angkut beban super berat Mi-26 baru diperlukan. Namun begitu, pendukung CH-47 jangan berpuas hati dulu. Biaya operasi CH-47 tidaklah murah, terutama untuk material fast moving seperti berbagai minyak pelumas yang dibutuhkannya untuk operasional.

Manuver Pinnacle andalan CH-47, dilakukan di area yang tidak mungkin atau terlalu berbahaya untuk didarati
Manuver Pinnacle andalan CH-47, dilakukan di area yang tidak mungkin atau terlalu berbahaya untuk didarati

Terakhir, pembaca pilih yang mana? Kedua helikopter ini memiliki keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Dan jika melihat track record bagaimana TNI memilih alutsistanya, IndoMIL tidak heran bila nantinya akan ada Skadron helikopter angkut berat komposit yang menggabungkan antara Mi-26 dan CH-47. Apakah TNI AD sudah siap dan berhitung dengan lonjakan beban operasional yang dibutuhkan untuk mengoperasikan helikopter ini? Kita doakan saja iya.

Comments

comments

One thought on “Adu tinju kelas berat Mi-26 vs CH-47 untuk TNI AD: Anda Pegang yang Mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *