Adu Spek Il-476 vs A400M vs C130J-30

Menyambung tulisan terakhir mengenai Il-476/ Il-76/MD-90A yang layak dipertimbangkan sebagai kandidat pesawat angkut berat untuk TNI AU, berikut penulis sajikan Adu spesifikasi antara tiga kandidat pesawat yang pernah digadang-gadang dan bahkan disebut sebagai kandidat pengganti varian C-130B yang akan dipurna tugaskan. Di antara ketiganya, Il-476 tampil sebagai pesawat dengan kapasitas angkut terberat, mampu membopong beban sampai dengan 60 ton. Hal ini memungkinkan Il-476 untuk membawa alutsista sampai sekelas MBT (Main Battle Tank).

Baca :Il-476 Dilirik untuk TNI AU

Komparasi tiga kandidat
Komparasi tiga kandidat

India sudah pernah mengangkut T-72 dengan Il-76, jadi untuk Il-476 yang naik daya angkutnya, hal ini tidak menjadi masalah. Bisa jadi T-72 varian terbaru malah bisa dibawa, karena tonase angkutnya yang lebih besar. Atau kalau mau diskenariokan dengan kenyataan yang ada, Il-476 dapat mengangkut sampai 3 unit panser Pindad Anoa APS-2/3 yang dimiliki oleh TNI AD. Artinya, apabila dibeli utuh 1 skadron dengan 12-16 pesawat, Il-476 dapat memobilisasi satu batalyon infantri mekanis lengkap dengan peralatan pendukung dan pasukannya. Skenario ini akan lebih mungkin terjadi di wilayah TImur Indonesia yang infrastruktur jalan raya dan jembatannya masih terbatas, sehingga ketergantungan pada jembatan udara akan lebih besar.

A400M masuk ke dalam posisi kedua, dengan kemampuan gotong beban sampai 37 ton. Secara teoritis, A400M memiliki volume kargo sampai 340m2, malah lebih besar dari Il-476. Namun begitu, volume ini didapat dari tinggi ruang kargo yang sampai 4 meter, tetapi panjangnya hanya 22,9 meter atau selisih 1,5 meter lebih pendek dari Il-476. A400M dapat membawa sampai 2 unit Panser Anoa, dengan selisih ruang tersisa dapat diisi dengan peralatan atau material logistik. Namun begitu, ada satu kuncian yang terlupa: begitu TNI AD mulai mengoperasikan medium tank, kisaran bobotnya nanti akan bermain di kelas spektrum akhir dari 30 ton, atau bahkan bisa menembus 40 ton. Hal ini akan membuat margin yang cukup beresiko pada A400M, yang kapasitas angkut beban maksimalnya hanya 37 ton. Departemen Pertahanan perlu melihat solusi holistik dari kebutuhan TNI, dimana alutsista angkut berat yang dimiliki oleh TNI AU pun harus mampu mendukung mobilisasi alutsista berat, tidak sekedar membawa pasukan infantri.

Terakhir, jangan lupakan C-130J-30. Walaupun tonase, jarak tempuh, dan kapasitas ruang kargonya terkecil, Super Hercules memiliki lineage dari C-130H Hercules, dimana TNI AU sudah sangat familiar dengan pesawat yang satu ini. Keunggulannya, apabila TNI AU membeli C130J-30, konversi pilotnya akan berlangsung dengan lebih mudah, walaupun dari sisi logistik tetap akan ada pekerjaan rumah yang besar karena sebagian besar suku cadang, termasuk mesin, berbeda dengan C-130H yang sudah ada. Harga C-130J-30 juga terhitung paling murah, dan jika menggunakan hitungan realistis, peluang Super Hercules tetaplah besar.

Terakhir, jangan lupakan faktor pembiayaan. Produsen dan agen yang mampu menyediakan pembiayaan termurah (ingat, bukan semata faktor bank garansi), bisa jadi akan menjadi faktor penentu yang mengalahkan segala macam keunggulan spek di atas kertas. Catat, Indonesia hampir tidak pernah membeli alutsistanya secara kontan. Oleh sebab itu, Departemen Keuangan akan secara cermat menghitung pembiayaan yang diperlukan untuk mengadakan alutsista. Selain itu jangan lupa, diluar harga beli, biaya operasional per jam terbang sudah pasti akan diperhitungkan secara cermat, plus biaya perawatan untuk mendapatkan total cost of ownership yang menyeluruh. Dan ini bukanlah informasi yang dapat diperoleh di media cetak, dan merupakan rahasia yang dipegang erat pabrikan. Pesawat Blok Timur dikenal cukup boros biaya perawatan dan umur airframe yang pendek, walaupun belum tentu terjadi pada Il-476. Jadi kita tunggu saja, karena jalan persaingan masih panjang.

Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *